<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-560609633182921938</id><updated>2012-01-30T01:56:30.709+08:00</updated><category term='Ekonomi'/><category term='Keislaman'/><category term='Pendidikan'/><category term='Mahasiswa'/><category term='Profil'/><category term='Filsafat'/><category term='Sosial'/><category term='Politik'/><category term='Lingkungan Hidup'/><category term='Hubungan Internasional'/><category term='Sastra'/><title type='text'>Melawan dengan Tulisan</title><subtitle type='html'>Kumpulan Catatan, Pemikiran, dan Gagasan Ahmad Rizky Mardhatillah dari berbagai bidang analisis: filsafat, politik, sosial, hubungan internasional, hingga agama. Melawan dengan pena. Menyingkap makna dibalik tindakan. Menggagas yang tak pernah terpikirkan. "Kami adalah orang-orang yang berpikir dan berkendak merdeka". Selamat Membaca!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Ahmad Rizky Mardhatillah Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01386471685667584378</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_cgbKwDZI1UU/SHWFzmBsWcI/AAAAAAAAAB4/HMlwHe3Uw3s/S220/1_617762489l.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>241</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-560609633182921938.post-7667273704069847237</id><published>2012-01-08T23:58:00.001+08:00</published><updated>2012-01-09T00:00:04.633+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mahasiswa'/><title type='text'>Mencari 'Oposisi' di KM UGM</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Di  kampus kami, saat ini sepertinya pembicaraan mengenai 'oposisi' sedang  hangat. Pasca-Pemira, pembicaraan soal oposisi akan berkaitan dengan BEM  KM UGM yang tak lagi 'dikuasai' oleh rezim lama,&amp;nbsp; 'kue' kekuasaan yang  tak melibatkan partai itu, serta&amp;nbsp; kabar-kabar lain. Tapi tentu saja  belum ada kepastian karena pernyataan sikap masing-masing partai belum  diluncurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemira 2012 memang mengubah peta politik  kampus. Partai Bunderan yang selama 13 tahun mendominasi KM UGM akhirnya  harus kalah oleh kandidat dari partai lain. Prasangka publik tentu  mengarah pada partai yang baru saja jatuh itu: apakah akan tampil  sebagai oposisi, sebagaimana sering diisukan, atau masuk pemerintahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan  ini menjadi tak terhindarkan manakala Kongres KM UGM tengah berlangsung  dua hari ini. Walau komposisi politik masih belum jelas, sinyalemen  tidak &lt;i&gt;match-&lt;/i&gt;nya komunikasi politik Bunderan dengan partai koalisi pendukung Giovanni van Empel -Presiden terpilih- cukup santer terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak akan berkomentar banyak soal peta politik. Pertanyaannya, apa &lt;i&gt;sih &lt;/i&gt;sebenarnya  makna menjadi 'oposisi' itu? Apakah beroposisi sekadar menampilkan  sikap berbeda dengan pihak&amp;nbsp; yang sedang memegang kendali kuasa? Perlukah  oposisi dalam seting demokrasi? Dan mengapa harus ada 'oposisi', jika  pertanyaan sebelumnya dijawab dengan afirmasi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kontestasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Diskursus  mengenai oposisi pasti disandingkan dengan 'koalisi'. Istilah ini  biasanya ada dalam negara berseting politik dua partai atau parlementer  dan menjadi konsekuensi logis atas proses demokrasi yang diterapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robert  Dahl menyebut dua prasyarat demokrasi: partisipasi dan kontestasi.  Adanya kontestasi yang dibalut oleh partisipasi masyarakat dalam  menentukan pilihan politiknya merupakan syarat berjalannya demokrasi.  Kontestasi politik mengimplikasikan adanya pihak yang menang dan pihak  yang kalah. Dalam logika demokrasi, adanya pihak yang mendapatkan  kekuasaan dan pihak yang tidak &lt;i&gt;kebagian &lt;/i&gt;jatah kekuasaan merupakan sesuatu yang sah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena demokrasi mensyaratkan adanya kontestasi, proses politik yang &lt;i&gt;demokratis &lt;/i&gt;pun harus memiliki prasyarat kompetisi antara kekuatan yang ada. Seting demokrasi dua partai menyebabkan kompetisi menjadi &lt;i&gt;vis-a-vis&lt;/i&gt;:  pasti ada yang menang dan mendapatkan jatah kekuasaan, ada pula yang  kalah dan harus berada di luar kekuasaan. Kekuatan kedua inilah yang  kemudian disebut sebagai 'oposisi'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam logika demokrasi  dua partai, oposisi menjadi sebuah keniscayaan. Bagaimana dengan sistem  multipartai? Secara teoretik, jika partai pemenang Pemilu gagal meraih  jumlah kemenangan minimal yang ditetapkan untuk membentuk kabinet,  secara otomatis akan terbuka peluang untuk membentuk koalisi. Menurut  Arend Lijphart, ada empat tipe koalisi yang biasa dilakukan, dari &lt;i&gt;minimum winning coalition &lt;/i&gt;yang lebih realistis pada kekuatan kursi sampai &lt;i&gt;minimum range coalition &lt;/i&gt;yang lebih ideologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas,  tidak semua partai berkoalisi karena ada 'hambatan ideologis' atau  'hambatan politis' yang memisahkan kedua kepentingan. Inilah yang  kemudian menjadi oposisi. Kekuatan oposisi tidak selalu kuat, tetapi  juga tidak mesti lemah. Kadang kala mereka berimbang. Tetapi, dialektika  keduanya tetap terus terjadi sepanjang pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  logika ini, oposisi menjadi logis dalam seting demokrasi. Lantas,  mengapa di Indonesia oposisi cenderung lemah? Hanta Yuda (2010)  memberikan sedikit jawaban: karena sistem presidensial di negara kita  tidak &lt;i&gt;match &lt;/i&gt;dengan sistem multipartai yang diterapkan.  Akibatnya, potensi partai bermain dua kaki menjadi sangat besar. Oposisi  menjadi 'absurd'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika menggunakan skema di Australia,  misalnya, partai oposisi dan pemerintah selalu terlibat perdebatan dalam  setiap UU yang akan digolkan. Kita ambil contoh semisal UU Pajak Karbon  yang menimbulkan perdebatan hangat di parlemen. Pemerintahan Julie  Gillard yang mem-&lt;i&gt;propose &lt;/i&gt;rancangan UU tersebut harus berhadapan  dengan respons dan reaksi keras kaum industriawan yang  direpresentasikan oleh kelompok liberal pimpinan Tony Abbott. Kedua  partai menampilkan sikap yang tegas: tolak atau terima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan  logika dua partai semacam ini, oposisi menjadi sehat. Sebab, mereka  terlembaga dalam sebuah kontestasi politik yang sah dalam pengambilan  keputusan. Sebuah keputusan politik tidak lahir begitu saja. Ada  artikulasi kepentingan yang disuarakan, dan menjadikan proses politik  menjadi dinamis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Salah Paham&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya,  apakah di kampus kami -UGM- selama ini oposisi terlembaga dan berjalan  optimal? Saya menjawab tidak. Sebab, selama ini oposisi disalahpahami  sebagai kekuatan yang 'asal beda' tanpa mampu menawarkan sesuatu yang  lebih konkret untuk menjadi sebuah program.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks KM UGM, ketiadaan oposisi yang kuat dapat dilacak pada dua sebab. &lt;i&gt;Pertama, &lt;/i&gt;karena sistem yang diterapkan di KM UGM tidak membuka ruang perdebatan dialektis atas program yang diajukan oleh BEM. &lt;i&gt;Kedua, &lt;/i&gt;karena memang ada salah paham mengenai makna oposisi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada level &lt;i&gt;realpolitik &lt;/i&gt;di  aras negara, perdebatan antara partai pemerintah dan partai oposisi  selalu terjadi pada wilayah UU yang menjadi dasar dari kerja pemerintah.  Sementara pada level kampus, apakah perdebatan itu terjadi secara  programatik antara legislatif dan eksekutif? Apakah program kerja BEM  jelas proses seleksi dan pertanggungjawabannya? Wilayah apa yang menjadi  &lt;i&gt;domain &lt;/i&gt;pengawasan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal semacam ini  sederhana, tapi penting untuk dilakukan. DPM kehilangan fungsi  pengawasan karena memang program BEM tidak melalui proses &lt;i&gt;scanning &lt;/i&gt;dan  perdebatan di parlemen terlebih dulu. Partai-partai di DPM tidak jelas,  mana yang berkoalisi dan mana yang sejati beroposisi. Atau, tidak jelas  kepentingan apa yang diperjuangkan untuk koalisi dan kepentingan apa  yang menyatukan untuk koalisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ketidakjelasan  tersebut, DPM dan DPF menjadi minim perdebatan. Akhirnya, alih-alih  menyeleksi dan memperdebatkan program-program BEM KM UGM, DPM dan DPF  justru menjadi &lt;i&gt;Event Organizer.&amp;nbsp;&lt;/i&gt; Kendati tidak ada larangan, tentu saja hal ini menjadi sebuah titik kritis tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya  beberapa masalah yang seharusnya bisa diselesaikan dalam perdebatan  internal di KM UGM sendiri, seperti dalam kasus studi banding ke  Malaysia, harus diambil oleh kalangan Pers Mahasiswa. Atau dalam hal  advokasi KIK yang digawangi kawan-kawan Gertak. Kalangan masyarakat  sipil seperti pers, gerakan ekstra, atau komunitas wajar saja mengemban  fungsi oposisi. Yang tidak wajar adalah jika tidak ada oposisi di tubuh  parlemen mahasiswa sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berarti, program  pendidikan politik yang diinginkan oleh para senior ketika merumuskan  sistem kepartaian mahasiswa belasan tahun silam menjadi tidak tercapai.  Apakah &lt;i&gt;pure &lt;/i&gt;salah DPM? tentu tidak. Saya lebih cenderung untuk melihat ini sebagai kegagalan sistem KM UGM saat ini meng-&lt;i&gt;create &lt;/i&gt;oposisi  yang sehat dan serius. Jika oposisi diambil oleh kekuatan ekstra-KM  UGM, artinya ada sesuatu yang harus segera dibenahi oleh KM UGM sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Oposisi Sehat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jika  konsisten dengan wacana 'oposisi', semestinya hal-hal sepele seperti  pengawasan dan seleksi program BEM yang menyangkut hajat mahasiswa harus  diperhatikan. Fungsi legislasi harus diejawantahkan dengan membentuk  mekanisme yang sehat, semisal UU yang terkait dengan kebijakan internal  kampus atau eksternal kampus, UU transparansi keuangan, atau pengawasan  per departemen yang lebih komprehensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini akan  membangkitkan semangat BEM dan partai pendukung pemerintahannya untuk  dapat mencari argumentasi yang benar-benar rasional atas pilihan  programnya, disamping juga meningkatkan profesionalisme dan etos kerja.  Dialektika antara BEM dan DPM menjadi terbangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tentu  saja, artinya kebutuhan akan 'oposisi' menjadi terjawab. Tidak mungkin  semua partai mendukung program dan kebijakan BEM. Pasti ada partai yang  menolak. Hasilnya adalah perdebatan dan proses politik yang demokratis.  Konsekuensi yang dimunculkan adalah tanggung jawab dari semua legislator  untuk aktif sebagai bagian dari penentu kebijakan KM UGM ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan  demikian, Kongres perlu dimaknai sebagai upaya untuk mencari 'oposisi  sehat' di KM UGM sendiri untuk mengawal setiap kebijakan BEM KM UGM  dalam kerangka kritik yang konstruktif. Maksudnya, perlu ada  perdebatan-perdebatan hangat di parlemen (DPM dan DPF) terkait kebijakan  BEM. Di sinilah pentingnya membangun mekanisme komunikasi baru dalam  wujud perbaikan AD/ART yang selama ini menjadi konstitusi KM UGM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun  2012 sebenarnya adalah momentum tumbuhnya 'oposisi' baru. Sebab, partai  yang selama ini menjadi 'rezim' harus tumbang pada adiknya. Tetapi,  kekuatan partai penyokong pemerintahan yang tidak menjadi mayoritas -ini  menariknya- menyebabkan harus terjadi koalisi di DPM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika  Partai Bunderan yang kalah Pemira mau beroposisi, kemungkinan adanya  perdebatan yang dialektis akan kuat. Asalkan didukung oleh 'menteri  bayangan' yang kuat, oposisi yang dicita-citakan akan menjadi lebih  berbasis program, rinci, dan ilmiah. Ini akan menjadi pendidikan politik  yang baik bagi mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua hal tersebut akan dapat  terwujud manakalah ada niat baik dari partai oposisi untuk benar-benar  serius beroposisi, bukan sekadar 'mengganggu' jalannya pemerintahan  dengan isu-isu atau permainan klaim. Oposisi adalah kerangka upaya  membentuk KM UGM yang kuat dan profesional, bukan untuk merebut  kekuasaan dengan cara-cara salah. Kerangka oposisi adalah kerangka  perdebatan yang sehat di parlemen untuk men-&lt;i&gt;scan &lt;/i&gt;program atau kebijakan yang ditawarkan oleh BEM KM UGM dalam bentuk UU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak  ada yang salah untuk menjadi oposisi. Justru kita perlu oposisi.  Pertanyaannya, mampukah kita beroposisi secara serius dengan pendekatan  yang lebih ilmiah? Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat berkongres, kawan-kawan!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/560609633182921938-7667273704069847237?l=ibnulkhattab.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/feeds/7667273704069847237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=560609633182921938&amp;postID=7667273704069847237' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/7667273704069847237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/7667273704069847237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/2012/01/mencari-oposisi-di-km-ugm.html' title='Mencari &apos;Oposisi&apos; di KM UGM'/><author><name>Ahmad Rizky Mardhatillah Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01386471685667584378</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_cgbKwDZI1UU/SHWFzmBsWcI/AAAAAAAAAB4/HMlwHe3Uw3s/S220/1_617762489l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-560609633182921938.post-758661003044412122</id><published>2011-12-30T23:37:00.001+08:00</published><updated>2011-12-30T23:48:27.091+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mahasiswa'/><title type='text'>Dari Warung Susu ke Gelanggang Mahasiswa (Bagian 4-Habis)</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;h2 class="uiHeaderTitle"&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clearfix" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;div class="mbs uiHeaderSubTitle lfloat fsm fwn fcg"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Majunya Sinyo sebagai capresma tentu di luar perkiraan banyak pihak. Apalagi dengan FLP yang menjadi kendaraan politik. Sebab, FLP digawangi oleh salah satu Menteri (Ketua Departemen) di BEM KM UGM, Zaki. Tetapi sampai verifikasi usai, keputusan maju tetap dijalankan. Jadilah tahun ini mengulang sejarah tahun 2007, ketika waktu itu Reza Ikhwan yang dicalonkan FLP tampil menantang Budiyanto, capres dari Partai Bunderan. Hasilnya memang berpihak pada Bunderan waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan maju Giovanni van Empel langsung diiringi oleh konsolidasi tim. Ivan langsung bergerak merekrut tim kampanye dari beragam latar belakang. Tim Desain dan 'Media Promosi' memang punya keahlian desain poster yang prima. Juga dengan &lt;i&gt;backup &lt;/i&gt;beberapa senior seperti Agung Baskoro, Lakso Anindito (yang mendukung jauh-jauh dari Jakarta), serta beberapa senior lain. Walaupun, saya harus mundur dari tim kampanye karena posisi saya di KAMMI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun apa yang terjadi setelahnya di tim kampanye Sinyo, saya tidak mengetahui. Sebab, posisi saya sebagai Pengurus Harian KAMMI UGM juga mengharuskan saya mengambil jalan berbeda. Apalagi setelah Ivan memutuskan untuk mundur dan fokus di tim kampanye Sinyo. Saya dan beberapa kawan yang mengambil posisi 'jalan tengah' akhirnya lebih memutuskan untuk membereskan urusan di dalam KAMMI sendiri sembari mempersilakan kedua kubu, baik Sinyo maupun Aufa, untuk saling berkompetisi dalam kampanye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak ingin berkomentar banyak lagi soal Pemira. Yang jelas, hasilnya sudah anda saksikan bersama-sama. Sinyo menang, mengakhiri dominasi tanpa henti Partai Bunderan -ataupun mesin di belakangnya- selama 13 tahun. Hasil kerja keras yang brilian dari tim kampanye, salut untuk mbak Uswah dan kawan-kawan yang sudah sangat profesional Tentu saja mengguratkan kekecewaan berat di kawan-kawan Partai Bunderan atau 'syuro' yang berada di belakangnya (politbiro).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, adalah sebuah kekeliruan jika ada yang mengatakan bahwa kemenangan kawan Giovanni van Empel adalah kemenangan citra dan penampilan fisik. Atau, "sekadar bungkus", memilih karena popularitas semata. Tentu saja tidak. Ini adalah momentum yang dibangun dan disiapkan dari hasil diskusi-diskusi sejak satu setengah tahun lalu. Meminjam istilah Rijalul Imam, momentum itu tidak hadir begitu saja, melainkan disiapkan dari kerja-kerja nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami masih ingat, Lingkar Studi Bulaksumur lahir bukan dari sebuah konsolidasi politik yang kompleks. Jika Partai Bunderan lahir dari aksi massa tahun 1998, kami lahir dengan cara yang lebih sederhana: obrolan di warung susu seberang Indomaret Pandega Marta. Di lokasi itulah, diiringi rintik hujan yang cukup deras di malam minggu tanggal 19 Desember 2010, kami merumuskan pandangan kami soal landasan nilai yang akhirnya kita deklarasikan bersama-sama keesokan harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-oDQ-TExzslQ/Tv3dNIVMB9I/AAAAAAAAAMA/8K9TOVEZJR8/s1600/230258_129129477164333_100002018431564_190221_4572208_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-oDQ-TExzslQ/Tv3dNIVMB9I/AAAAAAAAAMA/8K9TOVEZJR8/s320/230258_129129477164333_100002018431564_190221_4572208_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Dan persis satu tahun setelah didirikan, 22 Desember 2011, LSB menemui momentumnya yang pertama: kemenangan politik Giovanni van Empel di Pemira. Tentu saja ini baru awalan. Bagi kami, keberhasilan ini justru adalah tamparan besar: mampukah BEM KM UGM benar-benar didekonstruksi -meminjam istilah Yusuf Maulana- untuk mengganti tradisi yang sangat 'political' menjadi BEM KM yang lebih 'intelectual'?&amp;nbsp;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu harapan itu masih ada. Dan akhirnya, tantangan yang membentang ke depan itu harus dijawab. Nietzsche sudah mengajarkan kita untuk menjadi seorang &lt;i&gt;ubermensch; &lt;/i&gt;manusia yang berani mengafirmasi tantangan hidup dan menjawab 'ya' pada segala macam keluh kesah tentang kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan bukan terletak pada 'siapa yang memimpin', tapi pada 'apa yang akan dibawa pada masa kepemimpinan itu'. '&lt;i&gt;Ala kulli hal, &lt;/i&gt;saya hanya bisa berucap: &lt;i&gt;innalillahi wa inna ilaihi raji'un &lt;/i&gt;atas terpilihnya Giovanni van Empel dalam Pemira 2011. Semoga mampu membumikan nilai-nilai kecendekiaan Gadjah Mada, serta meneruskan rantai intelektualitas yang telah terbangun dan terjalin dari era Sardjito, Koesnadi Hardjasoemantri, Kuntowijoyo, Ahmad Wahib, Dawam Rahardjo, hingga Anies Baswedan yang terkemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEM KM UGM adalah warisan sejarah. Dan seperti kata Hasanudin Abdulrakhman, seorang senior di Jama'ah Shalahuddin, lembaga publik seperti JS atau BEM sejatinya adalah ruang, bukan subjek. Mampukah ruang itu diwarnai dengan intelektualitas, bukan sekadar kepentingan politik? Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Nashrun minallah wa fathun qariib.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(habis)&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/560609633182921938-758661003044412122?l=ibnulkhattab.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/feeds/758661003044412122/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=560609633182921938&amp;postID=758661003044412122' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/758661003044412122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/758661003044412122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/2011/12/dari-warung-susu-ke-gelanggang_8705.html' title='Dari Warung Susu ke Gelanggang Mahasiswa (Bagian 4-Habis)'/><author><name>Ahmad Rizky Mardhatillah Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01386471685667584378</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_cgbKwDZI1UU/SHWFzmBsWcI/AAAAAAAAAB4/HMlwHe3Uw3s/S220/1_617762489l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-oDQ-TExzslQ/Tv3dNIVMB9I/AAAAAAAAAMA/8K9TOVEZJR8/s72-c/230258_129129477164333_100002018431564_190221_4572208_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-560609633182921938.post-2307584642669116851</id><published>2011-12-30T23:35:00.002+08:00</published><updated>2011-12-30T23:47:42.179+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mahasiswa'/><title type='text'>Dari Warung Susu ke Gelanggang Mahasiswa (Bagian 3)</title><content type='html'>&lt;div class="clearfix" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;div class="mbs uiHeaderSubTitle lfloat fsm fwn fcg"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dengan kesibukan masing-masing personnel, agenda diskusi memang sempat mengalami kevakuman. Tapi aktivitas intelektual bukan berarti mati. Mei 2011, tulisan saya dan Sinyo lolos di Kongres Pancasila III, dipresentasikan di panel Kongres. Saya memutuskan berangkat ke Surabaya. Sinyo tak jadi berangkat karena ada &lt;i&gt;paper &lt;/i&gt;lain yang harus dikerjakan. Ajang Kongres Pancasila ini menjadi sarana berharga untuk 'memberi tahu' publik tentang keberadaan Lingkar Studi Bulaksumur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fokus dari Lingkar Studi Bulaksumur memang literasi, penulisan. Kami menerbitkan sebuah buletin 'Simpul Bulaksumur' yang menyebarkan pemikiran kami di kalangan mahasiswa. Ivan Nashara yang memang malang melintang sebagai Wakil Menteri Humas BEM KM yang menjadi penanggung jawabnya. Sempat terbit beberapa kali walau masih 'istirahat' beberapa bulan terakhir ini. Cukup merepresentasikan profil literer. Keberadaan buletin juga disupport oleh aktivitas penulisan aktivis-aktivisnya di media massa maupun media sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-BMBajLvM3_k/Tv3dENDFY9I/AAAAAAAAAL0/bnCU6_nx6wo/s1600/230258_129129477164333_100002018431564_190221_4572208_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-BMBajLvM3_k/Tv3dENDFY9I/AAAAAAAAAL0/bnCU6_nx6wo/s320/230258_129129477164333_100002018431564_190221_4572208_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Dari mana kami mendapatkan dana untuk aktivitas ini? Kebetulan, kami punya seorang rekan yang membuka usaha distro, yang siap memberikan &lt;i&gt;backup &lt;/i&gt;finansial untuk aktivitas intelektual kami. Jadilah, penerbitan buletin, diskusi, selain dibiayai secara mandiri oleh masing-masing pegiat, juga ditopang oleh pendanaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas-aktivitas intelektual ini, meski sederhana, di luar dugaan mengundang apresiasi positif beberapa pihak. Berkali-kali, ketika saya berkunjung ke UI, UNS, Unair, Unibraw, dan beberapa kampus lain, kawan-kawan saya di sana bertanya banyak soal LSB. Rupa-rupanya, kehadiran LSB sudah 'tercium' ke kampus-kampus yang jauh itu. Entah berita yang datang nadanya positif atau negatif, saya tak tahu persis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan seorang senior KAMMI, ketika berbicara di &lt;i&gt;launching &lt;/i&gt;kepengurusan KAMMI, memuji-muji komunitas ini. Senior itu memang luar biasa kontribusinya terhadap penguatan intelektual di KAMMI. Padahal banyak kawan-kawan di KAMMI sendiri yang tak begitu bagus responsnya terhadap LSB, masih menuding &lt;i&gt;political &lt;/i&gt;dan lain sebagainya. Bagi kami, meski tidak begitu memedulikan hal tersebut, tetap memberi semacam semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati demikian, tak dapat dipungkiri jika kami memang aktivitas LSB agak vakum di pertengahan tahun 2011 karena kesibukan anggotanya. Ini menjadi evaluasi tersendiri. Hingga akhirnya, datanglah penghujung tahun 2011. Lagi-lagi, kita dihadapkan pada sebuah momentum rutin: Pemira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa aktivis LSB yang sempat sibuk di luar kemudian mulai berkumpul. Apa yang harus dilakukan? Apakah tetap berkompetisi di Pemira sebagaimana sempat direncanakan sebelumnya? Kegalauan yang sempat menghampiri tahun sebelumnya, kembali muncul. Seberkas optimisme muncul: memang harus ada yang digerakkan untuk membenahi BEM KM UGM ke depan, agar tidak semakin diperburuk oleh 'rezim' yang saat ini dominan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui, tahun 2012 adalah tahun penting, dalam bacaan kami, bagi gerakan mahasiswa ke depan. Tahun ini adalah tahun Pemilihan Rektor UGM, yang akan menentukan kebijakan UGM selama 5 tahun ke depan. Di level nasional, kekuatan yang akan mempersiapkan diri untuk 2014 sudah mulai bermain, yang dikhawatirkan akan mencoba membajak gerakan mahasiswa. Ada RUU PT yang menunggu pengesahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berpikir, apa yang akan terjadi tahun depan? Partai Bunderan yang kali ini disokong oleh mesin politiknya telah secara resmi mencalonkan Aufa Taqiya sebagai Calon Presiden Mahasiswa. Mereka mendaftarkan diri dan membentuk &lt;i&gt;Lajnah Suksesi Pemira. &lt;/i&gt;Konsolidasi di dalam sudah sedemikian rupa, untuk mengamankan posisi di PILREK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, setelah serangkaian diskusi dan konsolidasi, kawan-kawan sepakat untuk mengusung Giovanni van Empel sebagai calon presiden mahasiswa. Partai FLP siap menampung Sinyo untuk menjadi kendaraan politik. Sinyo mendaftarkan diri sebaga capresma di malam terakhir. Dan akhirnya, ada 5 calon yang berlaga dengan macam-macam latar belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(bersambung)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/560609633182921938-2307584642669116851?l=ibnulkhattab.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/feeds/2307584642669116851/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=560609633182921938&amp;postID=2307584642669116851' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/2307584642669116851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/2307584642669116851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/2011/12/dari-warung-susu-ke-gelanggang_6004.html' title='Dari Warung Susu ke Gelanggang Mahasiswa (Bagian 3)'/><author><name>Ahmad Rizky Mardhatillah Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01386471685667584378</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_cgbKwDZI1UU/SHWFzmBsWcI/AAAAAAAAAB4/HMlwHe3Uw3s/S220/1_617762489l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-BMBajLvM3_k/Tv3dENDFY9I/AAAAAAAAAL0/bnCU6_nx6wo/s72-c/230258_129129477164333_100002018431564_190221_4572208_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-560609633182921938.post-7249720622496587400</id><published>2011-12-30T23:29:00.001+08:00</published><updated>2011-12-30T23:45:22.438+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mahasiswa'/><title type='text'>Dari Warung Susu ke Gelanggang Mahasiswa (Bagian 2)</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-T9ATC0abLBw/Tv3cb7ZEALI/AAAAAAAAALo/DlFryaYKYdI/s1600/230258_129129477164333_100002018431564_190221_4572208_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-T9ATC0abLBw/Tv3cb7ZEALI/AAAAAAAAALo/DlFryaYKYdI/s200/230258_129129477164333_100002018431564_190221_4572208_n.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;Pendeknya, ada yang ribut-ribut karena hawanya waktu itu  adalah Pemira, tapi justru ada yang apresiasi positif. Ribut-ribut itu  adalah karena Pemira sedang cukup 'panas'.&amp;nbsp; Memang, pada waktu itu politburo Tarbiyah mengeluarkan instruksi untuk dukung Luthfi di Pemira. Jadi, biarpun nuansanya independen, tapi tetap &lt;i&gt;by control. &lt;/i&gt;Jelas hal seperti ini meneguhkan sikap kami di luar aktivisme BEM untuk sementara. Lingkar Studi Bulaksumur menjadi pilihan utama, sembari juga turut aktif di luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, karena latar belakang kami yang sama-sama dari satu organ tertentu (walau semuanya berbeda langgam dan sikap), membuat kami mendapatkan beberapa stigma. Rata-rata, sinisme ini datang dari mereka yang punya kedudukan di  lembaga mahasiswa. Ada yang mempertanyakan maksud pendirian komunitas.  Ada yang menganggap ini orang-orang yang melangit. Dan seabrek sinisme  lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang berpikiran sinis itu rupa-rupanya menganggap komunitas ini &lt;i&gt;political; &lt;/i&gt;merasa  sebagai ancaman. Mungkin bisa sedikit 'dimaklumi', mengingat pegiat  komunitas ini hampir semuanya pernah mengenyam Daurah Marhalah 1 di  KAMMI. Bahkan ada beberapa orang seperti saya yang justru aktif di sana  (waktu itu saya menjadi Ketua Departemen&amp;nbsp; Kajian Strategis). Dan sinisme  itu muncul dari kelompok yang merasa kebakaran "jenggot" yang,  ironisnya, justru berasal dari tubuh yang sama, yaitu dari internal kawan-kawan Tarbiyah sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tetap saja stigma itu tak banyak, hanya kami anggap angin lalu. Suara-suara sinis yang kami dengar terkait LSB tak surutkan langkah kami besarkan komunitas. Sebab gagasan kami sederhana: membongkar kembali intelektualitas bulaksumur dari masing-masing tokoh Universitas Gadjah Mada!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan segala keterbatasan yang kami miliki di komunitas, kami tetap menjalankan komunitas baru ini. Lingkar Studi Bulaksumur langsung menghelat diskusi perdananya di awal Maret. Waktu itu, saya sedang bersiap untuk berangkat ke Malaysia. Diskusinya sederhana, digelar di Fakultas Ekonomi, menghadirkan dua orang pembicara, yaitu pak Heri Santoso (Dosen Fakultas Filsafat UGM) dan Giovanni van Empel alias Sinyo sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di forum itulah Giovanni van Empel membuktikan gagasannya yang relevan dengan semangat ke-gadjah-mada-an. Waktu itu, forum membahas pemikiran Prof. Dr. Sardjito, Rektor UGM yang pertama. Pemikiran Sardjito yang notabene adalah seorang dokter dikupas oleh Sinyo dari perspektifnya sebagai mahasiswa Kedokteran. Ini menarik, sebab dari kebiasaan mahasiswa Fakultas Kedokteran, jarang yang mampu berpikir filosofis seperti Sinyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi di Fakultas Ekonomi itu kemudian dilanjutkan dengan "nonton bareng" dua minggu kemudian, di fakultas yang sama. Tentang Einstein. Cukup menarik, dihadiri oleh berbagai peserta. LSB semakin kokoh sebagai komunitas yang berfokus pada intelektualitas mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran LSB sebagai komunitas ini juga kemudian membawa sinisme tersendiri. Ada beberapa kawan yang menganggap komunitas ini tidak konkret, terlalu melangit. Tetapi, justru lebih banyak yang mengapresiasi positif. Bulan berikutnya, kami menggelar diskusi serupa bertema Ilmu Sosial Profetik, Kuntowijoyo. Peserta yang hadir sekitar lebih dari 30an, bertempat di Fakultas Ilmu Budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicara yang dihadirkan adalah Dr. Syarifuddin Jurdi (Dosen UIN), Syamsul Ma'arief (Dosen Fakultas Filsafat), dan saya sendiri. Belakangan makalah yang saya tulis untuk diskusi saya jadikan referensi untuk mengikuti Kongres Pancasila di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari serangkaian diskusi yang kami lakukan, harapan kami dari LSB adalah membentuk sebuah wadah baru tempat berkumpul intelektual yang 'gelisah' dengan kondisi kampus. Perlu diketahui, di dalam kami sendiri bukannya tidak ada dinamika. Perdebatan-perdebatan serius tapi santai kerap terjadi antara beberapa eksponen komunitas. Tapi, seiring berjalannya waktu, perdebatan dan konflik itu seperti pemanis dalam perjalanan intelektual kami masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan LSB bukan menghalangi kami beraktivitas. Sejak awal 2011, saya terlibat di KAMMI sebagai Ketua Departemen Kajian Strategis, diikuti oleh Ivan yang menjadi Ketua Departemen Humas di pertengahan tahun. Riski sibuk membantu penelitian Prof. Mudrajad Kuncoro, Azmy dan Dani KKN, Sinyo ke luar negeri. Dinamika yang cukup membuat aktivitas LSB tertahan di pertengahan 2011. Saya sendiri akhirnya juga ikut terlarut dan sibuk dengan aktivitas sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(bersambung)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/560609633182921938-7249720622496587400?l=ibnulkhattab.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/feeds/7249720622496587400/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=560609633182921938&amp;postID=7249720622496587400' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/7249720622496587400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/7249720622496587400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/2011/12/dari-warung-susu-ke-gelanggang_30.html' title='Dari Warung Susu ke Gelanggang Mahasiswa (Bagian 2)'/><author><name>Ahmad Rizky Mardhatillah Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01386471685667584378</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_cgbKwDZI1UU/SHWFzmBsWcI/AAAAAAAAAB4/HMlwHe3Uw3s/S220/1_617762489l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-T9ATC0abLBw/Tv3cb7ZEALI/AAAAAAAAALo/DlFryaYKYdI/s72-c/230258_129129477164333_100002018431564_190221_4572208_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-560609633182921938.post-105330226065830444</id><published>2011-12-30T13:37:00.000+08:00</published><updated>2011-12-30T23:42:16.114+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mahasiswa'/><title type='text'>Dari Warung Susu ke Gelanggang Mahasiswa (Bagian 1)</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-1imOZ_gxziA/Tv3bswauwoI/AAAAAAAAALc/JWa0phugWwk/s1600/230258_129129477164333_100002018431564_190221_4572208_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-1imOZ_gxziA/Tv3bswauwoI/AAAAAAAAALc/JWa0phugWwk/s200/230258_129129477164333_100002018431564_190221_4572208_n.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sudah beberapa hari ini media sosial diramaikan oleh hiruk-pikuk hasil Pemira UGM. Ya, Pemira sudah usai, hasil sudah keluar. Kawan Giovanni van Empel, mahasiswa Fakultas Kedokteran angkatan 2008, terpilih sebagai Presiden (saya lebih suka menyebutnya Ketua Umum) BEM KM UGM tahun 2012. Kemenangan yang mengejutkan, sekaligus menyejarah, sebab berarti menghentikan gerak rezim tarbiyah yang selama 13 tahun terakhir mendominasi BEM KM UGM.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Saya tak akan banyak berkomentar soal Sinyo -panggilan akrabnya- terkait kemenangannya. Yang ingin saya soroti adalah makna dari kemenangan ini, serta hubungannya dengan sebuah komunitas kecil -secara postur kecil tapi gemanya membesar akhir-akhir ini- bernama "Lingkar Studi Bulaksumur".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penting untuk melihat kemenangan Sinyo ini bukan hanya&amp;nbsp; sebagai keberhasilan media kampanye -walau itu memang benar adanya- atau karena penampilan fisik Sinyo yang menarik -sering dijadikan alat lawan politiknya untuk melakukan serangan- tetapi pada basis gagasan dan intelektual yang ada di belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkar Studi Bulaksumur memang komunitas yang sangat muda. Ia baru "resmi" dilahirkan setahun silam, dkandung semenjak setengah tahun sebelumnya, tapi tahun ini melahirkan dobrakan. Mungkin seperti kata Agam Wispi: "Mengapa sejarah selalu berpihak pada klas yang muda?" Kaum-kaum muda itu tidak langsung mendobrak sejarah. Tetapi dengan kerja-kerja yang ia lakukan, "memaksa" sejarah berpihak pada mereka, lewat momentum-momentum itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, kami-kami yang mendirikan, meninggalkan, hingga berpeluh keringat dan mendinamisir konflik di dalam tubuh kami ini sendiri tidak ada yang membayangkan hasilnya seperti ini. Dulu, memang ada sebuah "mimpi" untuk membawa sebuah perubahan di KM UGM. Tengah tahun 2010, kami-kami yang resah ini berkumpul dan mendiskusikan keresahan kami atas pergerakan mahasiswa di UGM. Pertautan antara BEM, GM, dan politik praktis sudah begitu kompleks, hampir-hampir tak menyisakan ruang bagi aktivitas intelektual di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEM KM UGM punya catatan sejarah yang cukup panjang. Sepanjang yang saya kumpulkan, organisasi ini berakar dari Dewan Mahasiswa yang didirikan oleh Koesnadi Hardjasoemantri pada tahun 1955. Namun, sejak DM dibubarkan rezim Orde Baru melalui NKK/BKK tahun 1978, aktivitas kemahasiswaan membeku di tingkat universitas. Kebekuan itu pertama kali dicairkan oleh beberapa aktivis, di antaranya Anies Baswedan (yang kemudian menjadi Ketua Senat Mahasiswa UGM) pada awal 19900an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kurun waktu 1998 hingga 2011, BEM KM UGM didominasi oleh aktivis Tarbiyah yang menggabungkan diri ke KAMMI. Perkaderan, pengorganisasian, hingga mobilisasi yang rapi mengantarkan kemenangan tiap tahunnya. Sistem kepartaian yang dirintis pada 1997 meneguhkan eksistensi mereka melalui wadah 'Partai Bunderan'. Fenomena ini menciptakan 'rezim' tersendiri dari Pemira ke Pemira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami, yang sebenarnya juga berlatar belakang Tarbiyah, tidak begitu masalah dengan hal ini. Namun, kegerahan itu muncul manakala menyaksikan adanya kepentingan-kepentingan 'ekstra-mahasiswa' yang kerap menghinggapi BEM. Bagi kami yang sejak awal memang besar dan membesarkan BEM -walau kemudian terlempar ke beberapa organ ekstra selepas itu- hal demikian menyebabkan keresahan tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, beberapa orang yang turut resah berkumpul untuk diskusi. Bermula dari perbincangan sederhana di Warung Susu dan kontrakan, sebenarnya. Tidak formal. Tidak resmi. Berawal dari sesuatu yang sebenarnya sepele. Diskusi-diskusi itu lama kelamaan kian intens, dan akhirnya mengharuskan kami untuk datang langsung ke narasumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi kami kemudian membawa pada pengelanaan ke berbagai tempat, kunjungan dan diskusi ke berbagai figur yang sempat berada di KM UGM maupun yang saling terkait di dalamnya. Kami datang berdiskusi dengan alumni KAMMI, HMI MPO, bahkan GMNI. Ada yang di Yogyakarta, ada pula yang di Jakarta. Mereka-mereka yang kami temui itu rata-rata pernah aktif di BEM KM UGM. Pengelanaan itu membawa inspirasi tersendiri. Menimbulkan kenangan.Grup diskusi 'tanpa-nama' ini tetap bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya kelompok diskusi kami meluas ke beberapa kawan. Kami yang pada mulanya hanya berbagi keresahan, lambat-laun juga mulai memikirkan wadah baru untuk melalukan transformasi sosial secara lebih efektif di kampus. Ada yang berpikiran untuk maju dan bertarung di Pemilihan Raya mahasiswa -dengan calon yang rencananya sudah kami siapkan- tetapi ada pula yang menghendaki komunitas ini bergerak di jalur kultural, akar-rumput, fokus pada penguatan basis intelektual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di penghujung tahun 2010, seperti biasa, ada Pemira. Masing-masing ingin maju. Waktu itu Partai Bunderan telah mencalonkan Irwan Rizadi (Ketua BEM FMIPA) sebagai capres. Tetapi di luar dugaan, Luthfi (Kadep Kastrat KAMMI) juga maju secara independen. Kompetisi yang agak membuat kami kebingungan. Apalagi, kami yang sudah menyiapkan satu calon alternatif, juga urung maju karena yang bersangkutan enggan dimajukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, hasilnya memang sesuai analisis kami. Luthfi menang, mesin politik KAMMI dan Bunderan telah diarahkan ke sana. Irwan hanya meraup 1500an suara, jauh di bawah Luthfi yang unggul dengan 4000 lebih suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami kembali dilanda kegalauan. Dan akhirnya kami kembali berdiskusi, menguak semangat-semangat keilmuan secara lebih murni. Dari sini akhirnya kami mengenal dan menelaah lebih jauh soal "Mazhab Bulaksumur" dengan difasilitasi mas Reza Ikhwan, senior Fakultas Ekonomi angkatan 2004. Akhirnya, dari obrolan-obrolan di warung susu, angkringan, cafe, burjo, hingga kontrakan, kami bersepakat untuk membentuk sebuah komunitas yang kami beri nama secara kreatif: Lingkar Studi Bulaksumur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas ini sengaja mengambil momentum 19 Desember 2010 sebagai tonggak kelahiran. Sebab, tanggal ini adalah tanggal kelahiran UGM, simbol "kelahiran" gerakan pemurnian intelektual di kampus UGM. Dirancang untuk menjadi komunitas diskusi epistemik dengan falsafah ke-gadjah-mada-an. Berpretensi menjadi gerakan intelektual. Sejarah lengkapnya bisa dilihat di Akun facebook Lingkar Studi Bulaksumur atau http://www.simpulbulaksumur.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yap. Akhirnya didirikanlah Lingkar Studi Bulaksumur. Lahirnya komunitas ini bukannya tanpa kontroversi. Baru saja kami menuliskan deklarasi kelahiran LSB di media sosial masing-masing, responsnya langsung muncul. Ada yang menilai ini politis. Suara sumbang macam "Barisan Sakit Hati" sempat kami dengar, walau sayup-sayup. Tapi tak sedikit yang memberikan nuansa optimisme. Perjuangan harus terus berrjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;(bersambung)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/560609633182921938-105330226065830444?l=ibnulkhattab.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/feeds/105330226065830444/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=560609633182921938&amp;postID=105330226065830444' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/105330226065830444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/105330226065830444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/2011/12/dari-warung-susu-ke-gelanggang.html' title='Dari Warung Susu ke Gelanggang Mahasiswa (Bagian 1)'/><author><name>Ahmad Rizky Mardhatillah Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01386471685667584378</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_cgbKwDZI1UU/SHWFzmBsWcI/AAAAAAAAAB4/HMlwHe3Uw3s/S220/1_617762489l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-1imOZ_gxziA/Tv3bswauwoI/AAAAAAAAALc/JWa0phugWwk/s72-c/230258_129129477164333_100002018431564_190221_4572208_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-560609633182921938.post-4050937916871996992</id><published>2011-12-17T01:53:00.000+08:00</published><updated>2011-12-17T01:53:03.576+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hubungan Internasional'/><title type='text'>Liberalisasi Wacana 'Islam Politik'?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;blockquote style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;"&lt;em&gt;Post-Islamism  represents an endeavour to fuse religiosity with rights,  faith and  freedoms, Islam and civil liberties and focuses on rights  instead of  duties, plurality instead of singular authority, historicity  rather  than fixed and rigid interpretation of scriptures, and the future   rather than the past.&lt;/em&gt;" (Dr. Asif Bayat)&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Artikel Darmaningtyas hari ini (15/12) di harian Tempo cukup menarik untuk diulas. Ia mengupas persoalan &lt;em&gt;Arab Spring &lt;/em&gt;yang  diikuti oleh kemenangan dan inklusi politik kaum Islamis pada beberapa  negara Arab yang baru saja terlepas dari otoriterisme.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Kemenangan beberapa partai yang berafiliasi kepada gerakan &lt;em&gt;Ikhwan &lt;/em&gt;di  Mesir, serta tampilnya kelompok Salafi yang selama ini mengklaim  anti-politik, terasa mengejutkan bagi langgam politik Islam yang selama  ini kita kenal bersama-sama.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Darmaningtyas menyebut bahwa  fenomena politik di negara-negara Arab saat ini merupakan imbas dari  perjuangan panjang kaum Islam Politik selama bertahun-tahun di pentas  politik Arab.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Akan tetapi, terselip sebuah fenomena  menarik: Ekspresi politik mereka justru semakin menginklusi diri  terhadap demokrasi, kebebasan berpendapat, serta toleransi yang selama  ini tak nampak dalam wajah maupun bahasa politik meereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Isu  'penegakan syariah' hingga 'negara Islam' yang dulu sempat dikobarkan  untuk melawan imperalisme Inggris (zaman Hasan Al-Banna masih hidup)  atau ketika melawan otoriterisme militeristik Mesir dari Nasser hingga  Mobarak (zaman Hudhaiby sampai seterusnya) serasa bergeser. &lt;em&gt;Ikhwan &lt;/em&gt;kini terasa lebih 'liberal', terutama dalam praksis politik.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Mengapa  bisa terjadi demikian? Apakah ini pertanda terjadi liberalisasi dalam  gerakan politik Islam? Bagaimana masa depan 'Islam Politik'  pasca-Pemilu?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Inklusi Politik&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Selama  masa-masa 'diktator Arab' dari Assad di Syria, Mobarak di Mesir, Saleh  di Yaman, hingga Ben Ali di Tunisia, kaum Islamis terpinggirkan. Kita  masih ingat bagaimana perjuangan bawah tanah Ikhwan ketika direpresi  rezim Nasser sejak pertengahan 1950-an hingga akhirnya tampil dalam  gerakan massa di revolusi Arab awal 2011.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Di Syria,  gerakan Ikhwan juga dipinggirkan dalam lingkungan politik Ba'ath dengan  Bashar dan Hafez Assad. Momentum perjuangan politiknya adalah ketika  rezim itu jatuh, apakah karena gerakan massa ataupun karena kontradiksi  di tubuhnya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Krisis kapitalisme yang segera  berubah menjadi gerakan massa menjadi momentum politik bagi Ikhwan dan  beberapa kelompok Islamis lain. Salafi, yang selama ini berlindung  nyaman melalui basis sosial-keagamaannya, agaknya tak bisa berlama-lama  juga tertidur. Segera mereka membuat partai politik setelah kebebasan  politik terjamin.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Runtuhnya otoriterisme Arab melalui &lt;em&gt;Arab Spring &lt;/em&gt;adalah  sebuah pintu gerbang perubahan struktur politik Arab. Akan tetapi, kita  juga menangkap sebuah sinyal lain: titik balik 'Islam Politik'. Oposisi  mereka terhadap otoriterisme dulu segera digantikan oleh konsolidasi  politik. Di beberapa negara, &lt;em&gt;Ikhwan &lt;/em&gt;tampil menguasai akses politik dan ikut Pemilu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan  hal ini segera dibuktikan. partai-partai berhaluan Islamis memenangi  pemilu, seperti Partai Nahdlah (Tunisia), Partai Kebebasan dan Keadilan  (Mesir), maupun Partai Keadilan dan Pembangunan (Maroko). Jika mengikuti  prosedur demokrasi yang ada, kemenangan mereka akan segera diikuti oleh  pemerintahan baru yang merepresentasikan kelompok tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Menariknya,  klaim bahwa kemenangan politik ini akan diikuti oleh tampilnya  wacana-wacana Islamis dalam politik Arab justru belum terbukti.  Alih-alih meng-kampanyekan syariat Islam secara formal, mereka justru  lebih mantap dengan wacana keberagaman (pluralisme-multikulturalisme),  kesejahteraan, hingga isu-isu lain yang lebih populis.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Hal  ini dapat kita lihat di Turki. Keberhasilan politik Erdogan dan Gul  dengan AKP-nya tidak lantas diikuti oleh Islamisasi di Turki secara  revolusioner. Perkembangan yang mereka tampakkan justru lebih gradual,  dengan mendekatkan isu-isu populis di kalangan masyarakat Turki guna  menopang legitimasi politik mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Sebagai contoh,  momentum politik yang coba dibangun oleh AKP justru adalah aksesi Turki  ke Uni Eropa yang sejak 2003 belum selesai-selesai. Hal ini jelas  merupakan manuver politik untuk mendapatkan legitimasi. Masuknya Turki  ke Uni Eropa adalah simbol perubahan identitas: dari Arab-Islam menuju  Eropa-Liberal. Dan topangan pengusaha (modal) menjadikan AKP lebih ramah  terhadap kapitalisme, bahkan dibanding kaum Kemalis sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Turki  hanya satu contoh. Kita lihat Ikhwan di Mesir, misalnya. Ada  kecenderungan politik di negara-negara Arab untuk lebih menjadikan  borjuasi sebagai basis politik. Penelitian Prof. Vedi Hadiz -seperti  disampaikan di Fisipol UGM beberapa waktu lalu- memotret transformasi  Ikhwan: dari sekadar organisasi massa yang &lt;em&gt;tandhimi &lt;/em&gt;(militeristik) menjadi gerakan politik borjuis yang moderat.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Strategi  mereka sederhana: menguasai basis modal untuk dikapitalisasi menjadi  basis politik, agar dapat melakukan manuver politik secara aman tanpa  harus mengandalkan mobilisasi yang dikenal di kalangan aktivis 'dakwah'  Indonesia sebagai '&lt;em&gt;taklimat&lt;/em&gt;'. Hal ini pula yang sepertinya coba dilakukan PKS (faksi Anis Matta) di Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Apakah  hal ini menunjukkan kecenderungan baru dalam 'Islam Politik'? Apa  penjelasan yang relevan untuk mengungkap transformasi ini?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Post-Islamisme&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Analisis  Dr. Asif Bayat terhadap fenomena gerakan politik Islam, terutama di  Iran dan Pakistan, pada tahun 2005 silam bisa menjadi media penjelas.  Saat ini, ada kecenderungan politik kaum 'Islamis' untuk bergerak  menjadi 'post-Islamis' dalam jangka waktu tahun-tahun ke depan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dalam  studi gerakan politik Islam di Timur Tengah, 'Islam Politik' sering  dicitrakan sebagai kaum revolusioner yang memimpikan negara Islam, serta  berorientasi kekuasaan untuk mewujudkan mimpinya itu. Bahasa yang  digunakan lebih mencerminkan kekuatan ideologi daripada strategi taktis,  semisal &lt;em&gt;khilafah, daulah Islamiyah, tandhim, syari'ah, &lt;/em&gt;dan lain sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Gagasan awal yang bisa ditangkap adalah bahwa 'Islamism' adalah bentuk &lt;em&gt;historical end; &lt;/em&gt;Sebagaimana  Fukuyama menganggap bahwa kapitalisme-liberal adalah akhir sejarah,  ideolog kaum Islamis seperti Hasan Al-Banna atau Sayid Quthb dalam  beberapa bukunya banyak menyinggung tema seperti 'kemenangan Islam',  'kejayaan Islam', dan lain sebagainya. An-Nabhani membahasakannya dengan  'khilafah'. Dan lain sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Namun, seiring  perjalanan waktu, penyampaian gagasan-gagasan tersebut ke publik segera  berubah. Proses moderasi wacana tersebut bisa dilihat dari produksi buku  dan pemikiran Ikhwan dari tahun 1970-an hingga kini. Tampilnya Yusuf  al-Qaradhawy mempertegas basis moderasi tersebut, mengimbangi Sayyid  Quthb di sisi lain. Ia memperkenalkan &lt;em&gt;fiqh prioritas, &lt;/em&gt;melihat Islam secara lebih kontekstual.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Jika  dilacak, genealogi pemikiran Qaradhawy tersebut tentu akan lebih  senafas dengan modernisme Islam pilihan Muhammad Abduh yang lebih  rasional. Tetapi, jika Abduh kemudian mengekspresikannya pada tataran  wacana intelektual, Ikhwan mengambil jalan berbeda: rasionalisme Islam  tersebut harus diekspresikan pada level praksis, untuk jadi instrumen  mendapatkan kekuasaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Pemikiran Ikhwan dengan Qaradhawy dan beberapa &lt;em&gt;mursyid 'am &lt;/em&gt;kemudian mengambil langgam berbeda. Walau sistem &lt;em&gt;tandhim &lt;/em&gt;(struktur) tetap ada untuk basis mobilisasi dan ideologisasi gerakan melalui &lt;em&gt;halaqah &lt;/em&gt;dan sel perkaderan, tetapi materi yang disampaikan sebagai basis ideologi mulai mengalami liberalisasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Inilah  yang disebut oleh Dr. Asif Bayat sebagai 'post-Islamisme'. Dari segi  wacana, Islamisme mulai menapak jalan baru yang tidak linear  (memoisisikan Islam sebagai 'historical end'), tetapi justru mengambil  langkah yang dekat dengan liberalisme.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Wacana-wacana  liberalisme Islam yang selama ini ditentang oleh kalangan Islamis,  menariknya, sebagian justru digunakan oleh mereka dalam praksis  politiknya. Wacana demokrasi, toleransi, dan lain sebagainya, kini  tampak makin akrab, walau sebatas sebagai jargon kampanye.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan dengan demikian, peta wacana 'Islam Politik' berubah. Dalam konteks studi Timur Tengah, apa artinya hal-hal seperti ini?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Transformasi Kelas&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Prediksi  sebagian kalangan bahwa gerakan politik Islam kontraproduktif dengan  demokrasi terjawab dengan bantahan pada Pemilu Mesir, Tunisia, dan  Maroko beberapa waktu lalu. Justru, demokrasi kini tampak lebih 'segar'  daripada masa-masa lalu; membuktikan bahwa Islamisme tidak se-'sangar'  yang selama ini sering kita prasangkai.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Hal yang perlu  kita garis bawahi dalam proses politik Arab dewasa ini adalah wacana  'Islam' yang bergeser. Walaupun pada level pemikiran tidak banyak yang  berubah dalam pandangan politik gerakan Ikhwan, tapi pada level  aktualisasi dan implementasi politik, gagasan soal 'siyasah' banyak  berubah.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Mengapa hal ini terjadi? Analisis Prof. Vedi  Hadiz lebih mengarah pada soal transformasi kelas; bahwa topangan kaum  pengusaha menyebabkan basis sosial gerakan Ikhwan berubah. Dulu, Ikhwan  gampang diradikalisasi karena basis sosial mereka yang merupakan kelas  menengah ke-bawah. Al-Banna sendiri lahir dari keluarga pedagang kecil;  yang dalam literatur ekonomi-politik tidak banyak peran karena kalah  oleh borjuasi besar.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Pasca-represi politik, kita lihat  pergeseran wacana itu pada transformasi kelas yang dialami oleh Ikhwan.  Banyaknya pengusaha, seperti temuan Vedi Hadiz di Turki dan Mesir,  menyebabkan adanya aliansi kelas untuk menumbangkan rezim Mobarak dan  Kemalis sehingga melahirkan revolusi Arab 2011. Di Turki, penguasaan  terhadap modal juga penting sehingga basis politik mereka terjaga.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan  persinggungan antara Islam dan Kapitalisme ini yang kemudian lebih  banyak terjadi. Transformasi dari peminggiran ekonomi-politik menjadi  borjuasi, tak ayal lagi mengubah peta wacana Islamis saat ini. Inklusi  politik Ikhwan mengisyaratkan perlunya pembacaan-ulang terhadap gerakan  politik Islam saat ini. Sebab, masalah ini perlu dibongkar. Apakah  memang hanya strategi atau propaganda politik, ataukah imbas dari  transformasi kelas tersebut?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Yang jelas, tesis bahwa Islam  tidak kompatibel dengan demokrasi terbantah oleh fenomena di Timur  Tengah. Bukan benturan peradaban yang terjadi, melainkan liberalisasi di  kubu 'Islam Politik'. Inilah konsekuensi dari inklusi politik terhadap  demokrasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan meminjam pernyataan Al-Sayyid Yassin,  sebagaimana dikutip Dr. Darmaningtyas: Kalangan Islam-modernis kini  tampak semakin Islamis, sementara kalangan Islam-fundamentalis tampak  semakin liberal. Apakah ini terjadi pula di Indonesia? &lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Wallahu a'lam bish shawwab.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;*) &lt;em&gt;Penulis mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional UGM, peminat studi Timur Tengah&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/560609633182921938-4050937916871996992?l=ibnulkhattab.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/feeds/4050937916871996992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=560609633182921938&amp;postID=4050937916871996992' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/4050937916871996992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/4050937916871996992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/2011/12/liberalisasi-wacana-islam-politik.html' title='Liberalisasi Wacana &apos;Islam Politik&apos;?'/><author><name>Ahmad Rizky Mardhatillah Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01386471685667584378</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_cgbKwDZI1UU/SHWFzmBsWcI/AAAAAAAAAB4/HMlwHe3Uw3s/S220/1_617762489l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-560609633182921938.post-7748596774335622591</id><published>2011-12-09T22:30:00.001+08:00</published><updated>2011-12-09T23:38:44.921+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mahasiswa'/><title type='text'>Otokritik Gerakan Antikorupsi</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;(tulisan ini dimuat di portal berita terkininews.com)&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, 9 Desember 2011, diperingati sebagai hari antikorupsi sedunia. Seperti biasa, momentum ini menjadi ajang setiap elemen gerakan, baik masyarakat sipil, mahasiswa, maupun gerakan rakyat, untuk tampil menyuarakan aspirasinya terhadap pemberantasan korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di berbagai kota besar, mahasiswa turun ke jalan untuk berdemonstrasi. Kita ambil contoh, misalnya, Yogyakarta. Sejauh pemantauan saya, ada tiga elemen yang turun hari ini: BEM se-Jogloseto yang dimotori oleh BEM KM UGM, KAMMI DIY, serta HMI Cabang Yogyakarta. Lokasi aksi berbeda-beda, dari Bunderan UGM hingga Titik Nol Kilometer Malioboro. Begitu pula dengan daerah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi-aksi tersebut relatif menyuarakan isu yang sama, tidak jauh berbeda. Tetapi, apa yang menyebabkan aksi-aksi tersebut seakan-akan menjadi aksi 'seremonial' yang cenderung mendasarkan diri pada momentum belaka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tidak Satu Suara?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saya kira semua elemen sepakat bahwa korupsi harus diperangi. Pada dataran yang normatif ini, semua elemen gerakan akan sampai pada kata sepakat. Bahkan, mayoritas gerakan akan menjadikan isu ini sebagai prioritas, terkait aksi-aksi yang bakal dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, mengapa tidak ada kesamaan ritme gerak di antara elemen dan organ gerakan terkait isu vital ini? Refleksi ini tentu menjadi sangat klasik. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, kita sulit sekali menemukan aliansi-aliansi gerakan yang konsisten mengawal serta menyikapi isu sektoral, terutama di kalangan mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Yogyakarta, mungkin aliansi yang cukup besar dalam mengawal isu antikorupsi ini hanya bisa dilihat pada AMUK (Aliansi Masyarakat untuk Keadilan) yang menggelar aksi cukup besar pada tahun 2009, ketika isu kriminalisasi KPK tengah mencuat. Aliansi ini beranggotakan elemen gerakan mahasiswa dan masyarakat sipil yang memang &lt;i&gt;concern &lt;/i&gt;terhadap isu antikorupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pasca-2009, AMUK seakan timbul tenggelam, antara hidup dan mati. Akhir Juli 2011 lalu, AMUK sempat tampil kembali untuk mengawal isu Nazaruddin dan kriminalisasi KY -dimana saya waktu itu juga turut terlibat mengorganisir aksi-&amp;nbsp; juga sempat bergerak dalam penyikapan isu lokal (korupsi di Bantul), namun tenggelam beberapa waktu kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problem juga mungkin dapat dilihat di&amp;nbsp; beberapa aliansi yang sama di kota lain. Apakah persoalannya karena komposisi gerakan yang terlalu plural hingga menyebabkan perdebatan di dalam elemen sangat alot, sulit mencapai kata sepakat, ataukah mungkin karena suhu gerakan yang 'cair', menyebabkan aliansi bergerak hanya berdasarkan isu media, bukan pengawalan yang konsisten?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja ini menjadi otokritik bersama bagi gerakan mahasiswa. Dalam konteks gerakan 9 Desember, problem keterpecahan elemen gerakan dalam menyikapi isu korupsi akan sangat kontraproduktif. Sebab, publik akan membaca gerakan ini 'seremonial' dan 'sporadis', sehingga tidak berdampak positif terhadap opini publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tentu saja, kegagalan kita dalam mempengaruhi opini publik akan berdampak pada daya ubahnya terhadap konstelasi politik baik di level lokal maupun nasional. Ini lagi-lagi menjadi sebuah otokritik bagi gerakan mahasiswa saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Defisit Stratak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mengapa keterpecahan massa dan elemen gerakan itu bisa terjadi, terutama dalam konteks gerakan antikorupsi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, gerakan antikorupsi saat ini cenderung tidak memiliki stratak (strategi dan taktik) yang jelas dan kolektif. Kalaupun ada, pasti posisinya di masing-masin g organ Hal ini terutama kita jumpai pada gerakan mahasiswa ataupun gerakan massa lain yang sering tampil demonstrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, penyikapan terhadap isu antikorupsi lebih didasarkan pada momentum, bukan pengkajian. Padahal, pengkajian adalah basis bagi gerakan mahasiswa . Mana mungkin lahir sebuah gerakan yang murni jika tidak ada pengkajian di dalamnya? Ini perlu menjadi refleksi bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, pengkajian isu antikorupsi mesti didasarkan pada analisis mengenai kondisi lapangan yang komprehensif serta dirumuskan pada strategi dan taktik yang jelas. Dalam konteks pengorganisasian massa, kita mengenal yang namanya stratak. Di setiap training perkaderan gerakan, saya yakin hal ini sudah diajarkan. Dan hal terpenting ketika merumuskan stratak adalah pemetaan posisi dan isu yang akan diperjuangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa stratak, gerakan yang kita rancang mungkin saja akan avonturir, berjalan tanpa arah yang jelas. Dalam konteks gerakan antikorupsi, adakah stratak itu dirumuskan secara &lt;i&gt;rigid&lt;/i&gt;? Bagaimana pemetaan kita terhadap konstelasi politik di lapangan? Strategi gerak apa yang akan diambil? Ini perlu dipikirkan bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika direfleksikan, saat ini gerakan mahasiswa cenderung melakukan penyikapan &lt;i&gt;by momentum. &lt;/i&gt;Hal ini mungkin tak terhindarkan bagi gerakan massa. Tetapi, disadari atau tidak, pola gerakan ini sangat rawan bagi gerakan mahasiswa untuk terjebak pada relasi kuasa yang sedang bermain secara kompleks di luar sana. Pertaruhannya tentu saja independensi gerakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, dengan mengikuti gerak-gerak isu di media maupun momentum, fragmentasi gerakan mahasiswa menjadi sebuah konsekuensi serius. Alhasil, dalam penyikapan, isu yang diangkat berbeda, barisan massa terpecah, dan 'tembakan' tidak mengena pada sasaran, bahkan untuk mempengaruhi opini publik sekalipun. Hal ini sudah sering terjadi pada gerakan yang kita bentuk, sendiri ataupun bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, strategi dan taktik secara kolektif perlu dirumuskan bersama-sama dalam isu sektoral yang spesifik, semisal pemberantasan korupsi. Tidak perlu mencakup banyak permasalahan, cukup satu sektor tetapi terfokus dan konsisten. Sehingga, pengorganisasian menjadi tidak sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdebatan di aliansi yang kerap kita temui seringkali masuk pada wilayah visi dan ideologi, sesuatu yang sebenarnya tidak perlu diperbincangkan sebab merupakan urusan internal organ. Sementara di level taktis dan strategis, analisisnya tidak sampai mendalam. Ini perlu menjadi otokritik bagi gerakan kita saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan artinya, perlu ada kemauan untuk menyatukan pandangan pada satu isu yang dianggap strategis untuk dirumuskan taktik ke depannya. Inilah problem gerakan kita yang kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;'Cangkang Mistis'&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kedua, persoalan yang sering dihadapi adalah ego masing-masing gerakan. Persoalan ini klasik. Fragmentasi ideologi kiri-kanan-tengah maupun perbedaan metode gerak menjadi salah satu penyebab. Gerakan mahasiswa juga rawan dihinggapi oleh persoalan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal penting yang perlu kita cermati adalah keengganan mahasiswa untuk keluar dari 'cangkang mistis'-nya sebagai generasi kampus dan membaur dengan problem di masyarakat. Istilah 'cangkang mistis' saya pinjam dari Marx. Posisi mahasiswa sebagai 'kelas menengah terdidik' seakan menjadi jembatan pada isu-isu di masyarakat yang sebenarnya lebih konkret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran 'cangkang mistis' ini sendiri, menurut Marx, hadir dalam persepsi soal realitas. Ia mengambil jalan yang berbeda dengan dialektika Hegel yang menganggap bahwa realitas adalah persepsi &lt;i&gt;ideal &lt;/i&gt;-mistis- dari pikiran manusia atas keadaan. Marx justru melihat sebaliknya: realitas itu ada di alam nyata, bukan di alam pikiran manusia. Atau, dalam konteks pendidikan tinggi, realitas itu ada di masyarakat, bukan sesuatu yang diteorisasi di dalam kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks gerakan, 'cangkang mistis' ini setidaknya tergambar dari keinginan untuk aksi sendiri tanpa membangun kontak dengan gerakan lain yang ranah perjuangannya berada di level basis. Organ-organ mahasiswa baik intra maupun ekstrakampus, sadar atau tidak, sering terjebak pada masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minimnya hubungan dengan elemen masyarakat sipil maupun gerakan rakyat menyebabkan gerakan mahasiswa tampil sendirian. Argumen yang keluar, pada akhirnya, lebih bersifat moralistik daripada strategis. Dan aksi-aksi mahasiswa, kembali pada analisis di atas, akhirnya menjadi terfragmentasi oleh momentum yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk keluar dari 'cangkang mistis' tadi, gerakan mahasiswa perlu membuka hubungan yang lebih erat dengan kekuatan lain semisal buruh atau masyarakat sipil. Kesatuan gerak ini sebenarnya dapat kita lihat pada tahun 1998. Sejarah mencatat, gerakan mahasiswa takkan dapat bertahan jika sebelumnya tidak ada kekuatan rakyat yang melawan di level basis. Selain juga karena kontradiksi kapitalisme yang dibangun oleh Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks gerakan antikorupsi, aliansi strategis dengan masyarakat sipil dan masyarakat akademik yang kritis perlu dibangun lebih erat. Walau bagaimanapun, LSM ataupun Pusat Studi tidak punya massa untuk digerakkan sehingga perjuangan yang dilakukan lebih cenderung elit. Mahasiswa-lah yang punya massa. Tetapi, mahasiswa juga minim analisis dan jaringan akar-rumput. Kolaborasi ini, jika dilakukan secara konsisten, tentu akan melahirkan format gerakan yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan untuk itu, perlu kemauan yang kuat dari mahasiswa maupun masyarakat sipil untuk terus berkomunikasi. Saya kira, kita perlu menyeriusinya untuk mengawal KPK selama 4 tahun ke depan, di bawah kepemimpinan Abraham Samad, agar amanah rakyat tidak terganggu di tengah jalan. Cukuplah 4 tahun terakhir ini menjadi sebuah evaluasi bersama bagi pemberantasan korupsi kita saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Refleksi Bersama&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Otokritik gerakan 9 Desember saat ini adalah keterbelahan massa. Dan untuk menyikapinya, saya kira dua hal di atas perlu kita refleksikan bersama. Walau bagaimanapun juga, isu pemberantasan korupsi tetap menjadi isu yang penting bagi Indonesia saat ini. Jangan sampai, agenda pemberantasan korupsi gagal karena kekuatan kelompok masyarakat sipil -termasuk di dalamnya mahasiswa- terfragmentasi oleh problem-problem internal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemauan untuk menyingkirkan ego masing-masing gerakan sangat penting. Dan kemauan untuk membuat sebuah rencana pergerakan yang konsisten juga diperlukan. Mungkin juga hal-hal lain yang masih harus kita inventarisasi bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, Tan Malaka berhasil mengorganisasi kekuatan 'Persatuan Perjuangan' yang terdiri atas berbagai macam organ dengan latar belakang ideologi berbeda untuk melawan kabinet Sjahrir yang dinilai lemah. Walaupun harus kandas karena tersapu rezim, konsep persatuan perjuangan ini perlu direfleksikan. Persoalan apakah perjuangan ini akan berhasil atau tidak, mari bertawakal kepada Allah, setelah berikhtiar dengan kekuatan-kekuatan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita masih memerlukan masyarakat yang kuat untuk melawan hegemoni negara dan institusi-insitusi pendukungnya yang korup. Demokrasi masih harus dikawal oleh masyarakat, termasuk juga mahasiswa di dalamnya. Tanpa mahasiswa, pada siapa lagi kita berharap untuk perubahan di masa depan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan singkat ini mungkin tidak terlalu apik untuk dibaca. Dan mungkin akan menjadi otokritik sendiri. Tapi berlandas pada sebuah hadits, hari esok harus lebih baik daripada hari ini. Mari membenahi gerakan kita ke depan. Salam dari Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Nuun wal Qalami wa Maa Yasthuruun.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dokumentasi Foto Aksi Hari Antikorupsi:&amp;nbsp;&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=""&gt;&lt;img alt="" class="photo_img img" src="https://fbcdn-sphotos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/375565_2558712660640_1638747810_2398430_643431039_n.jpg" /&gt;&lt;span class="caption"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=""&gt;&lt;span class="caption"&gt;aksi mahasiswa di Samarinda&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=""&gt;&lt;img alt="" class="photo_img img" src="https://fbcdn-sphotos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/382738_2558714500686_1638747810_2398431_506127516_n.jpg" /&gt;&lt;span class="caption"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=""&gt;&lt;span class="caption"&gt;aksi mahasiswa di Banjarmasin&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=""&gt;&lt;img alt="" class="photo_img img" height="160" src="https://fbcdn-sphotos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-snc7/391102_2558718100776_1638747810_2398433_577104351_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;span class="caption"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=""&gt;&lt;span class="caption"&gt;aksi mahasiswa di Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/560609633182921938-7748596774335622591?l=ibnulkhattab.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/feeds/7748596774335622591/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=560609633182921938&amp;postID=7748596774335622591' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/7748596774335622591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/7748596774335622591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/2011/12/otokritik-gerakan-antikorupsi.html' title='Otokritik Gerakan Antikorupsi'/><author><name>Ahmad Rizky Mardhatillah Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01386471685667584378</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_cgbKwDZI1UU/SHWFzmBsWcI/AAAAAAAAAB4/HMlwHe3Uw3s/S220/1_617762489l.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-560609633182921938.post-4242622781545158724</id><published>2011-12-09T15:02:00.001+08:00</published><updated>2011-12-09T15:09:33.787+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mahasiswa'/><title type='text'>Aktivisme dan Ilmu Sosial</title><content type='html'>&lt;span class="right sub_text_artikel" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span class="coda_bubble"&gt;&lt;span class="trigger"&gt;&lt;/span&gt;                         &lt;/span&gt;                    &lt;/span&gt;                    &lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Mahasiswa aktif berdemonstrasi atau melakukan sederet  aktivitas lainnya, tetapi tidak sadar bahwa aktivitas mereka digeret  untuk melayani kepentingan kuasa tertentu di luar sana, seperti  kepentingan elite-elite politik yang menjadikan aksi mahasiswa sebagai alasan sah untuk merebut  kekuasaan demi kepentingan sendiri"&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="isi_artikel" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="wp-caption alignleft" id="attachment_135251" style="width: 240px;"&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/09/1316159438509632688.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="1316159438509632688" border="0" class="size-full wp-image-135251" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/09/1316159438509632688.jpg" title="1316159438509632688" /&gt;&lt;/a&gt;MENARIK  jika kita menyimak apa yang disampaikan oleh Prof. Dr. Purwo Santoso,  Guru Besar Politik &amp;amp; Pemerintahan Universitas Gadjah Mada dalam  orasi ilmiahnya pada Dies Natalis FISE UNY, beberapa hari yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  orasi yang mengangkat tema “Ilmu Sosial Transformatif” tersebut, beliau  menyinggung terma “aktivisme” sebagai pengejawantahan Ilmu Sosial  Transformatif, salah satunya adalah aktivisme mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika  selama ini aktivisme dianggap sebagai sesuatu yang sangat praksis,  dianggap jauh dari akademik, dan seharusnya “dikembalikan” ke kampus  untuk dididik, Prof. Purwo justru berpikir sebaliknya: &lt;i&gt;aktivisme &lt;/i&gt;adalah  sarana untuk meletakkan dasar transformatif bagi pendidikan, terutama  dalam konteks pendidikan ilmu sosial dan ilmu politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh  sebab itu, aktivisme mahasiswa atau masyarakat sipil tidak seharusnya  jauh dari wacana ilmu sosial. Keduanya punya keterkaitan yang sangat  erat. Pertanyaannya, seperti apa wujud keterkaitan itu dalam konteks  aktivisme mahasiswa, terutama dalam konteks Indonesia saat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pemisahan Teori dan Praksis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam  jangka waktu yang cukup panjang, kita disuguhi sebuah pemisahan antara  “teori” dan “praksis”. F Budi Hardiman (“Kritik Ideologi”, 2009, pp.  22), melihat kelahiran ontologi sebagai titik tolak pemisahan antara  teori dan praksis. Dalam sudut pandang yang positivistik, pengetahuan  harus dipisahkan dari kepentingan-kepentingan praktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ontologi ilmu adalah sesuatu yang &lt;i&gt;murni; &lt;/i&gt;tidak terpengaruh oleh muatan-muatan kuasa. Ini yang disebut sebagai &lt;i&gt;dis-interested knowledge; &lt;/i&gt;pengetahuan yang melampaui kepentingan-kepentingan tertentu, yang berorientasi pada ilmu dan pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah  Augusto Comte yang meletakkan dasar positivisme moderen dalam ilmu  sosial. Titik pangkal pemikiran Comte adalah pemisahan fakta sosial  objektif dari dimensi metafisis; ia mencoba memurnikan ilmu dari  kepercayaan tradisional (baca: agama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu,  prosedur pembuktian kebenaran juga harus dilakukan secara objektif,  meniadakan pikiran-pikiran subjektif manusia, &lt;i&gt;alias &lt;/i&gt;menyadur  logika ilmu alam yang melihat fakta sosial sebagai “hukum-hukum” ilmiah,  dan punya standard kebenaran sendiri (Hardiman, pp. 27).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka,  teori sosial merupakansebuah refleksi dari fakta sosial objektif yang  empiris. Ia kemudian meniadakan subjek (diri) dalam relasi-relasi sosial  tersebut karena akan mempengaruhi objektivitas dalam melihat sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab  itu, seorang teoretisi sosial harus menjaga jarak dari fakta sosial  yang ia telaah. Ini yang menciptakan jurang pemisah antara teori dan  praksis. Di satu sisi, teori mengupas fakta-fakta sosial, sementara di  sisi lain, praksis adalah wujud pengejawantahan fakta sosial itu dalam  realitas sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tentu melahirkan setidaknya dua implikasi. Implikasi pertama, &lt;i&gt;kampus, &lt;/i&gt;sebagai  institusi yang&amp;nbsp; memproduksi teori sosial dan mengemasnya dalam “ilmu”  sosial, terpisah jauh dari masyarakat yang ia telaah. Implikasi kedua, &lt;i&gt;warga kampus&lt;/i&gt; sebagai pengkaji ilmu sosial sendiri menjadi kian eksklusif, tidak  membumi, dan kadang punya “jarak” antara posisinya sebagai seorang  akademisi dengan statusnya sebagai masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Aktivisme Mahasiswa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam seting mahasiswa “positivistik” seperti ini, kita akan melihat dua jenis mahasiswa: &lt;i&gt;Pertama, &lt;/i&gt;mahasiswa yang orientasinya adalah “teori”, pandai secara akademik, tetapi gagap di masyarakat. &lt;i&gt;Kedua, &lt;/i&gt;mahasiswa yang prestasi akademiknya &lt;i&gt;pas-pasan, &lt;/i&gt;waktu  studinya mungkin lama, tapi begitu aktif bergiat di  organisasi-organisasi sosial maupun kemahasiswaan untuk menghadapi  realitas kemasyarakatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemisahan dua jenis mahasiswa ini  adalah implikasi logis ketika positivisme yang memisahkan “teori” dan  “praksis” dijadikan paradigma pendidikan. Pada dekade 1980-an, kita  pernah menghadapi fenomena seperti ini melalui wujud NKK/BKK, bahkan  iklimnya masih terasa hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NKK/BKK bukan sekadar  pembungkaman politik mahasiswa; ia punya dimensi yang jauh lebih luas.  NKK/BKK adalah sebuah upaya sistematis untuk mengubah &lt;i&gt;habitus &lt;/i&gt;mahasiswa,  yang akrab dengan aktivisme dan pembelaan atas hak-hak masyarakat  melalui gerakan mahasiswa, menjadi mahasiswa yang akademis, hanya  belajar di kampus, dan disiapkan untuk melayani kepentingan pembangunan  rezim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala kritik mahasiswa dan pelajar yang resisten  terhadap kepentingan rezim, pada waktu itu, segera dibungkam. Mahasiswa  “dikembalikan” pada ranahnya yang awal, yaitu “akademis”. Pendidikan di-&lt;i&gt;seting &lt;/i&gt;untuk cepat lulus, agar bisa cepat bekerja. Sehingga, kampus tidak lagi memproduksi wacana rakyat, tetapi wacana kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepentingan  rezim pada waktu itu adalah industrialisasi. Oleh sebab itu,  pembangunan ekonomi yang dijadikan acuan adalah pembangunan ekonomi  berbasis pasar bebas. Inilah yang kemudian melahirkan terminologi  “developmental-state” (lihat Richard Robison, “The Rise of Capital”).  Developmentalisme ini mengharamkan segala sesuatu yang merintangi  pembangunan. Jika itu terjadi, siap-siap menghadapi aksi represif aparat  negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita di atas merefleksikan sebuah hal: logika  pemisahan “teori” dan “praksis” dalam paradigma positivisme tidak hanya  terjadi pada level “wacana” ilmu pengetahuan, tetapi juga pada skala  pelembagaan. “Jarak sosial” antara kampus dan masyarakat ini yang  kemudian dikritik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Teori Kritis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Di  Barat, muncul gejala untuk menentang positivisme ilmu pengetahuan dalam  wujud “teori kritis”. Teori ini pada awalnya adalah sebuah gerakan  intelektual yang memproyeksikan keruntuhan ontologi positivisme melalui  kritik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori kritis hendak membangun kembali jembatan  antara “teori” dan “praksis” tersebut melalui sebuah kritik atas  ontologi positivisme yang dinilai digeret oleh kuasa-kuasa tertentu,  alias punya kepentingan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saintifisme, atau gejala  teori yang punya standard pembenaran positivistik itu, pada hakikatnya  bukan teori yang netral dari relasi-relasi kuasa yang ada. Ia  sesungguhnya digeret oleh sebuah kuasa tertentu untuk melayani  kepentingan kuasa itu. Inilah yang disebut oleh Max Horkheimer sebagai  “selubung ideologis atas teori tradisional” (Sunarto dalam Listiyono  Santoso (ed), 2003, pp. 101).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, teori kritis  hendak membangun “teori dengan maksud praktis” (Hardiman, pp. 59).  Teori dan praktik tidak seharusnya dipisahkan, karena keduanya saling  terkait satu-sama-lain. Teori sosial mesti ditransformasikan dalam  realitas sosial, sementara praktik perubahan sosial perlu pijakan  teoretis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia Orde Baru, terlihat bahwa ilmu  sosial yang sifatnya positivistik itu digeret untuk melayani kepentingan  industrial rezim. Sebagai implikasinya, &lt;i&gt;kampus &lt;/i&gt;dipisahkan dari  masyarakat agar dapat berkonsentrasi untuk berkarya untuk pembangunan.  Mahasiswa yang kritis dan resisten terhadap proyek pembangunan dibungkam  dan disuruh belajar agar dapat melayani pembangunan pada akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca-Orde  Baru, relasi kuasa itu bukannya hilang, malah berubah menjadi semakin  kompleks. Keterbukaan politik mengakibatkan akses ke ranah politik  menjadi bertambah lebar. Namun, di sisi lain, terjadi sebuah  “reorganisasi oligarki” yang terjadi antara kapital dan kekuasaan dengan  modus-modus baru (lihat Vedi Hadiz dan Richard Robison, “Reorganising  Power in Indonesia”, 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dulu oligarki  mengandalkan kedekatan dengan rezim dengan ketertutupan politiknya,  sekarang oligarki justru hadir dengan memanfaatkan keterbukaan politik  melalui penguasaan modal. Akibatnya, hadirnya mereka di lingkar  kekuasaan juga mengakibatkan relasi struktural dan relasi kuasa menjadi  semakin kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, masyarakat kampus dilanda  kegamangan. Apakah harus kembali pada ontologi positivisme yang  mendikotomikan teori dan praksis, walaupun digeret oleh kepentingan  kuasa tertentu, ataukah justru melahirkan sebuah muatan baru dalam ilmu  sosial?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ilmu Sosial Transformatif&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hal  ini kemudian coba dipikirkan kembali oleh Prof. Dr. Purwo Santoso  melalui terminologi “ilmu sosial transformatif”. Ilmu sosial bukan  berarti penjarakan “subjek” atas “objek” yang ditelitinya. Seharusnya,  subjek juga bagian dari realitas yang mengabdikan ilmunya untuk  kepentingan masyarakat, dan artinya, meminjam istilah Antonio Gramsci,  seorang intelektual sosial adalah intelektual organik, yang melakukan  pemihakan pada kelas sosial tertentu secara organik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut  Purwo Santoso, ilmu sosial mesti berdimensi transformatif. Ia tidak  sekadar menjelaskan fakta-fakta sosial secara objektif, melainkan juga  menghadirkan subjek dalam realitas tersebut. Berarti, ini menolak sebuah  klaim pemisahan teori dan praksis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori adalah sebuah  instrumen normatif untuk melakukan perubahan sosial di masyarakat. Ia  sangat tergantung pada “pembuktian” di tengah-tengah masyarakat melalui  praksis. Dengan demikian, teori tanpa praksis menjadi tidak lengkap.  Begitu juga praksis tanpa teori, juga akan tidak terarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah  yang kemudian relevan bagi aktivisme mahasiswa. Penyatuan kembali  “teori” dan “praksis” sosial akan menjadikan mahasiswa tidak hanya  kritis dan pandai, tetapi juga bisa menyelami realitas masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminjam  Al-Fayyadl, salah satu kealpaan gerakan mahasiswa pasca-reformasi  adalah kegagalan dalam memetakan relasi kuasa dan relasi struktural di  sekelilingnya. Mahasiswa aktif berdemonstrasi atau melakukan sederet  aktivitas lainnya, tetapi tidak sadar bahwa aktivitas mereka digeret  untuk melayani kepentingan kuasa tertentu di luar sana, seperti  kepentingan elite-elite politik yang menjadi punya alasan sah untuk merebut  kekuasaan demi kepentingan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu,  seorang aktivis harus membekali diri dengan ilmu sosial, dan seorang  ilmuwan sosial harus aktif di tengah masyarakat dengan pelbagai  aktivitas. Tentu saja tidak banyak varian aktivisme yang bisa  dihadirkan, tergantung pada apa yang bisa diberikan kepada masyarakat  sesuai kemampuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu sosial transformatif kemudian  mengandaikan pendidikan sebagai medium aktivisme. Bagi mahasiswa,  jembatan untuk menghubungkan teori dan praksis itu sebenarnya adalah  aktivisme –dalam pelbagai bentuknya. Seorang mahasiswa yang belajar  mengenai ilmu sosial, pada hakikatnya dibebani tanggung jawab praksis  untuk mengenal dan memperjuangkan nasib masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi,  dengan ilmu sosial transformatif, seorang aktivis tidak perlu mendapat  label yang stigmatif. Justru, seorang aktivis mahasiswa yang mampu  menerjemahkan ilmunya ke dalam pembelaan hak-hak masyarakat atau  berkontribusi dalam kegiatan sosial, adalah seorang mahasiswa  transformatif yang mampu menjembatani polemik antara “teori” dan  “praksis”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Simpulan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Untuk itulah,  relasi antara aktivisme dan ilmu sosial seharusnya dimaknai sebagai  sebuah relasi yang positif dan saling mendukung. Aktivis harus membekali  diri dengan ilmu sosial untuk memetakan realitas secara komprehensif,  sementara ilmu sosial juga perlu dipraktikkan untuk menguji kebenaran  teori itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga, dengan pengembangan wacana ilmu sosial  transformatif yang digaungkan oleh Prof. Dr. Purwo Santoso ini,  penelitian-penelitian tidak lagi sekadar teronggok di atas meja. Ilmu  sosial transformatif berarti menjembatani teori dan praksis. Dan  aktivisme mahasiswa adalah salah satu medium pembelajaran hal itu bagi  mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup Mahasiswa Indonesia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Referensi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;F Budi Hardiman. &lt;i&gt;Kritik Ideologi: Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jurgen Habermas. &lt;/i&gt;Yogyakarta: Kanisius, 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Al-Fayyadl. “Bunuh Diri Kelas: Beberapa Refleksi tentang Gerakan Mahasiswa”. &lt;i&gt;Jurnal Indoprogress, &lt;/i&gt;edisi Mei 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purwo Santoso. &lt;i&gt;Ilmu Sosial Transformatif. &lt;/i&gt;Pidato Pengukuhan Guru Besar Politik &amp;amp; Pemerintahan, Fisipol UGM, 20 Juni 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;___________. &lt;i&gt;Penguatan Jati Diri dan Karakter Bangsa Melalui Pendidikan Ilmu Sosial Transformatif. &lt;/i&gt;Pidato Ilmiah, Dies Natalis ke-46, Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi, Universitas Negeri Yogyakarta, 14 September 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Richard Robison. &lt;i&gt;Indonesia&lt;/i&gt;&lt;i&gt;: The Rise of Capital. &lt;/i&gt;Sydney: Allen and Unwin, 1986.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Richard Robison dan Vedi Hadiz. &lt;i&gt;Reorganising Power in Indonesia: The Politics of Oligarchy in an Age of Markets. &lt;/i&gt;London: Routledge, 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunarto. “Konstruksi Epistemologi Max Horkheimer: Kritik atas Masyarakat Modern” dalam Listiyono Santoso, et. al. &lt;i&gt;Epistemologi Kiri. &lt;/i&gt;Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/560609633182921938-4242622781545158724?l=ibnulkhattab.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/feeds/4242622781545158724/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=560609633182921938&amp;postID=4242622781545158724' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/4242622781545158724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/4242622781545158724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/2011/12/antara-aktivisme-dan-ilmu-sosial.html' title='Aktivisme dan Ilmu Sosial'/><author><name>Ahmad Rizky Mardhatillah Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01386471685667584378</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_cgbKwDZI1UU/SHWFzmBsWcI/AAAAAAAAAB4/HMlwHe3Uw3s/S220/1_617762489l.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-560609633182921938.post-3456833080149089835</id><published>2011-12-03T23:57:00.001+08:00</published><updated>2011-12-04T00:00:11.226+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lingkungan Hidup'/><title type='text'>Celah Politik Aturan Pertambangan</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;h2 class="uiHeaderTitle"&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Headline&lt;/i&gt; Banjarmasin Post Rabu (9/11) cukup menarik dicermati bagi para pemerhati pertambangan. Lagi-lagi, kasus Amdal bodong terungkap di Kalimantan Selatan, melibatkan beberapa (mantan) pejabat terkait di daerah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, mantan Meneg LH Prof Gusti Hatta sudah merilis 8 perusahaan tambang bermasalah, yang akhirnya ditindaklanjuti dengan pencabutan izin usaha pertambangan oleh Bupati Tanah Bumbu serta pembekuan Komisi Amdal yang dinilai bermasalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, tersiar kabar bahwa perusahaan yang tidak mematuhi peraturan Amdal tidak hanya 8 perusahaan, seperti dirilis Meneg LH, melainkan 39. Bagi pemerhati lingkungan, hal semacam ini tentu melahirkan keterkejutan sendir, sebab mengisyaratkan peraturan pertambangan yang masih belum berpihak pada lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span class="photo_left" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="photo_img img" height="213" src="https://fbcdn-photos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-snc7/373982_2456918195842_1638747810_2366303_208150169_a.jpg" width="320" /&gt;&lt;span class="caption"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="photo_left" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span class="caption"&gt;courtesy of Media Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertambangan Problematis?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Fakta-fakta ini mengantar kita pada sebuah pertanyaan: apakah memang aturan pertambangan selama ini terlalu longgar hingga menimbulkan banyak celah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah pertambangan Indonesia memang kerap melahirkan banyak masalah. Dari Papua sampai Bojonegoro, korporasi tambang melahirkan banyak friksi dan intrik dengan masyarakat dan pemerintah daerah terkait banyak hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari riset saya di Bojonegoro setahun silam, misalnya, terungkap fakta bahwa pertambangan minyak punya banyak dampak sosial dengan masyarakat. Ketidakmerataan kesejahteraan masyarakat di wilayah sekitar tambang, CSR yang kurang transparan, hingga konflik lokal terjadi sebagai imbas dari pertambangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu. dari segi tata kelola pertambangan, pemerintah daerah tidak punya kewenangan karena kendali berada di bawah pemerintah pusat. Sehingga, banyak masalah lokal yang cukup problematis dalam hubungan pemerintah, masyarakat, dan korporasi tambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di daerah lain, penolakan masyarakat juga cukup kencang. Hingga saat ini, masyarakat pesisir selatan Kulon Progo masih kukuh dengan penolakan terhadap pertambangan pasir besi yang mereka nilai merugikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tukijo, seorang petani di wilayah tersebut, ditangkap dan divonis penjara karena penolakannya dinilai meresahkan dan memprovokasi masyarakat. Beberapa aktivis merespons vonis tersebut dengan melakukan aksi mogok makan di DPRD Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah lain kerap juga terjadi dalam soal lingkungan. Dalam soal lingkungan, saat ini memang sudah ada mekanisme Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). Hanya saja, apakah mekanisme tersebut efektif dalam mencegah kerusakan lingkungan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 11 Tahun 2006 menyatakan bahwa untuk bidang pertambangan yang wajib Amdal antara lain adalah usaha pertambangan umum yang memiliki perizinan (KP) yang luasnya &amp;gt; 200 ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di beberapa daerah, prosedur Amdal ini banyak mengalami masalah. Kasus terbaru di Tanah Bumbu, Komisi Amdal sendiri justru dinilai gagal menjalankan tugasnya. Di beberapa daerah, terjadi kasus Amdal bodong. Ini jelas masuk kategori korupsi politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Politik Otonomi Daerah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jika dilacak secara politiik, hal-hal tersebut mengisyaratkan masih  adanya problema dalam pelaksanaan Otonomi Daerah. Sebab, muara dari permasalahan kesalahan tata kelola yang bersifat administratif dan politis adalah mekanisme redistribusi kekuasaan dari pusat ke daerah yang diatur dalam format Otonomi Daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasar UU 28/1999 yang kemudian direvisi oleh UU 32/2004, alokasi kekuasaan untuk mengelola sumber daya alam di daerah diberikan kepada Pemerintah Daerah. Semangatnya tentu saja untuk mendesentralisasi kewenangan agar tidak hanya dimoniopoli oleh kekuatan yang ada di pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pada praktiknya juga muncul imbas 'negatif' dari otonomi daerah, yaitu desentralisasi korupsi. Meminjam bahasa Hadiz (2005) desentralisasi menciptakan relasi-kekuasaan dan relasi-modal baru di level daerah, meniscayakan adanya bentuk-bentuk kekuatan informal yang menjaring kekuasaan negara melalui praktik oligarki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vedi Hadiz sendiri melihat bahwa warisan Orde Baru yang sesungguhnya ada pada olligarki antara modal dan kekuasaan. Kejatuhan Orde Baru tidak meniscayakan adanya pergeseran dalam relasi-kekuasaan -yang sesungguhnya dicoba untuk diformat ulang dengan pendekatan neo-institusionalis- tetapi juga melahirkan dampak berupa kemunculan kekuasaan baru yang tidak berlindung di bawah negara, melainkan di bawah kekuatan informal yang bernama modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relasi modal ini yang menjelaskan mengapa desentralisasi politik pasca-Orde Baru justru diiringi oleh korupsi politik yang menggejala hampir di semua lini. Sebab, kematian Orde Baru tidak diiringi oleh kematian modal, justru ada gejala kekuatan pemodal untuk 'memperbarui diri' melalui perubahan politik yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam studinya, Hadiz mencatat bahwa kemunculan &lt;i&gt;political gangsterism &lt;/i&gt;di banyak daerah merupakan 'efek samping' dari Otonomi Daerah yang diiringi oleh kelahiran kembali kekuatan modal. Atau, praktik pengelolaan anggaran daerah yang bermasalah, seperti terjadi dalam kasus APBD Kota Banjarmasin tahun 2003 yang menyeret hampir semua anggota DPRD ke meja hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korupsi di sektor sumber daya alam sesungguhnya mengafirmasi gejala tersebut: Desentralisasi direspons dengan masuknya kekuatan modal ke dalam pengelolaan sumber daya alam di daerah, melahirkan skema baru kekuasaan yang tidak kalah koruptif di masa Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus Kalimatan Selatan, politik Otonomi Daerah berdampak terhadap pengelolaan sumber daya alam yang masih bermasalah. Bagaimana kita menghadapinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Minim Regulasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata kunci yang menjelaskan peran pemerintah daerah dalam politik pertambangan lokal adalah aturan main. Banyaknya celah regulasi yang longgar akan membuka ruang-ruang baru bagi praktik korupsi politik, seperti dalam hal pengurusan Amdal yang bermasalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, sebetulnya perlu aturan yang lebih ketat untuk mengatur masalah pertambangan, tidak hanya dalam mengamankan kepentingan negara, tetapi juga mendamaikan dengan masyarakat yang terimbas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Regulasi yang selama ini digunakan di Kalimantan Selatan adalah Perda No. 2 Tahun 2009, yang mengatur pengelolaan pertambangan umum. Peraturan lain, misalnya, Perda No. 3 tahun 2008 yang baru saja direvisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aturan pertambangan tersebut, jika boleh saya kritisi, sebetulnya mengundang banyak celah jika tidak diikuti oleh peraturan lain yang sejenis. Celah tersebut, misalnya, dapat dilihat pada tidak adanya pasal yang memberi kewajiban tanggung jawab sosial dan lingkungan secara spesifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, pasal 15 mengenai penggunaan sarana umum untuk keperluan tambang, akan memberi beban kepada masyarakat dan pemerintah jika tak diiringi dengan aturan khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah jalan tambang yang sudah diatur oleh Perda 3/2008 selama ini memberikan beban polusi udara dan kerusakan jalan negara yang ironisnya harus ditanggung pemerintah. Sayangnya, Perda tersebut direvisi beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan lahan juga penting. Pembebasan lahan yang dilakukan terhadap pertanian warga akan berdampak pada kehilangan profesi bagi petani, sehingga masyarakat tetap tidak dapat lepas dari jerat kemiskinan walau sudah diberi ganti rugi yang tak seberapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, pertambangan juga kerap berbenturan dengan konservasi sumber daya hutan. Menurut Walhi Kalsel, data terakhir menyebutkan ada 510 kuasa pertambangan, dan 23 PKP2B luas seluruh perizinan mencapai 1.2 juta hektar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Total perijinan tambang di Kalsel 2,5 juta Ha (luas daratan Kalsel 3,7 juta Ha), Produksi tambang batubara di Tahun 2010 tercatat 86 juta ton atau turun 10 juta ton dibandingkan produksi 2009 yang mencapai 96 juta ton. Hal ini memicu satu bencana alam yang sepertinya terjadi rutin di Kalimantan Selatan, yakni banjir. Bahkan hingga saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balitbangda Kalsel, melalui rilisnya ke Antara, menyebutkan bahwa masalah deforestasi dan pertambangan punya andil terhadap bencana banjir Kalsel. Problem-problem tersebut tidak diatur jelas di Perda, sehingga banyak kasus konflik di masyarakat dan problem lingkungan yang tak teratasi. Penggunaan lahan untuk kepentingan pertambangan menjadi sesuatu yang problematis: bolehkah hutan dijadikan areal pertambangan hanya karena punya potensi alam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di Perda No. 2 Tahun 2009, untuk mencegah masalah ini terjadi, tidak ada kewajiban Perusahaan Tambang. Ini tentu ironis, sebab hasil tambang itu masuk ke kantung perusahaan, sementara dampaknya ditanggung daerah. Belum lagi soal hutan yang semakin berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara peraturan perundang-undangan yang ada, seperti UU 41/1999 tentang Kehutanan belum mengantisipasi konflik semacam ini. Perlu ada analisis yang lebih mendalam dari perspektif kehutanan terhadap problem tambang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan perlu dicatat, problem sejenis tak hanya terjadi di Kalsel, tetapi juga beberapa daerah yang sempat saya riset seperti Kulon Progo atau Bojonegoro. Saya kira, fenomena desentralisasi ini perlu menjadi bahan kajian aktivis-aktivis mahasiswa di daerah, dengan menekankan riset dan basis data agar bisa diadvokasi ke pemerintah maupun masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Perlu Kontrol&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;b&gt;Masyarakat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, dalam konteks ini, saya kira perlu ada pengetatan aturan pertambangan melalui pembuatan Perda yang mengatur dengan tegas masalah-masalah pertambangan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah ada gagasan mengenai Perda Reklamasi bekas lahan tambang. Ini tentu perlu diapresiasi, walaupun tentu saja itu belum cukup. Reklamasi penting agar perusahaan bertanggung jawab terhadap aspek lingkungan dari bekas lahan tambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, perlu pula dimunculkan Perda lain soal tanggung jawab konservasi lingkungan, akuntabilitas korporasi dalam penyaluran CSR, dan penegasan hak-hak masyarakat. DPRD perlu memasukkan mereka sebagai agenda legislasi. Sehingga, logika pengelolaan tambang tidak hanya bertumpu pada kepentingan pemerintah, tetapi juga kepentingan masyarakat secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berharap, DPRD dapat lebih produktif dalam melakukan kajian kebijakan dan perumusan Perda yang berpihak pada masyarakat dalam hal pertambangan. Kita tentu tak ingin hasil bumi kita dikeruk tapi hasilnya dibawa lari. Dan kesadaran atas 'hak masyarakat' ini yang perlu dibumikan, bahwa sumber daya alam tidak hanya milik pemerintah daerah, tetapi juga milik segenap rakyat Indonesia -terutama yang bergelut di wilayah SDA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan skema kontrol masyarakat sipil juga perlu dibangun. Semoga bisa melahirkan kebijakan pertambangan yang lebih baik ke depannya, tidak hanya di Kalimantan Selatan, tetapi juga di segenap penjuru Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Nuun wal Qalami wa Maa Yasthuruun.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) &lt;i&gt;Tulisan ini merupakan pemantik diskusi yang diadakan oleh  Departemen Kajian Strategis, Lembaga Eksekutif  Mahasiswa Fakultas  Kehutanan UGM, 16 November 2011. &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Diskusi menghadirkan Prof. Dr. Ir Chafied Fandeli sebagai pembicara. Artikel di sini adalah penyempurnaan dari draft awal.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/560609633182921938-3456833080149089835?l=ibnulkhattab.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/feeds/3456833080149089835/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=560609633182921938&amp;postID=3456833080149089835' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/3456833080149089835'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/3456833080149089835'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/2011/12/sketsa-otonomi-daerah-celah-politik.html' title='Celah Politik Aturan Pertambangan'/><author><name>Ahmad Rizky Mardhatillah Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01386471685667584378</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_cgbKwDZI1UU/SHWFzmBsWcI/AAAAAAAAAB4/HMlwHe3Uw3s/S220/1_617762489l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-560609633182921938.post-3302281219829960432</id><published>2011-12-01T14:06:00.001+08:00</published><updated>2011-12-01T14:07:17.470+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><title type='text'>Menyoal Deradikalisasi</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;SOLO bergolak. Indonesia kembali dikejutkan oleh sebuah ledakan Bom di Solo, menewaskan beberapa orang. Ledakan bom ini mengejutkan beberapa pihak, sebab disinyalir sel-sel teroris -mungkin begitu yang sering disebut pihak kepolisian- masih ada dan beroperasi di Indonesia. Kini, polisi masih memburu pelaku dan mencoba mengungkap motif di baliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Program Deradikalisasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Apa makna di balik teror bom kali ini? Benarkah isu bom ini terkait isu konflik horisontal di Ambon beberapa waktu lalu? Dan adakah kaitan bom ini dengan kelompok "Islam Radikal" yang disinyalir terlibat beberapa pengeboman?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak ingin menuduh terlalu dini siapa yang berada di belakang pengeboman itu. Pelaku bisa saja merupakan jaringan teroris lama seperti dituduhkan, tetapi bisa saja jaringan dari sel-sel baru yang terbentuk. Tetapi, yang jelas, bom ini kemudian dikaitkan dengan radikalisme, yang akhirnya menyeret agama ke dalam permukaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaan mengenai siapa yang berada di balik pengeboman ini kemudian mengarahkan kita pada diskursus mengenai "radikalisme". Sesungguhnya, diskursus ini bukan sesuatu yang baru. Beberapa pengamat terorisme, seperti Sidney Jones dan beberapa pengamat lain, misalnya, segera menuding radikalisme agama sebagai "tersangka".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, jalan yang ditawarkan adalah deradikalisasi. Kelompok yang dinilai punya tendensi pemikiran "radikal", harus di-"deradikalisasi" sehingga bisa kembali "normal" di masyarakat. Dan hal ini segera disambut oleh pemerintah sebagai jurus jitu dalam mencegah teror.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program deradikalisasi tersebut, sebagaimana dilansir Kompas (27/9), adalah memisahkan semangat "radikalisme" dari agama. Caranya, menanamkan nilai-nilai agama yang "tidak radikal", yang inklusif, toleran, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya, benarkah teror bom ini merupakan ekspresi dari radikalisme? Dan tepatkah konsepsi deradikalisasi dalam menahan terorisme di Indonesia? Ada hal-hal yang sepertinya problematis dalam pembacaan mengenai "radikalisme" tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Redefinisi "Radikalisme"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Perlu ada pembacaan ulang soal "radikalisme". Dalam wacana yang tersirat dari pelbagia pemberitaan media, "radikalisme" sering berhimpit dengan terminologi "negativitas" (kekerasan). Padahal, dua hal tersebut jelas berbeda. Praktik terorisme jelas adalah bentuk negativitas, tetapi ia tidak lantas disinonimkan dengan radikalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Radikal" -dalam makna &lt;em&gt;litterlijk- &lt;/em&gt;adalah sebuah ekspresi keberakaran sebuah pemikiran. Berpikir radikal belum tentu diekspresikan dengan tindak kekerasan. Radikalisme akan muncul jika kita mengupas literatur-literatur Marxisme atau Gerakan Politik Islam. Keduanya berhampiran, tapi sama sekali berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam literatur-literatur Marxian, radikalisme sering disandingkan dengan istilah revolusioner. Marx menyebut istilah "Radikal" dalam &lt;em&gt;The Communist Manifesto &lt;/em&gt;untuk menyebut mereka yang merintangi jalan sosialisme Marx, meskipun di tulisan tersebut ia juga menyiratkan adanya sebuah revolusi yang "radikal", yaitu menyerang &lt;em&gt;private property &lt;/em&gt;yang menurutnya adalah sumber permasalahan dari ketertindasan kaum buruh (p. 50).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Literatur pasca-Marx, seperti kalangan penganut teori kritis, menggunakan istilah "radikal" untuk menyatakan teori yang radikal dan emansipatoris dari bentuk-bentuk teori tradisional yang dibawa oleh positivisme logis. Artinya, istilah "radikal" sudah masuk pada perdebatan ontologis. Penggunaan istilah ini tentu mengubah persepsi soal radikalisme, yang berarti tidak hanya berada pada level praksis-tindakan-stratak seperti dipahami Marx, tetapi juga bisa dipersepsi lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal serupa juga terjadi dalam literatur Islam. Hassan Hanafi dengan konseps filosofisi Kiri Islam (&lt;em&gt;Al-Yasar Al-Islamy&lt;/em&gt;) mencatat bahwa konsepsi agama yang jumud dan kaku harus diganti dengan konsepsi agama yang liberatif (&lt;em&gt;taharrur&lt;/em&gt;) dan transformatif. Artinya, gerakan-gerakan Islam harus melandaskan pisau analisisnya pada Islam yang "radikal": ia menyebutnya sebagai Islam yang bersifat kritis dan korektif terhadap kekuasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengutip Kazuo Shimagaki (1993), konsepsi ini mengandaikan agama sebagai semangat perubahan sosial, yang berarti menjadikan pemahaman agama yang radikal sekaligus rasional sebagai alat perlawanan atas ketertindasan yang dialami umat Islam. Berarti, Islam radikal adalah ekspresi perlawanan, bukan kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, dengan demikian, radikalisme perlu dibaca dalam kerangka berpikir yang lebih luas. Radikalisme, dengan konsepsi "Kiri Islam" Hassan Hanafi atau "Teori Kritis" Max Horkheimer bukan energi pencipta terorisme yang dibentuk dalam jaring-jaring sel rahasia, melainkan sebuah ekspresi respons atas ketertindasan dan ketidaksetujuan atas hegemoni teori-teori positivis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terorisme tidak lantas bisa disinonimkan dengan radikalisme. Sebab, menjadi radikal tidak lantas mengekspresikannya dengan teror. Menyamakan radikalisme dengan terorisme bisa jatuh pada sesat pikir. Saya kira, lebih tepat menggunakan istilah negativitas, sebagai diskursus yang lebih mendekati pada kajian-kajian terorisme dan keamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praksis dari negativitas, seperti dinyatakan oleh F. Budi Hardiman, salah satunya adalah kekerasan.&amp;nbsp; Mereka yang termarjinalisasi dalam proses  globalisasi dewasa ini adalah mereka yang rentan dikorbankan menjadi "massa". Akhirnya, marjinalisasi itu melahirkan kekerasan massa dengan nama identitas-identitas tertentu, seperti agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Konteks Indonesia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lantas, dalam konteks Indonesia, bagaimana meluruskan kesalahpahaman soal radikalisme dan negativitas itu? Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah melacak akar dari radikalisme Islam itu di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vedi Hadiz (2010), dengan pendekatan struktural-historisnya yang khas, mencatat bahwa radikalisme tumbuh dari ketertindasan kelas. Selama Orde Baru, umat Islam mengalami marjinalisasi politik yang cukup lama dan sistematis. Sebab, ekspresi ideologi Islam dikubur hidup-hidup, digantikan oleh ideologisasi Pancasila yang penerapannya sangat dipaksakan dan cenderung jadi alat kepentingan rezim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Represi politik yang dilakukan oleh rezim Orde Baru secara sistematis, serta hegemoni modal yang memarjinalkan aspirasi kelas menengah Islam menyebabkan segelintir dari mereka -yang punya pemahaman keislaman kuat tapi termarjinalkan dalam akses ekonomi, politik, dan kultuiral, kemudian meradikalisasi diri untuk dapat merebut peran-peran negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlawanan mereka semakin dilegitimasi oleh hegemoni global yang menindas umat Islam di beberapa belahan dunia lain. Perlu diingat, dalam Islam ada doktrin "ukhuwah" yang menafikan batas-batas geografis nasional ketika berhubungan dengan muslim yang lain. Islam melekat sebagai identitas universal. Wajar jika represi di satu tempat menimbulkan respons di tempat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, radikalisme dipupuk secara perlahan-lahan dan menjadi sebuah alat untuk menggelorakan perlawanan terhadap rezim politik -baik di level nasional maupun global. Dan hal ini terjadi baik sebelum 1998 maupun setelah 1998, juga terjadi tidak hanya pada gerakan Islam, melainkan juga gerakan kiri maupun gerakan mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, perlu dicatat, radikalisme ini tidak bisa dikatakan terbentuk dalam sebuah kesatuan yang utuh. Kita bisa melihat adanya fragmentasi dari kelompok Islam yang menggunakan "radikalisme" sebagai alat perlawanan. Kelompok yang agak moderat justru mengekspresikan radikalisme ini dalam bentuk partisipasi politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca-1998, gerakan politik Islam yang "radikal" di Indonesia seperti Hizbut Tahrir atau Tarbiyah (transformasi Ikhwanul Muslimin, lih. Said Ali Damanik, 1998) justru menggunakan momentum demokratisasi untuk meneguhkan eksistensi diri. Kelompok Tarbiyah yang menjelma menjadi PKS mengalami moderasi dan bergumul dengan realitas politik Indonesia. Sementara itu, HTI memilih berada di lajur ekstraparlementer, dan belakangan menjadi ormas, yang artinya masuk pada ranah civil society.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya tetap radikal secara internal-organisasional, tetapi moderat pada tampilan eksternal. Dan ekspresi yang ditampilkan juga bukan ekspresi negatif yang berorientasi pada kekerasan, tetapi lebih pada kritik pada kuasa-kuasa yang koruptif. Hal ini tentu sejalan dengan proses demokratisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potret radikalisme semacam ini tidak hanya terjadi pada tataran gerakan Islam, tetapi juga pada elemen lain, seperti gerakan mahasiswa. Pola yang bisa kita lihat, gerakan-gerakan yang di akhir era Orde Baru bergerak radikal, setelah reformasi mengalami proses moderasi. Radikalisasi tetap ada, tetapi ditampilkan dengan cara yang positif. Mengapa itu bisa terjadi? Hipotesis penulis, akses politik yang terbuka-lah yang menyebabkan moderasi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ekspresi Negatif&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lantas, ketika kebebasan dan akses politik sudah mulai terbuka, mengapa masih ada kelompok yang mengekspresikan radikalisme dengan negativitas? Ada dua hipotesis yang saya ajukan untuk menjawab pertanyaan tersebut. &lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertama, &lt;/em&gt;kebebasan politik yang ada masih menyisakan satu problem, yaitu kuasa dan hegemoni modal yang menutup akses-akses politik sebagian orang. Kebebasan secara formal memang sudah ada, namun secara substansial kebebasan tersebut cenderung dimonopoli oleh satu kelompok tertentu. Merekalah yang memiliki modal untuk membeli kebebasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potret neoliberalisme dan kembalinya hegemoni pasar ini menyebabkan adanya marjinalisasi-marjinalisasi baru. Dan sebagai akibatnya, muncullah ekspresi sebagian kelompok yang ingin melawan hegemoni ini. Salah satu ekspresi perlawanan tersebut adalah kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potretnya dapat dilihat pada kisruh Ambon. Sebetulnya, persoalan Ambon banyak diwarnai oleh kesenjangan ekonomi dan hegemoni elit-elit lokal yang menindas kelompok lain. Celakanya, hegemoni tersebut bernafaskan agama sehingga konflik yang muncul juga cenderung rasial. Ini menyebabkan kerusuhan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks terorisme, jika tuduhan bahwa bom Solo berkait dengan kasus Ambon itu benar, berarti hipotesis ini juga mendekati kebenaran pembuktian. Tentu saja ada variabel lain yang perlu diuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua, &lt;/em&gt;proses globalisasi yang muncul dewasa ini telah menyebabkan arus informasi beredar luas. Dan informasi tersebut membuka fakta gerakan-gerakan radikal bahwa hegemoni global yang menindas umat Islam di belahan bumi lain masih terjadi. Dan pengeboman ini adalah simbol solidaritas tapi diekspresikan dengan negativitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Variabel ini bisa dibuktikan jika memang sel-sel yang bersifat transnasional itu terbukti. Artinya, jaringan terorisme memang bersifat lintas-negara; isu yang diangkat adalah isu transnasional, dan wilayah operasional juga tidak dibatasi oleh batas geografis. Tentu saja, ini menunggu pembuktian dari pembongkaran sel-sel jaringan teroris, kalau memang itu benar ada. &lt;em&gt;Wallahu a'lam bish shawwab.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perlukah Deradikalisasi?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jika dua hal tersebut dikombinasikan, kita akan melihat bahwa persoalan terorisme sebetulnya didukung oleh &lt;em&gt;ungovernability &lt;/em&gt;negara dan paradoks yang ditampilkan rezim neoliberal pasca-1998. Negara gagal menjaga keamanan warganya alih-alih menjamin keadilan sosial, sementara mereka yang bermodal semakin asyik berselingkuh dengan kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari itu, meletakkan deradikalisasi sebagai solusi dalam memerangi terorisme akan menjadi kurang tepat. Sebab, selama faktor-faktor yang mendukung adanya marjinalisasi satu kelompok atau menindas kelompok lain itu masih ada, radikalisme itu masih akan tetap digunakan sebagai media perlawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan yang bisa ditawarkan menjadi lebih bersifat struktural. Dalam level analisis sistem internasional, program &lt;em&gt;war against terrorism &lt;/em&gt;yang digembar-gemborkan oleh Amerika Serikat perlu dievaluasi secara kritis. Sebab, program yang berorientasi pada deradikalisasi dan penggunaan militer ini bukannya melemahkan radikalisme, tetapi justru menumbuhkan tunas-tunas baru gerakan radikal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbukanya akses politik memang membuat gerakan-gerakan yang tadinya radikal mengalami moderasi. Namun pembukaan akses politik saja tidak cukup. Penjaminan keadilan ekonomi dan politik, serta pencapaian aspirasi kelompok radikal bisa menjadi jalan untuk "deradikalisasi" secara lebih tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, melawan ideologi "terorisme" akan sangat rancu dan overgeneralistis jika hanya mengarahkan pada radikalisme yang pembacaannya tidak tuntas. Sebagai wujud solidaritas atas korban pengeboman di Solo tempo hari, perlu kita sampaikan pada pemerintah: jaminkan keadilan sosial atas seluruh rakyat Indonesia untuk memerangi negativitas dan terorisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga pertunjukan Bom ini tidak lagi menghantui kita, sekaligus tidak direspons oleh "politik ketakutan" yang membabi-buta dari negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;lebih banyak soal akar radikalisme Islam di Indonesia, lihat tulisan terbaru saya di Jurnal Sosial Politik (JSP) Fisipol UGM yang berjudul "Melacak Akar Radikalisme Islam di Indonesia" Jurnal Sosial Politik vol 14 no. 2 tahun 2011. Salam.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/560609633182921938-3302281219829960432?l=ibnulkhattab.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/feeds/3302281219829960432/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=560609633182921938&amp;postID=3302281219829960432' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/3302281219829960432'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/3302281219829960432'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/2011/12/menyoal-deradikalisasi.html' title='Menyoal Deradikalisasi'/><author><name>Ahmad Rizky Mardhatillah Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01386471685667584378</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_cgbKwDZI1UU/SHWFzmBsWcI/AAAAAAAAAB4/HMlwHe3Uw3s/S220/1_617762489l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-560609633182921938.post-2080648249804723239</id><published>2011-12-01T14:03:00.001+08:00</published><updated>2011-12-01T14:05:20.990+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keislaman'/><title type='text'>Antara Karl Marx dan Sayyid Quthb</title><content type='html'>&lt;blockquote style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;"&lt;i&gt;Seorang santri yang besar di pesantren, lalu  terlempar dalam realitas  urban yang sarat kontradiksi, dan mempelajari  Marxisme, barangkali akan  menemukan Marxisme-nya sendiri yang lahir  dari persilangan hibrid yang  tak akan sederhana antara kitab kuning dan  filsafat&lt;/i&gt;" -Muhammad Al-Fayyadl-&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Ideologi sudah mati, begitu titah Daniel Bell beberapa puluh tahun silam. Rupanya, kematian ideologi ini dianggap serius sebagai kemunculan &lt;i&gt;centrism &lt;/i&gt;dalam politik, &lt;i&gt;moderatism &lt;/i&gt;dalam agama, maupun &lt;i&gt;universalisme &lt;/i&gt;dalam teori sosial. Kiranya, pemilahan dunia menjadi ideologi-ideologi yang fragmentaris, saling meniadakan satu sama lain, dan saling berkonflik itu harus direvisi, karena dunia sudah satu saat ini dalam ideologi pasar?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Benarkah itu bakal terjadi? Apakah memang pertentangan ideologi itu sudah mati?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;****&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Tak ada yang meragukan bahwa Karl Marx dan Sayyid Quthb berada di jalan yang sama sekali berseberangan. Antara materialisme di satu sisi -dan idealisme di sisi lain. Namun, percayakah anda, bahwa walau jalan keduanya membentang ke arah berlawanan, terdapat titik-titik di mana -rupanya- pernah ada persilangan antara kedua tokoh dari dua peradaban yang berbeda ini?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Kita tentu kenal tokoh pertama. Namanya menjadi semacam azimat bagi gerakan anti-kapitalisme di awal-awal industrialisasi, hingga menjadi tokoh yang dipuja-puji oleh negara penganut komunisme. Ia menulis sebuah "kitab kuning" yang menjadi acuan gerakan penolak kapitalisme: &lt;i&gt;Modal. &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Marx, yang sangat materialistis, mengkritik idealisme Hegelian dengan sangat sengit, skeptis terhadap agama, dan tidak percaya pada kekuatan metafisis sebagai pembangkit perubahan sosial yang dianggapnya mengalienasi manusia, &lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;seringkali dianggap berada di sentrum titik paling "kiri", radikal, dan diasosiasikan sebagai "hantu" bagi kapitalisme yang menjangkiti dunia pada eranya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Namun, di sisi lain, dengan tak kalah radikalnya, Sayyid Quthb yang dianggap pula sebagai "&lt;i&gt;spectre&lt;/i&gt;" bagi kaum nasionalis militer Mesir itu mengampanyekan revolusi tauhid, perang terhadap materialisme, jihad melawan semua hal yang bertentangan dengan tauhid, serta memurnikan aqidah dari perselingkuhannya dengan kuasa-kuasa yang tak &lt;i&gt;genuine &lt;/i&gt;dari Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Yang benar adalah benar; dan yang salah tak mungkin bisa menjadi benar: inilah prinsipnya yang sangat tegas soal Aqidah. Dalam tubuhnya yang renta oleh siksaan rezim militer Mesir, suaranya tetap lantang meneriakkan &lt;i&gt;kalimah haq: &lt;/i&gt;tauhid takkan tergantikan oleh hal yang sifatnya material. Oleh sebab itulah, namanya selalu dikenang dan harum bagi kalangan &lt;i&gt;Jamaah Jihad. &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Keduanya tentu berada pada kutub yang berseberangan. Tidak ada yang bisa menolak hal itu. Namun, apakah perbedaan keduanya itu adalah perbedaan yang vis-a-vis; hitam-putih, dan tak mungkin bertemu?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Baik penganut Marx-isme dan Islam-isme, tentu saja akan menyatakan ya. Dalam ranah kebenaran yang subjektif, keduanya pasti akan saling menegasikan satu sama lain. Itulah ideologi. Kebenaran sifatnya final, tak ada tawar-menawar. Marxisme akan vis-a-vis dengan Islam, dan sebaliknya, Islam juga akan vis-a-vis dengan sosialisme. Sebab, tak bisa tidak, kemutlakan Islam atas Marxisme -atau sebaliknya- adalah harga mati!&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Akan tetapi, dalam ranah kebenaran yang objektif, yang tidak diserimpungi oleh kuasa subjek, apakah jawaban demikian masih bertahan? Saya kira bisa ya, bisa juga tidak. Pada tingkat yang lebih rendah: strategi dan taktik gerak (stratak), ataupun perjuangan politik, keduanya masih mungkin bersilangan, alias bertemu di satu titik yang rumit, tak sederhana.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Marxisme boleh saja mengklaim berbeda dengan Islamisme pada ranah kebenaran. Tapi, ketika dihadapkan pada realitas sosial yang dipenuhi oleh relasi-kuasa yang saling menindas (yang lemah), bagaimana respons keduanya?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Marx ketika berhadapan dengan kapitalisme segera mencurigai mereka merampas peran negara dan menjadikannya sebagai arena kekuasaan. Dan benar saja: negara adalah manifestasi kekuasaan kaum kapitalis, mereka yang punya modal, dan tidak serta-merta berpihak pada mereka yang membutuhkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Apa yang ia tuduhkan dalam kitab kuningnya yang lain, "&lt;i&gt;Ideologi Jerman&lt;/i&gt;", soal posisi negara yang jadi alat &lt;i&gt;tawur &lt;/i&gt;kepentingan borjuis pemilik modal, segera terbukti dalam era pasca-kapitalisme yang mewujud di negara-negara berkembang.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Vedi Hadiz dan Richard Robison menyebutnya sebagai "oligarki". Foucault membahasakannya dengan "relasi kuasa". Negara tidak seindah yang dibayangkan kaum liberal, rupanya. Negara yang diduga netral, mengayomi, dan mengacu pada hukum legal, nyatanya hanya selubung dari kaum kapitalis agar ia bisa melebarkan praksis kekuasaannya. Dan untuk itu, Marx menitahkan pengikutnya untuk melakukan satu hal yang sepertinya besar: revolusi.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Tetapi, ternyata Sayyid Quthb rupanya berpikir tak jauh berbeda. Ketika represi Gamal Abdul Nasser pada kelompok &lt;i&gt;Al-Ikhwan Al-Muslimun, &lt;/i&gt;berada pada titik terpuncaknya, dan oleh karenanya harus menyebabkan ia dan ribuan aktivis gerakan ini ditangkap, Quthb justru mengkhotbahkan perlawanan secara lebih hebat.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Melalui bukunya yang tersohor, &lt;i&gt;Petunjuk Jalan, &lt;/i&gt;ia menggelorakan iman para &lt;i&gt;mujahid &lt;/i&gt;dengan seruan jihadnya yang berlandas pada Tauhid. Ia tidak sekadar menjadikan Tauhid sebagai "pandangan dunia" (&lt;i&gt;at-tashawwur al-Islamy&lt;/i&gt;), tapi juga secara lebih luas menjadikan Tauhid sebagai alat menggelorakan perlawanan terhadap rezim yagn menindas. Ia tak sekadar bicara soal kapitalisme; ia juga bicara soal dimensi agama yang revolusioner.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Sandaran Quthb dalam bicara soal perlawanan tak se-&lt;i&gt;njlimet &lt;/i&gt;Marx yang bergumul dengan teks-teks filsafat. Bagi Quthb, Al-Qur'an cukup menjadi penyemangat. Untuk itulah ia menyeru para pemuda untuk menjadi generasi Qur'ani. Karena, baginya, revolusi akan bermula dari sana. Revolusi dalam Islam, berarti penghancuran segala bentuk pemberhalaan manusia yang merintangi hubungannya dengan sang pencipta.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dari sini, ia kemudian bicara soal perubahan sosial alias revolusi. Titik tolaknya memang berbeda dari Marx, tapi nalar revolusionernya bersentuhan. Menurut Quthb, Perubahan Islam berarti meninggalkan sistem produk manusia untuk memilih sistem ciptaan Allah. Dan dalam level kolektif-masyarakat, konsekuensi logisnya adalah revolusi berbasis Tauhid, mengecam segala bentuk kekuasaan yang menindas (karena berbeda dengan basis aqidah yang kuat), serta menyerukan kembali pada sang pencipta: Allah!&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Maka dari pemikiran inilah, saat dakwah dihalangi oleh kekuatan politik atau  kekuasaan, maka jihad harus menetralisir kekuatan itu sehingga dakwah  bebas disebarkan. Jihad dengan demikian adalah praksis revolusioner dari Tauhid. Dan ini yang kemudian digelorakannya untuk melawan rezim Nasser, lalu Sadat, dan akhirnya Mubarak.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Marx dan Quthb boleh-boleh saja dianggap berbeda karena memulai pada titik yang bertentangan. Tapi, tak dapat dinafikan, praksis keduanya bertemu di satu titik. Itulah revolusi. Gagasan keduanya tentang revolusi mengilhami banyak gerakan Islam maupun gerakan sosialis yang anti-kapitalisme. Quthb mengilhami Jamaah Jihad, sementara Marx menjadi inspirator komunisme.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Gagasan keduanya yang revolusioner memberi titik tekan yang berbeda ketika dibandingkan dengan pemikiran lain. Teks-teks Marxisme segera menjelma menjadi sesuatu yang sangat ditakuti waktu itu. Sebab, ia tak hanya berarti ontologis semata, bercerita tentang sesuatu, melainkan juga mengajak pada perubahan. Kaum Buruh yang selama ini diperas tenaganya oleh prosedur kapitalisme, tentu akan terkesima. Ia ditakuti negara.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Begitu juga Quthb. Buku-bukunya tidak lantas menjadi sesuatu yang melenakan umat Islam pada spiritualitas yang terlampau dalam, tetapi menjadi semacam api pengobar semangat untuk berjuang atas nama Islam. Aktivis muslim kelas menengah -yang posisi sosialnya agak ke bawah karena melihat praktik penindasan atas umat- juga akan terkesima. Dan akhirnya, ia ditakuti oleh negara hingga mengakibatkan ulama ini dihukum mati.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Revolusi keduanya tentu akan membawa kita pada dua &lt;i&gt;output &lt;/i&gt;yang berbeda. Tapi, Marx dan Quthb seakan mengajarkan pada kita satu hal yang beririsan: Teks itu bukan sekadar teks kosong, yang bisa saja jadi dalih penguasa untuk mengasingkan rakyatnya dari realitas empiris atau idealisasi nilai yang kokoh, tetapi juga sebuah teks yang memihak. Teks adalah alat perlawanan. Dan dalam konteks hegemoni modal seperti saat ini, Teks adalah pendukung perubahan sosial.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Marx dan Quthb juga seakan berbicara, bahwa revolusi itu niscaya. Ketika penindasan telah terkulminasi menjadi sebuah letupan kekecewaan yang berujung pada ketidakpuasan, senjata perlawanan pasti akan segera diangkat. Kaum Buruh dan Aktivis Jihad -yang ditangkap karena dianggap terlampau radikal itu- jika ditindas, tentu akan melawan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan ekspresi perlawanan ini bermacam-macam, tidak tunggal. Ada yang bisa dipahami dalam kerangka "sekadar" pemogokan atau demonstrasi anarkis "biasa", tetapi juga ada yang mengekspresikan perlawanannya dengan merusak fasilitas umum maupun meledakkan bom di tempat yang disimbolisasi sebagai alat modal.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Ekspresi perlawanan itulah yang kemudian jadi sebuah diskursus menarik manakala kita bicara soal terorisme maupun gerakan sosial-politik. Di Inggris, orang-orang ramai merusuh karena tak tahan lagi dengan himpitan kehidupan yang kian menggila. Sementara di Afghanistan, banyak yang mengangkat senjata untuk membunuhi tentara Amerika yang datang ke bumi para &lt;i&gt;Mullah &lt;/i&gt;itu untuk merampas kekayaan mereka yang sebenarnya banyak itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Ada yang murni perlawanan langsung, tapi tentu saja ada pula yang &lt;i&gt;lebay, &lt;/i&gt;Dan akhirnya muncullah istilah terorisme itu. Mengapa terorisme muncul? Salah satu sebab yang bisa saya katakan, adalah karena &lt;i&gt;kelebayan &lt;/i&gt;beberapa orang dalam mendefinisikan "siapa itu musuh" tapi keliru dalam menjalankan aksinya. Mereka yang memprovokasi kerusuhan di beberapa negara Eropa, &lt;i&gt;lebay &lt;/i&gt;dalam mengekspresikan kekecewaannya hingga berujung pada kekerasan massa.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Marx dan Quthb boleh saja mengaku berbeda, tapi pada titik-titik yang penulis gambarkan di atas, mereka ternyata bersinggungan. Meskipun tujuan akhirnya berbeda.Yang satu menuju pada materialisme, dan yang satunya mengarah ke idealisme. Jika ada konflik terjadi karena pertentangan ini, sebenarnya tak terelakkan mengingat dimensi radikal dari kedua pemikiran ini yang sangat kuat.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Marx dan Quthb seolah ingin berpesan: tidak ada yang salah dengan radikalisme, asalkan ekspresinya tepat. Jika salurannya tak tepat, kita berarti ingin melakukan pembantaian massal. Ekspresi radikalisme yang salah inilah yang patut dikritik habis-habisan. Sebab, ia akan menjerumuskan perubahan sosial menjadi aksi individual yang anarkis, tak mau mengakui peran negara secara a priori.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Di sinilah pertemuan keduanya. Walau tak pernah bertemu langsung karena dua masa yang berbeda, Marx dan Quthb adalah penyemangat revolusi bagi pengikut keduanya. Tanpa revolusi, sepertinya akan hambar membicarakan Marx dan Quthb.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Hari-hari ini, orang-orang sepertinya enggan bicara soal ideologi. Sebab, ternyata pemilahan ideologi itu banyak bertendensi kekuasaan. Dulu, Orde Baru memilah partai berdasar ideologi; tapi tentu saja rezim ini memaksakan ideologi itu dalam realitas masyarakat Indonesia yang majemuk. Jelas, motifnya adalah kekuasaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Tapi, apakah ideologi itu sudah benar-benar mati, sebagaimana dituturkan Daniel Bell itu? Ternyata tidak juga. Sebab, globalisasi telah pula melahirkan komunalisme dan relasi yang semakin fragmentaris antar-komunitas. Islam dan Sosialisme adalah dua &lt;i&gt;commune &lt;/i&gt;yang berbeda. Ia melahirkan satu struktur masyarakat di satu kutub dengan struktur masyarakat lain di kutub satunya. Dan wajar jika kemudian dua entitas itu sering dirundung konflik, seperti Soeharto lakukan 45 tahun silam untuk membangun Orde Baru.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Tapi jangan lupa pula, ternyata masih ada pertemuan di antara pertentangan itu, yaitu pada gagasan perubahan sosial. Dunia tidak dipersepsikan selinear kaum Konservatif, sebab ia mempersepsikan linearitas itu karena ada tendensi berkuasa. Dan sebaliknya, sejarah dunia adalah sejarah perubahan, karena ia membawa manusia pada satu kontinum ke kontinum lain jika memang kondisi memungkinkan perpindahan itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Jelas, ini mempertemukan Karl Marx dan Sayyid Quthb. "Sejarah adalah manifestasi perjuangan kelas", seperti kata Marx. Atau mewakili tutur kata Quthb, "sejarah adalah bentuk kemenangan umat Islam atas kebatilan". Keduanya, walau bertitik tolak dari dan menuju ke arah yang sama sekali berbeda, menyiratkan seberkas pesan yang sama: bergeraklah untuk melawan penindasan itu!&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Saya kira, ada tanda tanya yang bisa saja mengganggu. Apakah tidak mungkin kedua pemikiran ini bertemu, berdialektika, bersinergi, dan membunuh musuh mereka yang sama, yaitu kekuasaan yang korup? &lt;i&gt;Wallahu a'lam bish shawwab.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/560609633182921938-2080648249804723239?l=ibnulkhattab.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/feeds/2080648249804723239/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=560609633182921938&amp;postID=2080648249804723239' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/2080648249804723239'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/2080648249804723239'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/2011/12/antara-marx-dan-quthb.html' title='Antara Karl Marx dan Sayyid Quthb'/><author><name>Ahmad Rizky Mardhatillah Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01386471685667584378</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_cgbKwDZI1UU/SHWFzmBsWcI/AAAAAAAAAB4/HMlwHe3Uw3s/S220/1_617762489l.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-560609633182921938.post-6444110635745965239</id><published>2011-11-30T18:11:00.001+08:00</published><updated>2011-11-30T18:12:17.180+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><title type='text'>Mengorupsi Agama?</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Kementerian Agama terkorup? Bagi pembaca Kompas, mungkin berita di penghujung bulan November itu akan membuat anda terkejut. KPK melansir angka integritas kementerian, dan hasilnya angka integritas Kementerian ini anjlok, hanya sekitar 5,37%. Padahal, standard integritas pusat yang diajukan adalah 7,07%, mengisyaratkan problem gratifikasi dan korupsi yang kadung melekat pada kementerian ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Kompleksnya Urusan Umat&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Bukan soal Kompas yang merilis berita, bukan pula soal &lt;em&gt;muru'ah &lt;/em&gt;umat yang dipertaruhkan dalam masalah ini. Tetapi, apa benar urusan Kementerian Agama, yang seharusnya bebannya besar karena mengurusi persoalan ibadah kolektif umat,&amp;nbsp; anjlok oleh &lt;em&gt;risywah &lt;/em&gt;-korupsi- yang justru dilarang oleh agama itu sendiri?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Banyak urusan umat yang menggantung di Kementerian Agama. Haji, Madrasah, Pesantren, Idul Fitri, Kerukunan Antarumat Beragama, Ormas Islam, dan lain sebagainya. Tak mudah mengurusi masalah itu, apakah perlu ditambah dengan masalah korupsi yang turut menjalar?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Baru-baru ini, Suara Muhammadiyah melansir tata kelola ibadah haji yang bermasalah. Mulai dari kuota, pondokan hingga konsumsi ketika wukuf, padahal jama'ah haji kita berjumlah tak sedikit, juga banyak diisi oleh orang-orang tua yang perlu perhatian.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Kita tentu tak lupa dengan korupsi soal Dana Abadi Umat yang menyeret mantan Menteri Agama ke penjara. Persoalan pendanaan ibadah haji memang kompleks dan banyak menuai masalah. ONH yang kian tinggi (ditambah yang plus-plus itu) belum lagi dengan antrean menyebabkan dana mengendap -kata seorang &lt;em&gt;blogger. &lt;/em&gt;Ini perlu jadi perhatian sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Sejak zaman kolonial, persoalan adalah pada kapal mana yang mengangkut jamaah haji. Muhammadiyah sudah mencoba menjembatani dengan menyewa kapal sendiri waktu itu. Sekarang, persoalan bertambah kompleks seiring adanya kuota. Jadi, tanpa korupsi dan integritas yang bermasalah pun, persoalan haji sudah cukup memusingkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Persoalan lain di Kementerian Agama adalah pendidikan; ratusan pesantren tersebar di negeri ini, menunggu ayoman Kementerian Agama. Tak terhitung madrasah dari berbagai latar ormas yang harus mengurusi dirinya sendiri lantaran Kementerian Agama punya banyak hajatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Tiap tahun kita harus menonton pertunjukan &lt;em&gt;itsbat, &lt;/em&gt;terutama ketika Idul Fitri diprediksi berbeda. Perbedaan &lt;em&gt;ijtihadiy &lt;/em&gt;antara Muhammadiyah yang menggunakan &lt;em&gt;hisab hakiki &lt;/em&gt;dengan kriteria &lt;em&gt;wujudul hilal &lt;/em&gt;(bulan di atas ufuk) dengan NU yang menggunakan &lt;em&gt;rukyat hilal &lt;/em&gt;secara langsung, menjadi politis ketika pemerintah memutuskan untuk menggunakan metode &lt;em&gt;imkan rukyat. &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Perdebatan soal pendekatan mana yang digunakan bisa saja dilakukan secara ilmiah; tetapi yang jadi persoalan adalah adanya "kuasa" dari Kementerian untuk mengarusutamakan pendekatan tertentu. Saya kira persoalan bukan pada pendekatan mana yang paling bisa diterima, tetapi pada penggunaan kuasa untuk konklusi tertentu yang akhirnya menyudutkan satu golongan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Ini menjadi problematis: sebab Idul Fitri akhirnya jadi arena pertunjukan kuasa, bukan ajang saling-mempersaudarakan. Kementerian Agama sibuk mengurusi sidang &lt;em&gt;itsbat, &lt;/em&gt;tetapi di mana mereka dalam penyaluran zakat fitrah, yang lebih utama sebab adalah kewajiban agama, sehingga penyaluran akhirnya diserahkan ke masing-masing masjid?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Artinya, persoalan integritas kementerian agama bukan sekadar "citra angka" sebagai kementerian terkorup, tetapi pada pembenahan kelembagaan. Kepada siapa umat ini berharap untuk urusan mereka yang sangat kompleks?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;(Tidak) Mengorupsi Agama&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Risywah, &lt;/em&gt;suap, korupsi adalah sesuatu yang dilarang agama. Dalam sebuah hadits riwayat Abu Daud dan Tirmidzi Rasulullah menyatakan bahwa orang yang menyuap dan disuap keduanya dilaknat dalam agama. Dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah: 188, Allah telah menegaskan lagi bahwa dilarang membawa harta ke muka hakim untuk memakan harta dengan jalan yang batil.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Memakan harta dengan jalan yang batil jelas dilarang dalam Islam. Tidak ada agama yang membolehkan korupsi. Persoalan korupsi bukan sekadar persoalan "mengambil hak orang lain", tetapi juga memutus kesempatan orang lain mendapatkah hak".&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan memang Ironis jika hal yang dilarang agama justru terjadi di Kementerian Agama. Lantas bagaimana? Apakah memang kita tidak lagi memerlukan Kementerian Agama, karena korupnya kementerian itu dengan aparatus birokrasinya?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Tentu saja tidak. Kita masih memerlukan Kementerian Agama untuk persoalan-persoalan umat yang menumpuk. Juga untuk mengatur kerukunan antarumat beragama yang kian bermasalah. Kementerian Agama masih harus "hadir" untuk menjadi "penengah", bukan justru menjadi kekuatan politik yang bermain-main dengan "kuasa".&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Saat ini, kapitalisme sedang berada dalam wujudnya yang predatoris, memakan sendi-sendi mereka yang tak berpunya. Agama harus menjadi pelindung dan pengayom bagi umatnya yang miskin, lemah, dan papa. Sebab agama membawa misi pembebasan, mengeluarkan umatnya dari &lt;em&gt;zhulumat &lt;/em&gt;kepada cahaya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan pada titik inilah Kementerian Agama harus hadir. Umat memerlukan pendidikan agama yang berkualitas, oleh sebab itulah kementerian agama mesti mengayomi pesantren-pesantren dengan aparatus sumber dayanya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Umat memerlukan Kementerian Agama yang berada di tengah, mampu mengelola konflik horisontal, memahami keberbedaan dalam umat sebagai sesuatu yang harus dikelola agar dapat memperkaya khasanah. Bukan dengan kuasanya justru mengakumulasi sumber daya yang ada dan akhirnya menjauhkannya dari umat.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan korupsi adalah ekses dari akumulasi sumber daya oleh segelintir orang. Korupsi adalah "nilai-lebih" dari tindak akumulasi kapital. Jika agama jatuh pada gratifikasi yang tak sehat itu, agama dengan sendirinya jatuh pada cengkeraman kapitalisme yang kian hari kian membudaya di negeri ini. Kementerian Agama hanya menjadi alat untuk membudayakan korupsi, membudayakan sesuatu yang justru dilarang etik agama itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Perlu Transparansi&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Menjauhkan Kementerian agama dari stigma kementerian terkorup memang berat. Saya kira, yang perlu jadi perhatian serius saat ini adalah memperbaiki pengelolaan urusan-urusan agama dengan melibatkan semua &lt;em&gt;stakeholder, &lt;/em&gt;terutama ormas-ormas Islam. Transparansi adalah konsekuensi logis. Jangan sampai agama justru menjadi sosok gelap karena ketertutupannya, atas dalil yang dipelintir.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Akuntabilitas, terutama soal dana, kini dipertaruhkan oleh Kementerian Agama. Haruskah Kementerian Agama bubar karena gagal menjalankan misinya dalam mengemban amanah-amanah kolektif umat? Semoga saja tidak.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Umat menunggu lembaga agama yang membebaskan, bukan yang melenakan umat dengan tampilan luar yang memukau tapi korup di dalam diri. Jangan sampai, tesis Marx soal "agama adalah candu rakyat" dibuktikan justru oleh birokrat-birokrat dari Kementerian Agama itu sendiri. Mari pekikkan takbir perbaikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Billahi fi Sabilil Haq.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/560609633182921938-6444110635745965239?l=ibnulkhattab.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/feeds/6444110635745965239/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=560609633182921938&amp;postID=6444110635745965239' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/6444110635745965239'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/6444110635745965239'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/2011/11/mengorupsi-agama.html' title='Mengorupsi Agama?'/><author><name>Ahmad Rizky Mardhatillah Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01386471685667584378</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_cgbKwDZI1UU/SHWFzmBsWcI/AAAAAAAAAB4/HMlwHe3Uw3s/S220/1_617762489l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-560609633182921938.post-5258643342633327260</id><published>2011-11-20T08:05:00.001+08:00</published><updated>2011-11-20T08:05:34.351+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hubungan Internasional'/><title type='text'>Komunitas ASEAN Tanpa 'Keamanan'?</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN di Nusa Dua, Bali, baru saja ditutup. Perundingan tersebut telah menghasilkan kesepakatan Bali Concord III yang berisi banyak pencapaian di antara negara-negara ASEAN, utamanya penguatan kerjasama di bidang ekonomi.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Menarik untuk diulas, sudah sejauh mana pembicaraan tentang kerjasama keamanan ASEAN diperluas?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Mengikuti EU?&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Jika diurai dari sejarahnya, ada sebuah kecurigaan bahwa model regionalisme ASEAN akan didesain dengan mengikuti alur regionalisme Uni Eropa yang telah berjalan selama puluhan tahun -sebelum berdiri entitas supranasional dengan nama Eropa itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Regionalisme Uni Eropa dibentuk pertama kali oleh kerjasama ekonomi (European Coal and Steel Community) yang mengatur kerjasama antara 6 negara Eropa (kemudian menjadi &lt;em&gt;founding members&lt;/em&gt;) di bidang industri baja dan batubara. Seting politik Eropa waktu itu adalah "Perang Dingin", dimana membentuk kerjasama pertahanan antar-negara Eropa hanya akan membuat kecurigaan-kecurigaan baru.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Oleh sebab itu, wajar jika kemudian regionalisme Eropa berkembang dengan basis kerjasama ekonomi, hingga penyatuan moneter (mata uang Euro) dan fiskal. Uni Eropa berkembang lebih sebagai supranasional -daripada sekadar regionalisme- yang mengedepankan ekonomi.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Sejarah penyatuan Eropa dalam EU sesungguhnya adalah sejarah yang sangat panjang. Sejarah peperangan dalam Hubungan Internasional, baik sebelum maupun sesudah Westphalia 1648, sangat banyak terjadi di Eropa.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Kejenuhan atas situasi yang begitu konfliktual itu membuat negara-negara Eropa menandatangani perjanjian Westphalia tahun 1648, menjadi cikal-bakal formasi negara-bangsa yang menjadi topik utama dalam Hubungan Internasional dalam jangka waktu yang sangat lama.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Tetapi, tentu saja situasi konfliktual itu tak serta-merta dapat dieliminir. Perang Dunia I dan II adalah simbol betapa konfliktualnya Sejarah Eropa. Begitu juga Perang Dingin. Ini menyebabkan pembicaraan mengenai kerjasama pertahanan pasti akan bernuansa konfliktual, bahkan membawa kecurigaan tentang ancaman-ancaman baru.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Oleh sebab itulah, titik awal kemunculan regionalisme EU adalah kerjasama ekonomi -EEC. Resesi yang terjadi berkali-kali, serta industri yang berkembang pesat menyebabkan beberapa negara melihat ini sebagai titik mula pembangunan kerjasama yang lebih baik. &lt;em&gt;And it works.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Uni Eropa terbentuk dari serangkaian perjanjian di Schengen, Maastricht, hingga Lisabon. Dan konturnya semakin lama semakin mengarah pada kerjasama politik.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan hal ini sepertinya coba ditiru oleh ASEAN. Arah yang  terlihat adalah kerjasama ekonomi menjadi prioritas, antara  lain  terkait perdagangan dan penghapusan visa perbatasan. Ini  menandakan,  ada kecenderungan untuk menekankan kerjasama ekonomi sebagai  pilar  utama -padahal ada dua pilar lain yang juga penting.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Sesungguhnya ada dua persoalan yang hingga saat ini masih belum &lt;em&gt;clear &lt;/em&gt;dibicarakan di tingkat ASEAN. &lt;em&gt;Pertama, &lt;/em&gt;keamanan kolektif yang masih menjadi wacana di tingkatan elite negara-negara kunci; &lt;em&gt;Kedua, &lt;/em&gt;identitas ASEAN yang belum dirumuskan secara mendetail dan belum diterima di akar-rumput. Mari berfokus ke poin pertama saja.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Problem Keamanan&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Bali Concord II di Bali tahun 2003 telah memberi arah baru regionalisme ASEAN: adanya tiga pilar kerjasama yang meliputi pilar politik-keamanan, ekonomi, dan sosial-budaya. Tiga pilar ini kemudian kita kenal sebagai fondasi Komunitas ASEAN, yang dipertegas kembali dalam Piagam ASEAN tahun 2007.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Penting untuk mengupas poin pertama, yaitu persoalan keamanan yang menjadi kunci dari regionalisme ASEAN. Mengapa keamanan menjadi penting? Sebab, jika kerjasama di sektor ini bisa lebih nyata ditampakkan, kecurigaan antar-negara ASEAN yang selama ini terjadi bisa segera dapat diminimalisir.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Persoalan keamanan di ASEAN adalah sesuatu yang sangat kompleks. Bali  Concord II tahun 2003 sudah cukup berani mendobrak kegamangan soal isu  keamanan di tingkat regional, walau pada praktiknya kecurigaan itu masih  ada. Keamanan masih didefinisikan pada skala negara, bukan kawasan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Selama bertahun-tahun, ASEAN dihadapkan pada pilihan sulit: bagaimana menghapus sikap saling curiga di antara negara anggotanya dalam masalah keamanan-politik?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Harus diakui, selama ini, ASEAN belum cukup mumpuni menyelesaikan konflik di antara negara-negaranya, terutama terkait perbatasan. Malaysia dan Singapura punya problem serius terkait air minum (Singapura disuplai dari Johor). Hubungan erat Singapura dan Israel memicu kecurigaan Indonesia dan Malaysia&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Malaysia dan Indonesia bersengketa soal pulau. Thailand dan Kamboja sengketa soal kuil di perbatasan. Hegara-negara Indocina punya problem terkait Sungai Mekong. Wilayah Laut Cina Selatan sejak lama menjadi sengketa Malaysia, VIetnam, Singapura, dan tentu saja Cina.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan kondisi ini terjadi sering sekali, walau tidak sampai mengarah pada konflik terbuka (kecuali kasus Thailand-Kamboja). Apa yang bisa diusahakan lagi?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Persepsi "Ancaman"&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dalam keamanan internasional, poin paling penting dalam turbulensi antar-negara akan bermula dari persepsi mengenai ancaman. Thomas Hobbes menyebutnya sebagai "fear", ketakutan. Ketegangan bermula dari ancaman yang sebenarnya dikonstruksikan sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Ketika Kambodia melakukan aktivitas di perbatasan yang bersengketa, dengan alasan konservasi cagar budaya, Thailand merespons dengan mengirimkan angkatan bersenjata. Persoalannya sederhana: Thailand melihat aktivitas militer Kambodia di perbatasan sebagai ancaman, dan harus direspons pula oleh ancaman itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Sudah barang tentu, ancaman itu tidak muncul dengan serta-merta. Ada proses pembentukannya. Barry Buzan, Ole Waever, dan Jaap de Wilde melihatnya dalam sebuah formula: ada existential threat dan speech act yang menyertainya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Menurut analis mazhab Kopenhagen ini, speech act memiliki peran penting. Tanpa adanya provokasi lisan maupun tindakan, existential threat tidak akan berubah menjadi threat dan melahirkan konflik. Oleh sebab itu, tindakan provokatif, misalnya, yang dilakukan Kambodia, berubah menjadi sebuah tawaran melakukan konflik terbuka.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan pilar keamanan ASEAN selama ini masih tak kunjung membuka pintu untuk membahas kesalahpahaman itu. ASEAN masih harus menghadapi satu prinsipnya yang selama ini menjadi ikon keamanan ASEAN: &lt;em&gt;non-interference. &lt;/em&gt;Mungkin maksudnya adalah untuk menghargai kedaulatan masing-masing negara, tetapi menjadi problematis karena menyiratkan kemandulan ASEAN dalam resolusi konflik internal mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Seyogianya, ASEAN harus mampu mendekonstruksi ancaman-ancaman laten yang selama ini membayangi beberapa negara. Sebab, dengan laju perkembangan ASEAN di bidang ekonomi, kerjasama mesti diperluas.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Ini belum untuk menyebut identitas ASEAN yang, untuk ukuran massa akar-rumput, absurd. Sebab, transformasi lintas-budaya masih belum dilakukan, terutama untuk wilayah Indocina dan Melayu. Contoh sederhana saja: Ada berapa &lt;em&gt;sih &lt;/em&gt;orang Indonesia yang mampu menerima budaya Melayu sebagai satu kesatuan budaya dengan Indonesia? Ketika ada klaim soal produk budaya saja, misalnya, masih muncul pro-kontra di kedua negara.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Padahal, pilar sosial-budaya ASEAN adalah pilar penting dalam Komunitas ASEAN, selain juga keamanan. Kalau tidak disikapi, model regionalisme ASEAN akan tidak berimbang.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;ASEAN boleh-boleh saja mengklaim adanya integrasi ekonomi, tapi tetap terhambat karena tidak bisa mengintegrasikan aspek politik dan budayanya. Membuka konektivitas tanpa menghilangkan kecurigaan tetap akan menciptakan penjarakan tertentu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Sehingga, dalam konteks keamanan, perlu ada perundingan yang lebih komprehensif guna benar-benar menciptakan komunitas keamanan yang komprehensif. Jangan sampai, meminjam istilah senior saya di kampus, agenda Komunitas Keamanan ASEAN hanya menjadi "&lt;em&gt;talk shop&lt;/em&gt;" di forum-forum perundingan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Perlu Dobrakan&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan untuk itu, perlu ada sedikit dobrakan dari negara-negara ASEAN untuk mewujudkan masyarakat keamanan ASEAN yang stabil dan komprehensif. Secercah harapan sudah dijatuhkan ketika perundingan di Bali, tetapi apa hasil yang kita dapat?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Bali Concord III lagi-lagi belum merumuskan sesuatu yang "baru" dalam soal keamanan. Meski sudah ada kesepakatan bersama soal penanggulangan terorisme, perompakan, nonproliferasi senjata nuklir (dan pemakaian energi) hingga kejahatan transnasional yang menjadi &lt;em&gt;domain &lt;/em&gt;keamanan manusia (&lt;em&gt;human security&lt;/em&gt;), upaya resolusi konflik kawasan sepertinya masih menemui stagnasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Stagnasi tersebut dapat dilihat dari belum adanya rumusan yang memungkinkan ASEAN masuk ke wilayah konflik dengan menekan masing-masing negara. Penyebabnya mungkin sederhana: prinsip non-interference masih secara tradisional dipegang oleh negara-negara yang bersangkutan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dengan demikian, prinsip non-interference mengimplikasikan mekanisme penyelesaian bilateral. Kita berharap peta jalan penyelesaian konflik dapat mendobrak hal tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Belum lagi soal senjata. Perdebatan yang hangat soal nuklir memang menjadi sebuah potret ketegangan sendiri. PLTN yang dibuat oeh Indonesia, yang pada awalnya kepentingannya adalah energi, tentu akan menjadi kecurigaan di negara-negara lain, utamanya Malaysia dan Singapura. Persoalan bukan pada nuklir-nya, tapi pada ancaman konfliknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Oleh sebab itulah kita menantikan adaya perkembangan yang lebih signifikan dalam pembahasan soal keamanan ini. Tentu saja dengan tidak hanya bergulat pada persoalan ekonomi. Agar KTT ASEAN tidak menjadi "talk shop" bagi elit pengambil kebijakan luar negeri (&lt;em&gt;foreign policy&lt;/em&gt;), penting bagi segenap komponen memikirkan strategi dekonstruksi ancaman secara jangka-panjang.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan saya percaya, masyarakat ASEAN 2015 dengan tiga pilarnya dapat menjadi sebuah awal baru untuk regionalisme Asia Tenggara yang lebih komprehensif, lebih damai.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Salam Satu ASEAN!&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Banjarmasin, 20 November 2011&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/560609633182921938-5258643342633327260?l=ibnulkhattab.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/feeds/5258643342633327260/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=560609633182921938&amp;postID=5258643342633327260' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/5258643342633327260'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/5258643342633327260'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/2011/11/komunitas-asean-tanpa-keamanan.html' title='Komunitas ASEAN Tanpa &apos;Keamanan&apos;?'/><author><name>Ahmad Rizky Mardhatillah Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01386471685667584378</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_cgbKwDZI1UU/SHWFzmBsWcI/AAAAAAAAAB4/HMlwHe3Uw3s/S220/1_617762489l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-560609633182921938.post-1394932161621537911</id><published>2011-11-20T08:02:00.001+08:00</published><updated>2011-11-20T08:03:16.505+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><title type='text'>Pasca-Proseduralisme</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Kemarin,  saya berbincang dengan dua orang kawan mengenai format parlemen ideal. Kebetulan keduanya berasal dari fakultas eksakta, yang sehari-hari tidak bersentuhan langsung dengan ilmu politik.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Di sela-sela perbincangan, muncul satu pertanyaan yang waktu itu terlintas di pikiran saya, dan cukup  mengganggu: mengapa bisa DPR (parlemen) Indonesia melahirkan banyak  koruptor, orang-orang yang "asal-bunyi" dan sama sekali tidak punya  kompetensi profesional, padahal mereka mengklaim dipilih dan mewakili  rakyat ketika Pemiu?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Persoalan Sistem?&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Masalah seperti ini mungkin akan menjadi &lt;em&gt;daily problem &lt;/em&gt;bagi  mahasiswa ilmu politik. Tapi tetap saja mengganggu. Pembahasan mengenai  sistem politik selalu akan menceritakan masalah-masalah seperti ini,  dan di kemudian hari, masalahnya akan tetap sama.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Sebagai  mahasiswa yang meminati perbandingan politik, saya secara refleks tentu  akan merefer ke beberapa negara lain yang sistem politiknya stabil.  Katakanlah, misalnya, Australia. rekrutmen para politisi -dalam  demokrasi- tentu akan dilakukan lewat jalur partai politik, lalu Pemilu.  Anggota parlemen akan berasal dari mereka yang direkrut oleh Partai  Politik.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dalam seting demokrasi Indonesia saat ini, partai  politik menempati posisi yang istimewa. Sistem proporsional yang  diterapkan, dengan mempertimbangkan pluralitas pilihan politik  masyarakat, menempatkan partai politik sebagai aktor utama. Jawabnya  sederhana: sebab sistem Pemilu proporsional meniscayakan kita untuk  memilih partai, atau setidaknya kandidat yang diunggulkan partai.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dalam  proses politik di parlemen, secara otomatis partai politik dan kandidat  yang diunggulkannya memiliki peran dan kewenangan yang sangat besar.  Hampir semua perumusan UU ditentukan oleh partai politik di parlemen  yang memiliki kursi. Logika yang digunakan sederhana: partai politik  memiliki legitimasi elektoral karena ia dipilih oleh rakyat, dan oleh  sebab itu punya hak untuk merepresentasikan masyarakat di DPR.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Oleh  sebab itu, dalam seting politik Indonesia saat ini, partai politik  begitu hegemonik. Setiap proses kebijakan akan memerlukan partai  politik, sehingga posisinya begitu menentukan. Lantas, apakah dengan  kewenangan dan kekuasaan yang besar itu, partai politik memiliki  "tanggung jawab" -atau setidaknya kontrol publik- agar para politisi  yang dibawa ke parlemen itu berkualitas?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Hal ini yang saat  ini menjadi permasalahan cukup besar. Pemberian wewenang yang besar  pada parlemen -yang notabene dihuni oleh partai politik- tidak diiringi  oleh garansi rekrutmen politik yang benar. Tidak ada mekanisme yang  menyeleksi para politisi dengan mekanisme yang tepat.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Bagaimana  mungkin partai yang mengaku antikorupsi dan bersih seperti PKS,  misalnya, bisa memiliki politisi yang anti terhadap gerakan antikorupsi  itu sendiri? Atau, mengapa masih ada sosok yang asal-bicara di partai  pemenang pemilu sekelas Partai Demokrat? Pertanyaan-pertanyaan seperti  ini menjadi refleksi yang begitu hebat dalam diri para pemerhati  politik, seperti saya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Hanta Yuda (2010) melihat hegemoni  partai ini sebagai sesuatu yang kontraproduktif dalam politik Indonesia.  Sebab, sistem multipartai yang diterapkan di Indonesia tidak kompatibel  dengan presidensialisme karena melahirkan kekuatan politik yang  fragmentaris. Indonesia menerapkan dua sistem yang, menurut Hanta, akan  saling-berbenturan: presidensialisme dan multipartai. Keduanya akan  berbenturan karena berpotensi saling menyandera.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Penelitian  Hanta Yuda pada tahun 2006 -skripsi Sarjana- menyebutkan bahwa selama  masa pemerintahan SBY-JK, secara eksternal dan internal Presiden  tersandera oleh kepentingan partai, antara lain dalam pemilihan menteri,  koalisi, dan lain sebagainya. Di sisi lain, banyak partai yang  memainkan "politik dua kaki", menyebabkan dukungan politik terhadap  pemerintah menjadi labil dan sering digoyang-goyang.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Oleh  sebab itu, Hanta Yuda menawarkan rekayasa kelembagaan untuk  menanggulangi problem-problem prosedural di atas. Namun, dalam konteks  politik Indonesia saat ini, di mana hegemoni partai masih terlampau  besar, akan muncul pesimisme baru terhadap proseduralisme. Sebab, tentu  saja parta politik tidak akan serta-merta "jujur" dan "baik hati"  menyerahkan prosedur yang meng-konservasi kekuasaan mereka.&lt;em&gt; Zur wille fur macht, &lt;/em&gt;kata Nietzsche.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan  dengan demikian, perlu rekayasa lain yang melampaui proseduralisme  tersebut. Apakah studi politik sudah menjangkau bagian ini?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Hegemoni Modal&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Proseduralisme  mungkin mengajarkan kita bagaimana berpolitik dalam sistem yang tepat,  tetapi tidak menceritakan seluruhnya bagaimana politik itu dikendalikan.  Selama bertahun-tahun Orde Baru, kita mengira kontestasi politik  berjalan &lt;em&gt;natural &lt;/em&gt;-secara akademis- tetapi tentu saja ada "sesuatu yang salah" dari macam-macam cara pengendalian itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Indonesia  sudah melampaui otoriterisme politik sejak Soeharto jatuh pada tahun  1998, Akan tetapi, apakah dengan demikian otoriterisme itu lantas hancur  begitu saja dan &lt;em&gt;rest in peace &lt;/em&gt;bersama Soeharto dan beberapa kroninya?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Gerakan  tahun 1998 memang meruntuhkan fondasi rezim Soeharto dan Orde Baru,  tapi tidak meruntuhkan sendi kekuatan otoriterisme lama. Sebab, meminjam  Vedi Hadiz dan Richard Robison, terjadi sebuah fenomena &lt;em&gt;reorganising power, &lt;/em&gt;rekonsolidasi kekuatan lama dalam bentuk yang baru, yang sejatinya juga diarahkan untuk totalitas kekuasaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Mekanisme  demokratis-institusional yang dirancang untuk membangun pilar demokrasi  -Pemilu- memang memberikan kesempatan bagi kelompok marjinal untuk  berkompetisi. Wajar jika kemudian begitu banyak partai yang berkompetisi  pada Pemilu 1999. Namun, perlu dicatat, pemenang Pemilu sesungguhnya  bukan didasarkan pada simpati dan pilihan rakyat, tetapi justru pada  modal yang banyak berseliweran.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Sebagai contoh, mari kita lihat data statistik. Siapa &lt;em&gt;sih &lt;/em&gt;yang sebenarnya memenangi Pemilu dari 1999-2004?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dari  48 lebih partai yang berlaga, tercatat hanya maksimal 8 partai yang  mendapatkan kursi signifikan (di atas 20 kursi). Pada pemilu 1999, hanya  lima partai besar (PDIP, Golkar, PAN, PPP, PKB) yang mendapatkan jumlah  kursi signifikan. Keduanya melahirkan konfigurasi tiga aliran yang  dominan sebagai arus utama politik pada waktu itu. Di tahun 2004, hasil  Pemilu menambahkan Partai Demokrat dan PKS dalam konfigurasi partai  tersebut. Sementara Pemilu 2009 menambahkan Partai Gerindra dan Hanura.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dari  konfigurasi tersebut, semua partai dapat kita lihat menampilkan  struktur di balik posisi mereka. Golkar dan PDIP adalah potret "faksi  reformis"dari kekuatan lama. PDIP di akhir Orde Baru merupakan oposisi  dari kekuatan PDI yang ditopang oleh struktur kekuasaan Orde Baru.  Partai Golkar adalah transformasi "Golkar Lama" yang diisi oleh faksi  pemodal, menyebabkan adanya posisi politik yang sudah kuat sejak awal.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Sementara  itu, PAN, PKB, PPP merepresentasikan basis Islam Kultural terbesar: NU  dan Muhammadiyah. Gerindra, Hanura, dan Demokrat ditopang oleh ketokohan  Wiranto, Prabowo Subianto, dan Susilo Bambang Yudhoyono (ketiganya  mantan punggawa militer yang reformis). Dan PKS punya basis massa  kelompok Tarbiyah yang menguasai mahasiswa di kampus-kampus besar  (LDK/Musholla Kampus).&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dari segi basis ideologi, partai politik juga menampilkan kecenderungan untuk "bergerak ke tengah" (&lt;em&gt;political centrism, &lt;/em&gt;Sartori)  yang meniscayakan partai untuk meninggalkan basis ideologi awalnya.  Mengapa? Jawabnya sederhana: karena realitas politik kini menampilkan  pemilih yang tidak lagi melihat sentimen primordial sebagai referensi  elektoral. Pemilih menjatuhkan pilihan pada timbangan yang bisa  dikatakan lebih "pragmatis", dari segi citra, &lt;em&gt;track record, &lt;/em&gt;atau mungkin popularitas dan apa yang menguntungkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Akhirnya,  politik memang tak bisa melepaskan diri dari kekuatan modal. Topangan  ideologis partai boleh dikatakan minim, sebab tidak semua partai  menampilkan ekspresi ideologis yang khas. Citra kini lebih dominan.  Dalam bahasa Eric Louw, politik sekarang sudah bergerak menuju &lt;em&gt;professionalization; &lt;/em&gt;semua direkayasa secara profesional. Dan ini artinya, &lt;em&gt;politics is about business.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan  memang akhirnya memang menjadi satu keniscayaan jika terjadi politik  uang. Sebab, meminjam Yasraf, logika politik adalah totalitas menuju  kekuasaan. Semua sumber daya dikerahkan untuk mendapatkan kursi. Dengan  kekuatan kapital, disertai kemampuan memoles citra, semua menjadi  niscaya. Praktik politik uang kini bahkan terjadi sampai level Pilkades,  jauh di akar rumput sana.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Pertanyaannya, apakah memang politik itu berbiaya tinggi? &lt;em&gt;High-costed politics &lt;/em&gt;memang  niscaya ketika demokrasi dilakukan dengan logika pasar; mengikuti hukum  permintaan dan penawaran. Dan tentu saja, aras politik menjadi terbuka  lebih luas.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Proseduralisme kini sekadar menjadi instrumen kekuasaan. Sebab, praktik politik di parlemen telah ditentukan oleh &lt;em&gt;deal-deal &lt;/em&gt;politik  tingkat tinggi antar-elite, keanggunan citra, atau kekuatan modal yang  tak terbatas. Proseduralisme dikendalikan oleh kuasa-kuasa tertentu,  yang, tentu saja, bergerak mengikuti hukum dasar politik: pengerahan  sumber daya menuju totalitas kekuasaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan artinya, proseduralisme harus dilampaui: dengan membongkar relasi-relasi kuasa di sekelilingnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Pasca-Proseduralisme&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Nalar  politik proseduralistis tak lepas dari jerat-jerat kuasa. Kontestasi  politik kini berubah menjadi kontestasi citra dan tampilan menuju-kuasa  -sesuatu yang sebenarnya tak terelakkan dalam seting demokrasi dan  perkembangan teknologi. Alhasil, politik digeret "kembali ke  metafisika", pada relasi-relasi kuasa yang sifatnya tidak nyata, dan  memainkan kesadaran pemilih.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan itu artinya, pembacaan  realitas politik tidak lagi hanya bertumpu pada "teori sistem" yang  selama ini menjadi arus besar kajian politik kita. "Teori sistem" bukan  harus dihilangkan, tetapi diperluas ranahnya melampaui kesisteman dan  realitas politik nyata. Sistem politik kini menjadi ter-kabur-kan oleh  mereka yang berada di luar institusi.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Pasca-proseduralisme  berarti melampaui sekat-sekat proseduralistis dalam membaca realitas  politik kontemporer. Artinya, bicara soal politik tak sekadar bicara  sistem. Ada "kuasa" di luar sistem yang mempermainkan dan mengendalikan  permainan di dalam. Tapi pertanyaannya, siapakah "kuasa" itu?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Membicarakan  "kuasa" akan tampak membicarakan "perdukunan politik". Politisi itu  ibarat dukun. Ia menggunakan kekuatan mistiknya untuk memanggil "roh"  dan "jin", agar melakukan operasi politik. "Roh" dan "Jin" itu  mengemukan dalam berbagai bentuk. Ia bisa berbentuk "agama", dalil-dalil  yang dipelintir untuk kepentingan tertentu, lantas memobilisir massa  untuk melayani kepentinganya. Atau dalam bentuk "citra" yang  memanipulasi kesadaran rakyatnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Agama tampil kembali  setelah lama disingkirkan oleh proseduralisme demokrasi. Tapi, alih-alih  menampilkan diri secara transformatif dalam bentuk etika sosial, ia  justru digunakan untuk kepentingan tertentu oleh beberapa gelintir elit.  Ia bisa mengatasnamakan dakwah dan lain sebagainya. Ia masuk ke dalam  proses demokrasi dan terjun dalam aktivitas sosial. Tapi ia diarahkan  untuk totalitas kekuasaan. Dan artinya, berdimensi politik praktis.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Komunikasi  juga tampil dalam wujud teknologi tanpa batas, menjadikannya sebagai  alat pencitraan. Kesadaran nasionalisme juga ditumbuhkan, tapi secara  semu saja, semua untuk totalitas kekuasaan. Dan semua variabel kini  sudah diarahkan menuju ke sana. Dalam komunikasi politik, kita mengenal  istilah "spin doctoring", profesional yang terjun ke politik untuk  membantu tercapainya tujuan berkuasa. Akademisi tampil dalam  proyek-proyek politik tertentu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan artinya, tesis awal  politik sebagai "totalitas menuju kekuasaan" masih dapat kita terima.  Hanya saja, totalitas kekuasaan itu semakin bergerak liar, tak lagi  terbatasi oleh sistem. Demokrasi yang dikerangkai oleh semangat sistem  pada awalnya adalah melembagakan kekuasaan sebagai sebuah mekanisme  kompetitif, agar semua berjalan &lt;em&gt;fair. &lt;/em&gt;Tapi yang disebut &lt;em&gt;fairness &lt;/em&gt;itu lambat laun ditinggalkan oleh monopoli kuasa.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Politik  bergeser dari sekadar mekanisme demokratis menuju "persaingan rimba".  Sebab, prosedur sekarang di-"akal"-i untuk kepentingan kuasa. &lt;em&gt;Politics is all about interest. &lt;/em&gt;Karena  politik hanya dipandang sebagai kepentingan, tak ada lagi pembicaraan  soal etika. Prosedur berubah menjadi instrumen kekuasaan dan  melanggengkan kekuasaan mereka yang berpunya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Era  pasca-prosedural mengimplikasikan adanya bentuk "pelembagaan" baru  melampaui institusi politik formal. Persoalan politik sejatinya tidak  diputuskan di arena parlemen, dalam perdebatan yang hangat dan panjang,  tapi di kamar-kamar hotel dalam pertemuan setengah-kamar. Keputusan  dihasilkan dari &lt;em&gt;deal-deal &lt;/em&gt;mereka yang berkepentingan. Dan artinya, politik direduksi menjadi sekadar kompromi elite!&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Kompromi elite ini melahirkan &lt;em&gt;broker-broker &lt;/em&gt;anggaran  di kementerian yang siap menadahkan tangan untuk meng-konsumsi anggaran  rakyat. Partai-partai menjadikan kementerian sebagai bancakan;  memobilisasi sumber daya dari proyek yang didapat. Motifnya dua, kapital  dan kuasa.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Apa dampaknya? Wajar jika politisi berjarak  dengan akar rumput. Dalam seting multipartai Indonesia yang nuansanya  adalah penguatan partai, penjarakan ini begitu nyata. Gaya hidup mewah  dan parlente di parlemen tidak berimbang dengan kesusahan di akar  rumput. Sebab, rakyat menjadi sekadar instrumen untuk dimobilisasi. Dan  artinya, rakyat hanya menjadi "simbol" untuk mendapatkan legitimasi yang  juga "simbolik" terhadap kekuasaan politik yang absolut!&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Tantangan Ilmu Politik&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Fakta-fakta ini mengantarkan kita pada diskursus politik kontemporer. Logika demokrasi berbasis &lt;em&gt;competitive elitism&lt;/em&gt; yang kemudian membawa kita pada sebuah keniscayaan baru dalam  teoretisasi ilmu politik. Bahwa sejatinya, ilmu politik harus bisa  membongkar relasi-relasi kuasa baru yang menjelma dalam praktik-praktik  politik dewasa ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Pembongkaran relasi-kuasa sebetulnya  bukan sesuatu yang sifatnya "metafisis" atau "mistis". Sebaliknya, ilmu  politik dituntut untuk mampu mendemistifikasi praktik politik yang "di  awang-awang" -elitis- menjadi terang-benderang. Dan perlu ada pembacaan  fakta yang lebih menyeluruh dari realitas politik yang terjadi.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Semangat  membongkar relasi-kuasa adalah: "jangan ada dusta di antara kita". Ada  beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk melakukan pembongkaran ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Pertama, &lt;/em&gt;demistifikasi.  menjadikan sesuatu yang "gelap" menjadi "terang-benderang". Artinya,  politisi harus mampu menyingkap kegaiban-kegaiban politik. Dan untuk  itu, relasi intensional antar-aktor perlu dibaca. Pembacaan sejarah atas  praktik politik dan pendekata genealogis atas sejarah bisa menjadi  alternatif wacana baru. Artinya, relasi-kuasa yang terlihat gaib dapat  didekati dengan sebuah analisis yang kompleks.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Ini  meniscayakan redefinisi soal "power" -yang selama ini menjadi konsep  paling mendasar dalam ilmu politik. "Power" bisa didekati secara  psiko-politik, &lt;em&gt;how to control mind and action of other men &lt;/em&gt;(Morgenthau,  1948). Begitu juga konsep lain yang instrumentalistik terhadap  kekuasaan, serta membongkar pelembagaan-pelembagaan politik yang selama  ini dianggap sudah mapan, termasuk Demokrasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Kedua, &lt;/em&gt;desakralisasi.  Selama ini, ada beberapa hal yang diperlalukan "sakral" sehingga  dianggap tidak layak dibahas dalam ilmu politik, semisal agama. Padahal,  agama kerap menjadi instrumen kekuasaan yang sangat efektif dalam  memobilisir massa ataupun kader. Agama punya daya pengikat doktriner  yang sangat kuat, sehingga jika otoritas keagamaan dikendalikan, massa  yang ikut akan bisa sangat fanatik.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Ini menjelaskan  mengapa mobilisasi massa yang punya fanatisme kuat dapat memenangkan  satu kelompok dalam Pemilu. Sebab, demokrasi meniscayakan adanya suara  mayoritas pada massa yang tidak-sepenuhnya punya kesadaran politik.  Artinya, jika ada otoritas yang mampu menggerakkan kesadaran politik  massa dengan sesuatu yang "sakral", massa akan bergerak. Dan hanya agama  yang bisa melakukan itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Oleh sebab itu, strategi desakralisasi secara ontologis perlu dilakukan melalui pembacaan ulang (&lt;em&gt;double reading&lt;/em&gt;)  atas teks-teks agama. Hal yang "sakral" dan "dijadikan-sakral" perlu  dipisahkan dan dibongkar. Sehingga, unsur-unsur teologis yang memang  sakral dapat menempati posisinya tanpa harus tercampur dalam analisis  mengenai perilaku keagamaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Ketiga, &lt;/em&gt;deteriteorialisasi  atau membongkar batas kajian ilmu politik. Selama ini, kerangka kajian  ilmu politik dibatasi oleh sekat-sekat disipliner dengan bidang ilmu  yang lain. Padahal, ada pertautan antara ilmu-ilmu nonpolitik dengan  ilmu politik sendiri dalam beberapa diskursus kajian, utamanya yang  masuk dalam perumusan kebijakan publik. Ekonomi, sosiologi, pertanian,  kehutanan, bahkan teknologi sekarang sudah merambah masuk sebagai bahan  kajian dalam ilmu politik.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Oleh karenanya, perlu dibangun semangat interdispliner berbasis &lt;em&gt;political science. &lt;/em&gt;Semangat  interdisipliner tersebut mengajak seluruh disiplin keilmuan untuk  berdiskusi dua-arah dengan ilmu politik. Arah pertama, bagaimana ilmu  politik bisa mengatur tata kelola dan penggunaan ilmu tersebut untuk  kemanusiaan. Arah kedua, bagaimana ilmu-ilmu nonpolitik berkorespondensi  dengan kekuasaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dengan semangat interdisipliner, ilmu  politik tidak kekurangan kekhasannya, yaitu meninjau hubungan yang  kompleks antara kekuasaan dan masyarakat. Akan tetapi, domain kekuasaan  tidak hanya dibatasi hanya sekadar pada sistem kenegaraan, melainkan  juga apa yang terkandung dalam negara. Oleh sebab itu, ilmu politik juga  harus meninjau secara kritis pilar-pilar pendukung negara dalam  disiplin ilmu yang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dalam kaitannya dengan relasi  kuasa, ilmu politik juga bisa meninjau secara kritis penggunaan ilmu  untuk tujuan kekuasaan, atau dalam bahasa Herbert Marcuse: ilmu yang  punya tendensi ideologis. Ilmu politik diharap dapat membongkar tendensi  monopoli kebenaran satu bidang ilmu yang membuatnya melayani kekuasaan  tertentu. Di sini signifikansi dan kekhasan ilmu politik.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Tiga  strategi ini sebetulnya hanya segelintir cara untuk membongkar relasi  kuasa di atas bangunan ilmu politik. Dan artinya membangkitkan wilayah  kajian baru dalam studi-studi politik yang selama ini kita lakukan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;"Ilmu Politik Transformatif"?&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan  sebagai pengakhir, kita perlu mencermati sebuah tesis baru dari Prof.  Purwo Santoso mengenai "ilmu sosial transformatif" yang meniscayakan  ilmu politik untuk tidak hanya turun dalam tataran teoritis, tetapi juga  praksis.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Menurut  Purwo Santoso, ilmu sosial mesti berdimensi transformatif. Ia  tidak  sekadar menjelaskan fakta-fakta sosial secara objektif, melainkan  juga  menghadirkan subjek dalam realitas tersebut. Berarti, ini menolak  sebuah  klaim pemisahan teori dan praksis.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Ilmu sosial bukan  berarti penjarakan “subjek”  atas “objek” yang  ditelitinya. Seharusnya,  subjek juga bagian dari  realitas yang  mengabdikan ilmunya untuk  kepentingan masyarakat, dan  artinya, seorang ilmuwan politik adalah ilmuwan yang bisa bermasyarakat dan mampu menghadirkan semangat berpolitik secara etis di masyarakatnya, aktif maupun pasif.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Tetapi bagaimana melakukannya secara praksis? Terkadang, opsi yang dipilih sangat simplistis: terjun ke dunia politik. Sebetulnya tidak semuanya seperti itu. Jalan lain yang bisa dilakukan adalah mengadvokasi hasil-hasil riset politik secara konkret, baik sebagai tawaran kebijakan ke atas maupun pemberdayaan ke bawah.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Riset politik dapat menjadi sesuatu yang bisa diperjuangkan, seperti tawaran Hanta Yuda mengenai rekayasa institusional guna menghindari inkompatibilitas sistem presidensialisme dan multipartai. Riset-riset sejenis bisa menjadi sesuatu yang berguna dalam pengambilan kebijakan publik atau pembuatan UU.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan semangat untuk  melakukannya sebetulnya sederhana: jangan ada dusta di antara kita.  Sudah saatnya ilmu politik membongkar kedustaan-kedustaan politik yang  selama ini memanipulasi kesadaran kita sebagai pemilih. Sehingga  kehadiran ilmu politik menjadi signifikan bagi teori maupun praksis  politik yang ada.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Nuun wal Qalami wa Maa Yasthuruun.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/560609633182921938-1394932161621537911?l=ibnulkhattab.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/feeds/1394932161621537911/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=560609633182921938&amp;postID=1394932161621537911' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/1394932161621537911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/1394932161621537911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/2011/11/pasca-proseduralisme.html' title='Pasca-Proseduralisme'/><author><name>Ahmad Rizky Mardhatillah Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01386471685667584378</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_cgbKwDZI1UU/SHWFzmBsWcI/AAAAAAAAAB4/HMlwHe3Uw3s/S220/1_617762489l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-560609633182921938.post-118273613527128395</id><published>2011-11-14T23:39:00.001+08:00</published><updated>2011-11-14T23:40:02.181+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><title type='text'>Titik Balik Ilmu Politik?</title><content type='html'>&lt;blockquote style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;"REFLEKSI TENTANG MISTIK POLITIK DAN POSTMODERNITAS"&lt;/strong&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Jikalaupolitik postmodern telah kita identifikasikan sebagai "kembali padametafisika", melalui relasi-relasi kuasa yang diciptakan olehaktor-aktornya, lantas bagaimana metafisika itu dioperasionalisasikan?Apakah "roh absolut" -seperti kata Hegel- itu hadir dan mewujudkandirinya dalam praktik politik kontemporer? Ataukah justru ada "sesuatu"yang asing dalam dunia politik hari ini?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kata kunci yangkita dapat pada tulisan sebelumnya adalah adanya "dukun" alias praktikmistik dalam politik pascamodern. Dukun bekerja di atas kekuatan mitis;mengoperasionalkan kekuatan politik yang metafisik untuk dikerahkanmemenangi Pemilu. Oleh sebab itu, dukun perlu bergelut dengan kehidupanmistik dengan segala kompleksitasnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Mistik punyakompleksitasnya sendiri. Politik pun begitu. Keduanya terentang begitujauh. Tapi bagaimana ketika postmodernitas mempertemukan keduanya?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;Mitisisme&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;FilsafatMistik yang terkenal adalah Henri Bergson. Dalam jangka waktu yangsangat lama, filsafat barat kental dengan dualisme mengenai materi danjiwa. Ini kentara sekali dalam tulisan-tulisan Hegel. Filsafatdualistik, antara materi yang sifatnya fisik, dengan jiwa yang sifatnyametafisik, memisahkan "yang nyata" dan "yang tak nyata".&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;HenriBergson, salah satu filsuf mistik Barat terkemuka, melihat dualisme inike dalam pengetahuan yang "intelek" dan "intuitif". Pengetahuanintelektual didapat oleh manusia melalui sains; penalaran deduktifmanusia atas realitas "yang nyata". Namun sebaliknya, untuk melihatsesuatu yang metafisik alias "tak ternalar", diperlukan kemampuanintuitif. Pengetahuan intuitif ini diperlukan untuk melihat sesuatuyang tidak terindera secara fisik, tetapi secara eksistensial "ada".&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Itulahyang menjadi jalan masuknya mistisisme. Dengan demikian, Bergsonmenolak saintisime, yang secara ontologis menolak sesuatu yang takternalar sebagai realitas. Saintisme -landasan bagi positivisme logis-memandang bahwa realitas itu adalah yang ternalar secara fisik, dalamkaidah-kaidah saintifik dan matematis. Yang tidak ternalar, alias &lt;em&gt;ghoib&lt;/em&gt;, dianggap bukan realitas. Sebab, bagaimana kita bisa mengukur mereka yang tak terlihat?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Namun,persoalannya digeret ke wilayah eksistensialitas. Problem mistisismetetap ada dalam wilayah-wilayah yang tak dapat ditembus akal. Dalamtradisi filsafat seperti itu, Hegel menemukan momentum dan posisinya.Ketika berbicara mengenai jiwa, roh, Hegel melihatnya secarametafisik-intuitif itu. Ia menyatakan bahwa roh itu secara eksistensialada, tapi membicarakannya harus pada dimensi metafisik. Pembuktiansaintifik menjadi tidak berguna, sebab dimensi ranahnya berbeda.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Makadari itu, tradisi filsafat Hegelian melihat sejarah secara mistik,sebagai pengejawantahan roh absolut yang terus menemukan kesadarannya.Finalitas dari sejarah adalah ketika kesadaran roh absolut itu sempurna.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tapikapan? Ini mengundang interpretasi serius dari beberapa orang, semisalkaum Hegelian "kanan" di zaman Marx, yang melihat negara hukum Prussiasebagai finalitas roh absolut karena meng-kompromi-kan hukum dankebebasan, atau seperti Francis Fukuyama yang melihat kapitalismeneoliberal sebagai "historical end" peradaban manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Mistisismeyang dibangun oleh kerangka dualistik tadi kemudian coba dibongkar olehpositivisme yang menghidupkan kembali sains sebagai alat untuk menjadirujukan apriori dalam berfilsafat. Positivisme memperkenalkan metodepenalaran untuk melihat realitas. Sains menjadi kerangka utama. Sesuatuyang mistik atau esoterik (seperti agama, misalnya), harus dijauhkandari pengetahuan karena tidak relevan dalam perdebatan saintifik.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tetapiapakah begitu adanya? Derrida membongkar itu semua dengan menyatakanbahwa walaupun positivisme logis yang menjadi acuan saintifik daripengetahuan itu ingin memisahkan metafisika dari sains, positivismetersebut justru dirasuki oleh "metafisika kehadiran" (logosentrisme).Mengapa? sebab sains menjadi alat monopoli kebenaran, memarjinalkankemungkinan "liyan" menjadi ketakbenaran.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Monopolikebenaran berarti menyingkirkan apa yang disebut sebagai "intuisi"-dalam tradisi Bergsonian- serta menciptakan tolak-ukur metafisissendiri atas kebenaran. Sesuatu yang dianggap benar menjadi "klaim"yang dibuat atas dasar legitimasi "sains" yang ilmiah. Herbert Marcuse,dengan tradisi teori kritisnya, menyebut klaim itu sebagai "kembalinyaideologi". Sains memang sifatnya material yang nyata, fisik, tapi klaimkebenarannya diruju secara apriori pada aksioma sendiri. "Metafisika"telah kembali, kira-kira seperti itu gambarannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kembalinyametafisika itu yang menjadi aras kajian postmodern. Mistisisme yangsempat dibubarkan oleh positivisme, diproblematisasi kembali. Ketikametafisika kembali hadir dalam realitas, apakah harus tetap memegangdualisme seperti dipahami tradisi perenial dulu? Atau ada "gaya baru"metafisika dalam praksis politik postmodern?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;Politik Postmodern&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kembalinyametafisika dalam aras kajian postmodern -setidaknya yang terungkap daripandangan Derrida- membuat kita memikirkan kembali posisi metafisikadalam politik postmodern. Benarkah ada semacam gejala "metafisikakekuasaan" dalam praksis politik dewasa ini?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Politikadalah totalitas menuju kekuasaan. Seluruh sumber daya, fisik ataumetafisik, dikerahkan untuk mengincar kekuasaan. Kontestasi politikadalah kontestasi kekuasaan, dengan pilar-pilar citra dan instruksiyang sebetulnya dibangun di atas fondasi metafisika. Patafisikapolitik, menurut Yasraf, adalah fenomena hadirnya metafisika dalamwujud "citra". Sementara satu lagi dalam bentuk manipulasi kesadaran,dalam bentuk-bentuk doktrin.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Metafisika politikmewujudkan dirinya dalam manipulasi kesadaran. Di sinilah mistikmenemukan momentumnya. Dalam mistisisme, perlu ada intuisi untukmenangkap pengetahuan metafisik. Dalam tradisi kepercayaan Indonesia,kita mengenal istilah "dukun". Mereka mengoperasikan jin-jin yangdiajak bekerjasama melalui rapalan mantra, untuk melakukanproyek-proyek tertentu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kini para politisi menampilkandirinya sebagai "dukun". Ia mengerahkan semua sumber daya metafisikuntuk memanipulasikesadaran orang lain. Dan untuk itu, ia memerlukanjenis spiritualitas tersendiri. Salah satu bentuk spiritualitas ituadalah "agama". Politik postmodern menjadikan agama sebagai alat untukmemanipulasi kesadaran; doktrin agama atau kharisma ulama menjadi alatuntuk mendulang suara, memobilisir massa.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Agama dalampolitik pascamodern tak ubahanya seperti rapalan mantra, untukmembangkitkan kekuatan metafisik yang akan memanipulasi kesadaran oranglain. Tujuannya adalah totalitas kekuasaan. "Agama" tidak lagi jadibasis etik-moral yang menggawangi praktik politik, tapi dilibatkandalam citra. Ketika Pemilu, ramai orang memasang titel haji atauberfoto dengan simbol keagamaan. dan lain sebagainya, modus kekuasaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Adayang menjadikan doktrin untuk merekrut anggota. Politik memerlukansumber daya, oleh sebab itu dipakailah doktrin untuk menjerat anggotaitu agar loyal. Tapi motifnya jelas adalah totalitas kekuasaan.Pengerahan sumber daya untuk menuju sesuatu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dan artinya, politik bisa dipotret ke dalam dua gejala. &lt;em&gt;Pertama, &lt;/em&gt;gejalapolitisisme yang sangat berorientasi kekuasaan. Politik menjadi saranabertahan hidup, sebagaimana diprasangkai Macchiavelli dan pemikirrealisme. Dengan demikian, anarki adalah konsekuensi logis. Ini menjadinyata ketika melihat praktik politik citra yang sama sekali meniadakanetika, tidak lagi berorientasi pada moralitas-etika politik yanguniversal.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;em&gt;Kedua, &lt;/em&gt;relasi dan pertautan kuasayang kompleks di aras politik. Kompleksitas ini dapat dilihat padasemakin absurdnya realitas oleh lobbyu elite dan konstruksi media.Definisi mengenai "realitas" harus digeser secara metafisis karenatidak mungkin mempercayai praktik politik yang tampak nyata. Semuanyaadalah realitas semu; penuh kedustaan, dan mengerahkan semuanya hanyauntuk tujuan kuasa.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dengan demikian, melihat politik saatini sama saja dengan melihat dukun yang dengan kekuatan mistisnyabekerja untuk mendapatkan kekuasaan. Dukun itu bekerja di proyek-proyekanggaran, di kementerian, DPR, hingga kantor-kantor politik. Semuaorang yang kini bekerja pada lembaga politik praktis adalah mereka yangterjebak pada pusaran mistisisme modern, yang melampaui mistisismetradisional.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dan artinya, pendekatan saintifik semakindiragukan untuk membongkar praktik politik yang ada. Sebab, dengandesain matematis dan positivisnya yang sangat kental, bagaimana mungkinia dapat melihat sesuatu yang tidak tampak nyata? Bahkan, kecenderungan"spin-doctoring" yang dilakukan elite politik justru menggeret sains kearah kooptasi; ia tidak lagi objektif, tetapi melayani kuasa tertentu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana Ilmu Politik?&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Olehsebab itu, dalam kerangka ontologis dan epistemologis, kita perlumembongkar kembali tradisi kajian dalam ilmu politik. Sudahkahpengembangan ilmu politik mempertimbangkan aspek metafisis di atasuntuk melihat praksis politik kontemporer?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Beberapastrategi postmodern, seperti tekstualisasi politik (sebagaimanadiperkenalkan Ian J Shapiro) hingga "Double Reading" bisa menjadi araskajian baru. Melihat sebuah realitas politik bisa dilakukan melalui"double reading", pembacaan ulang atas realitas dengan menggunakanmetode intertekstual (dipertemukan dengan teks lain). Realitasdiperlakukan sebagai teks, yang penafsirannya tidak lagi bisa tunggalatau kasat-mata, melainkan perlu instrumen lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Saintismedalam ilmu politik perlu sedikit-demi-sedikit dikurangi. Mungkin kitaperlu beralih dari teori sistem, yang sangat memperhitungkan interaksiantar-aktor secara nyata, menuju aras pendekatan baru yang lebihkontemporer.&amp;nbsp; Jika tidak, ilmu politik akan semakin "usang", gagalmenempatkan dirinya di antara relasi dan pertautan kuasa yang kompleks.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Secaraepistemologis, tolak-ukur "kekuasaan" perlu diproblematisir kembali.Sebab, kekuasaan tidak hanya melintas dalam wujud kontestasiantar-aktor, tetapi juga di setiap ruang publik. Media, misalnya,memiliki tendensi untuk memainkan kepentingan politik sebab ia sudahmenjadi bagian dari metafisika kekuasaan itu. Bahkan, pengetahuan jugasudah masuk ke ranah tersebut. Artinya, makna kekuasaan perlu kembalidiredefinisi, bukan sekadar aktor formal, melainkan juga informal.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Implikasinya,ontologi ilmu politik juga perlu membicarakan hal-hal yang selama inidianggap bukan bagian dari realitas politik, semisal media, gerakanmahasiswa, atau aktivitas masyarakat sipil. Metafisika Politik yanghadir melalui teknologi media, serta profesionalisasi politik perludiulas secara lebih mendalam. Ini penting agar akademisi, peneliti dananalis politik kita tidak terjebak oleh konstruksi media atas faktayang dianalisis.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Bahkan agama pun perlu diulas dalamkerangka tendensi kekuasaannya. Bentuk agama, secara substansial maupunsimbol, bisa menjadi sebuah unit analisis untuk menjelaskan perilakupolitik. Apakah sekadar "Islam-Islaman" (citra), idelogis (identitas)atau dalam memang dalam kerangka konseptual-ontologis (etika sosial).&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dansebagai calon ilmuwan politik -terutama ilmu Hubungan Internasional- dimasa depan, hal-hal semacam ini tentu perlu diproblematisir. Agar ilmupolitik tidak terlindas oleh metafisika yang akhirnya membuatnyaketinggalan zaman. Mari bersiap untuk kajian yang lebih serius di masayang akan datang.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;em&gt;Wallahu a'lam bish shawwab.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;*) Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional UGM, meminati studi perbandingan politik&lt;/strong&gt;.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/560609633182921938-118273613527128395?l=ibnulkhattab.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/feeds/118273613527128395/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=560609633182921938&amp;postID=118273613527128395' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/118273613527128395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/118273613527128395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/2011/11/titik-balik-ilmu-politik.html' title='Titik Balik Ilmu Politik?'/><author><name>Ahmad Rizky Mardhatillah Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01386471685667584378</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_cgbKwDZI1UU/SHWFzmBsWcI/AAAAAAAAAB4/HMlwHe3Uw3s/S220/1_617762489l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-560609633182921938.post-1103300548746977680</id><published>2011-11-09T21:46:00.001+08:00</published><updated>2011-11-09T21:55:14.193+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat'/><title type='text'>Metafisika dan Alienasi</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Penghampiran Awal Menuju Filsafat Politik Postmodern&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Mari  kita berandai-andai: bagaimana jika politik melepaskan dirinya  sama-sekali dari kekuasaan? Bagaimana jika ada orang yang secara  sukarela melepaskan kekuasaan dan membaginya kepada orang lain?  Bagaimana jika di dunia ini tidak ada kekuasaan?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Tapi,  pengandaian itu akan segera dianggap mustahil oleh para politisi dan  segera ditolak dalam proposisi ilmu politik. Terutama kaum realis.  Politik itu &lt;i&gt;embedded &lt;/i&gt;dengan kekuasaan. Argumen etika soal "baik buruk perilaku" mungkin tidak akan &lt;i&gt;make sense &lt;/i&gt;dalam logika politik yang sifatnya totalistik; seluruh sumber daya dikerahkan untuk mengakumulasi kekuasaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Totalitas&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dalam  pandangan umum selama ini, politik adalah totalitas. Politisi tidak  memerlukan banyak teori politik untuk membuat tindakannya benar. Yang  dilakukannya sederhana: mengakumulasi semua sumber daya dan  mengerahkannya untuk mendapatkan kekuasaan.Yasraf Amir Piliang -mengutip  John Protevi- menyebutnya sebagai "fisika politik".&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Menurut  Yasraf, tubuh politik dibangun oleh totalitas kekuatan—dalam aneka  skala:  perorangan, keluarga, kelompok, partai, geng, korporasi, sekte,  bangsa;  aneka jenis: kekuatan konstituen, kekuatan modal (dana,  infrastruktur),  kekuatan paramiliter (sayap partai), kekuatan geng  (premanisme),  kekuatan umat (partai berbasis agama), kekuatan militer  (Orde Baru),  kekuatan teknologi (negara adidaya)—yang semuanya  dikerahkan membangun  kekuasaan politik &lt;b&gt;[1]&lt;/b&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dengan  demikian, politik adalah upaya sistematis-pragmatis mendapatkan  ‘kekuasaan’,  dengan mengerahkan segala ‘kekuatan’, baik kekuatan  material, modal,  ekonomi, sosial, kultural, simbolik, bahasa spiritual,  bahkan mistik &lt;b&gt;[2]&lt;/b&gt;. Jika dipahami bahwa politik adalah  totalitas, logikanya adalah akumulasi. Sederhananya, Kekuasaan=perkalian  dari semua sumber daya yang tersedia (banyak variabel). Semakin banyak  variabel, semakin besar kuasanya. Kira-kira seperti itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dengan&amp;nbsp;  demikian, politik adalah totalitas kekuasaan. Logika ini jelas  mengesampingkan etika, sebab etika itu sifatnya membagi. Keadilan  direpresentasikan dari pembagian sumber daya, bukan akumulasi (kali).  Dalam perspektif etika, kekuasaan itu seharusnya dibagi dengan  variabel-variabel lain agar tercipta keadilan. Jadi, etika akan  melanggar prinsip totalitas; Ia hanya akan membuat kekuasaan terbagi dan  dimiliki oleh kelompok lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Namun, paradigma sederhana  soal kali dan bagi itu akan dipertanyakan karena problematis bahkan jika  ditinjau dari segi "totalitas" politik itu sendiri. Jika kekuasan  dipahami sebagai akumulasi, apakah ini berlaku juga untuk sesuatu yang  di luar fisik? Oleh karena politik adalah totalitas, ia masuk tidak  hanya pada realitas fisik, tetapi juga mistik. Sesuatu yang mistik tidak  dapat hanya dinalar dari rasionalitas tunggal.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Percabangan  itu terlihat manakala politik masuk pada dimensi pata-fisik: bergulat  dengan citra. Ia juga akan problematis ketika masuk pada ranah  meta-fisik: kekuasaan tidak-langsung. Menariknya, klaim totalitas fisik  itu tidak serta merta runtuh, ia justru berubah. Totalitas itu mengubah  dirinya menyesuaikan realitas yang ada.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Abad ke-21  ditandai dengan perkembangan teknologi yang kian pesat. Politik yang  bertumpu pada pengerahan sumber daya mungkin dilakukan atas landasan  ideologis tertentu, tapi kedatangan media melahirkan modus baru cara  berpolitik; imagosentris, kata Yasraf. Politik menjadi permainan citra,  manipulasi opini publik, hingga rekayasa kesadaran. Oleh sebabnya,  permainan realpolitik adalah permainan kesadaran yang berdimensi  metafisik.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Di aras metafisik, politik tidak lagi  menampilkan dirinya sebagai akumulasi sumber daya secara fisik. Tapi,  watak totalitas politik itu tetap ada. Ia tetap mengerahkan sumber daya  yang ada, tapi tidak lagi secara fisik, melainkan melalui  perantara-perantara tertentu. Dalam analogi sederhana saya, politisi  bertindak sebagai "dukun"; ia memakai rekayasa kesadaran oleh "makhluk  ghaib" untuk menuju kekuasaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Metafisika&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dalam  literatur filsafat, ada satu nama yang sepertinya sering dilekatkan  dengan metafisika: Hegel. Pandangannya soal sejarah dan kesadaran sangat  dipengaruhi oleh satu konsep metafisika, yang ia sebut sebagai "roh  absolut". Ia melihat sejarah sebagai ranah roh absolut menemukan  kesadaran-dirinya, dalam bentuk kebebasan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Sejarah adalah  pengejawantahan roh absolut dalam pencarian kesadarannya, dalam bentuk  relasi trilogi tesis-antitesis-sintesis; dalam jalinan hubungan yang  rumit.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Tentu saja tak ada yang tahu, siapa atau apa yang  disebut oleh Hegel sebagai "roh absolut" itu. Apakah ia adalah Tuhan,  sebagaimana dipahami oleh umat beragama? Memprasangkai roh absolut  sebagai tuhan jelas keliru, sebab dalam kacamata Hegel, roh absolut ini  senantiasa memperbarui kesadaran dirinya dalam relasi sejarah yang  dialektis.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Tapi jika bukan tuhan, apa itu roh absolut? Ini  yang menjadi titik perdebatan filsuf pasca-Hegel, dari Marx yang  melakukan penentangan atas metafisika Hegel ini hingga Derrida yang  mencoba membongkar kembali konsep tersebut melalui "metafisika  kehadiran" (logosentrisme)-nya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Metafisika menghampirkan  dirinya pada sesuatu yang "melampaui-kenyataan". Ia jelas tidak bisa  dibilang tidak nyata, tetapi tak dapat ternalar dalam rasionalitas.  Ketika bicara soal "jin", misalnya, susah untuk menalar bentuk dan  wujudnya. Tapi sebagai sebuah fakta, ia ada. Begitu juga dengan dukun.  Mereka "beyond-rationality".&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Walau sering dibilang usang,  pra-modern, atau sejenisnya, namun bentuk-bentuk kuasa metafisik itu  sepertinya sering sekali hadir saat ini. Terutama dalam praktik politik  yang kompleks. Kuasa-kuasa metafisik itu seakan-akan dihadirkan kembali  oleh para elite untuk melempangkan jalannya dalam kekuasaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Kuasa metafisik pertama hadir dalam wujud "citra". Yasraf, meminjam Braudillard, membahasakannya sebagai "pata-fisika politik" &lt;b&gt;[3]&lt;/b&gt;.  Citra bermain di ruang bawah sadar manusia, mempermainkan kesadaran  politik warga untuk terpukau oleh balutan instrumental-artifisial yang  kini menjadi sebuah pesan politik. Eric Louw, ada istilah "political  professionalization"; manajemen impresi -dalam bahasa komunikasi  politik- menjadi sebuah ranah politik baru &lt;b&gt;[4]&lt;/b&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Citra  adalah tampilan dari sebuah permainan; relasi-kuasa yang kompleks di  luar sana. Citra membuat seseorang yang pada dasarnya sama dengan  manusia lain, ditampilkan dengan &lt;i&gt;lebay. &lt;/i&gt;Biasanya citra dibentuk  oleh tindakan artifisial. Sesuatu yang tanpa-substansi sebetulnya bisa  menjadi sangat memukau dengan bantuan citra.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Kuasa  metafisik kedua dapat kita jumpai dalam bentuk-bentuk instruksi. Jika  "citra" memainkan alam bawah sadar melalui impresi, instruksi memainkan  kesadaran kita melalui doktrin. Ada doktrin yang diinternalisasikan  melalui praktik-praktik tertentu untuk melahirkan sebuah kesadaran  "baru" -yang bersifat semu- untuk menjadikan doktrin sebagai alat  berpijak.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dengan demikian, doktrin menjadi instrumen  kekuasaan. Pada mulanya, ia adalah instrumen untuk membentuk karakter,  biasanya dalam organisasi kader. Akan tetapi, ketika organisasi  bersentuhan dengan ranah politik -yang berarti menjelmakan kekuasaan  sebagai tujuan- doktrin itu berubah fungsi. Ia adalah alat untuk  "mengerahkan sumber daya" menuju totalitas tertentu. Dan doktrin menjadi  "jin-jin" baru yang bertugas mengantarkan mantra yang dibuat sang dukun  agar semua kuasa (&lt;i&gt;forces&lt;/i&gt;) dapat dimobilisasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Jika  proses indoktrinasi sudah kuat, mobilisasi melalui instruksi akan lebih  mudah dilakukan. Oleh sebab itu, instruksi tidak akan dipandang  rasional atau tidak, tetapi justru sesuai dengan doktrin atau tidak.  Jika yang menerima instruksi tidak kritis, terjebak pada kekakuan dan  kesadaran palsu (&lt;i&gt;false consciousness&lt;/i&gt;) ia hanya akan menerima doktrin tanpa &lt;i&gt;reserve. &lt;/i&gt;Dan artinya, dalam bahasa agama, akan men-taklidi siapa saja yang membuat doktrin.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Kuasa  metafisik ketiga adalah kuasa primordial. Jenis kuasa ini biasanya  terjadi pada tataran massa dan di masyarakat yang sudah &lt;i&gt;melek &lt;/i&gt;informasi,  sudah mulai ditinggalkan. Biasanya, kuasa primordial dilakonkan oleh  politisi yang mengincar simpati atas dirinya melalui identitas-identitas  kolektif, yang tidak bermuatan intelektual, melainkan kesamaan  identitas primordial.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Kuasa primordial dibangun di atas  etnosentrisme. Ia akan mudah digerakkan jika ada momentum yang menyentuh  sisi psikologis seseorang. Misalnya, nasionalisme sempit.  Operasionalisasinya akan mengotak-ngotakkan. Ini sebenarnya rawan karena  akan berpeluang menggerakkan kekerasan massa. &lt;i&gt;Dus, &lt;/i&gt;perlu dihindari dalam perspektif etika.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Alienasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Lantas,  bagaimana kuasa-kuasa metafisik dalam politik itu berjalan? Jika  kembali pada proposisi awal teks, politik adalah jalan menuju totalitas.  Ia pasti akan mengerahkan semua sumber daya menuju satu titik:  kekuasaan. Dan metafisika hadir untuk menyentuh titik-titik ketaksadaran  agar dapat diarahkan pada titik utama yang ingin dituju.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Politik  yang berdimensi metafisik akan dikelola oleh "dukun-dukun". Para  politisi yang menggunakan citra, instruksi, atau ikatan primordial untuk  mengerahkan sumber daya tak ubahnya dukun yang memanggi jin-jin untuk  menjalankan tugasnya. "Dukun" ini bermain di wilayah ketaksadaran dan  menggunakan instrumen fisik, macam uang atau sumber daya, agar dapat  masuk ke ranah metafisik.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Akan tetapi, seseorang tidak  serta merta bisa menjadi dukun. Ia harus memiliki "keahlian" tersendiri,  yang sifatnya "para-normal", untuk bisa mengoperasionalisasikan  kekuatannya. Untuk mendapatkan kekuatannya itu, ia harus meng-alienasi  diri; memencil ke gua-gua tertentu, tempat-tempat &lt;i&gt;pesugihan &lt;/i&gt;atau semacamnya agar kekuatannya bisa tambah &lt;i&gt;digdaya.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Konsep yang perlu dielaborasi adalah "alienasi". Pengasingan-diri. Konsep ini sering muncul dalam istilah sufistik sebagai &lt;i&gt;tazkiyatun-nafs, &lt;/i&gt;pembersihan  Jiwa. Tetapi, juga muncul untuk menceritakan kondisi buruh di era  kapitalisme. Konsep ini diajukan Marx untuk melihat formula agama. Dalam  &lt;i&gt;Introduction to A Critique on Hegel's Philosophy of Rights, &lt;/i&gt;ia  melihat konsep metafisika sebagai konsep yang mengasingkan manusia dari  realitasnya; Sebab itu, ia melihat "agama" sebagai candu &lt;b&gt;[5]&lt;/b&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Saya  tak akan melihat konsep "candu"-nya Marx. Tetapi, jelas bahwa untuk  masuk ke aras metafisik, ia harus mengasingkan diri terlebih dulu.  Bagaimana caranya mengasingkan diri, dalam konteks politik? Salah satu  jalan adalah dengan menjadi "elite". Menjadi elite dalam aras politik  kontemporer adalah memencilkan diri dari rakyat. Dengan jalan itu, ia  bisa mengerahkan sumber daya kekuatannya tanpa harus takut membaginya  dengan rakyat. Politik dimainkan dalam totalitas permainan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dengan  menjadi elite, sumber daya yang ingin dicapai melalui metafisik dapat  digunakan.Aji digdaya yang dipunya adalah kesaktian untuk mengorganisir tanpa harus terlibat di garis depan; dan toh ia yang bisa menguasai semuanya. Kesaktiannya, untuk itu, digunakan sebagai alat untuk meraih kekuasaan. Dan banyak bentuk kesaktian yang mewujud dalam realpolitik.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dalam konteks metafisika citra, misalnya, sumber daya berupa  uang, tenaga profesional, media, impresi massa, dan lain sebagainya  dapat diatur dari belakang. Politisi tak perlu khawatir skandalnya  dibongkar asalkan citranya bagus. Oleh sebab itu, sikapnya menjaga citra  akan menyelamatkan dirinya dari lawan-lawan politiknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dalam  konteks metafisika instruksi, ia bisa memegang sumber daya berupa  otoritas. "Dukun" politik perlu otoritas untuk melegitimasi tindakan  politiknya, dan memastikan doktrin yang ia berikan diterima sehingga  rasionalitas tindakannya tak dipersoalkan. Dengan demikian, ia dapat  memberi instruksi dan melakukan seting agenda atas massa di bawahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Sementara  dalam konteks metafisika primordial, sumber daya identitas dan  kedekatan emosional warga dapat diaktivasi melalui manajemen isu. Oleh  sebab itu, ia mesti memencil menjadi elite, dan perlu tenaga untuk me-&lt;i&gt;manage &lt;/i&gt;issue  agar mendorong massa turun. Ia tidak perlu ambil bagian, hanya  mengarahkan kesadaran. Hal-hal seperti ini, kendati tidak terlihat di  level nasional, kadang masih terjadi di level daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Alienasi  akan semakin kokoh dan kuat mengendalikan kuasa metafisika yang  digunakan jika ia bisa mengendalikan massa/kader di bawahnya. Dalam  seting masyarakat yang fanatis, ikatan primordial yang digunakan. Dalam  seting masyarakat yang terstruktur/organisasional, instruksi dan doktrin  yang dipakai. Adapun dalam seting masyarakat yang kritis, citra yang  dikeluarkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Praktik politik kontemporer, di kampus  ataupun realpolitik, hal-hal semacam ini masih dapat disaksikan. Kita  bisa melihat, misalnya, bagaimana kandidat yang tidak punya kapasitas,  karena dia punya massa, bisa memenangkan pemilu. Atau, ia yang  sebenarnya tingkat ke-"elite"-annya tinggi, dipilih masyarakat. Semua  tentu dibangun di atas kuasa metafisik yang melampaui rasionalitas.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Istilah  beberapa kawan: "kalau botol saja dicalonkan, niscaya akan menang".  Jelas, untuk memenangkan botol itu, ia perlu kuasa metafisika. Dan kuasa  metafisika itu dikendalikan oleh dukun-dukun yang memencil, menjadi  elite. Dengan menjadi elite, "jin-jin" politik dapat dikerahkan untuk  menuju kekuasaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Relasi-Kuasa&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dalam  aras yang moderen seperti sekarang, mungkin akan sulit dipercaya bahwa  metafisika menemukan momentumnya kembali. Klaim-klaim bahwa semuanya  diatur berdasarkan kalkulasi matematis akan menemui pembuktiannya  sendiri. Bisakah matematika -yang digunakan sebagai instrumen untuk  membedah teori-teori fisika- membongkar kuasa metafisik di atas?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Jean-Francois Lyotard sudah memperingatkan kepada kita bahwa saat ini adalah saat dimana modernitas menjadi absurd &lt;b&gt;[6]&lt;/b&gt;.  Arsitektur modernitas akan kembali dibongkar oleh relasi-kuasa yang  posisinya metafisis. Oleh sebab itu, jalan untuk memahami realitasnya  adalah dengan membongkar kuasa-kuasa metafisik itu, yang diklaim sebagai  "kebenaran" oleh kelompok tertentu, secara kritis. Derrida menyebutnya  sebagai "metafisika kehadiran" &lt;b&gt;[7].&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Membongkar  relasi-kuasa bukan berarti menihilkan semua argumen tentang  "kebenaran". Justru, membongkar relasi-kuasa berarti membuka kemungkinan  akan adanya kebenaran baru. Hanya saja, klaim kebenaran tak perlu  diklaim tunggal dan memarjinalkan makna lain; Ia seharusnya membiarkan  dirinya terbuka, diinterpretasi, dan dikembangkan menjadi modus  kebenaran baru oleh orang lain. Ini kalau kita pakai dalam konteks  politik.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Membongkar relasi-kuasa yang metafisik itu  berarti membuka semua kemungkinan. Dan itu maknanya, membuka tabir yang  menyelubungi realitas. Dukun-dukun harus diungkap kepentingan dan  motifnya -jika tidak memungkinkan membuka identitasnya- dan itu berarti  menggelar subversi terhadap siapapun yang menggeret kuasa metafisik itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan,  menurut saya, mungkin ini yang menjadi salah satu kehendak  postmodernisme. Klaim metafisika Hegel tentang "roh absolut" yang final  di akhir sejarah, akan dibongkar dengan gagah oleh kuasa yang bebas dan  merdeka. Agak tepat, mungkin, jika saya menggunakan istilah yang sempat  menggema tahun lalu untuk membedah metafisika politik ini: jangan ada  dusta di antara kita.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Politik bisa jadi adalah pengerahan  sumber daya (kuasa) secara total untuk kekuasaan. Tapi tentu saja jangan ada dusta di  antara kita mengenai relasi-relasi kuasa itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Nuun wal qalami wa maa yasthuruun.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;-----&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Catatan Kaki&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;[1]&lt;/b&gt; Yasraf Amir Piliang, "Patafisika Politik", &lt;i&gt;Kompas, &lt;/i&gt;6 Juni 2009.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;[2] &lt;/b&gt;&lt;i&gt;ibid.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;[3] &lt;/b&gt;&lt;i&gt;ibid.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;[4] &lt;/b&gt;Eric Louw. &lt;i&gt;The Media and Political Process. &lt;/i&gt;Sage Publications, 2010.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;[5] &lt;/b&gt;Karl Marx. "Introduction". &lt;i&gt;A Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right&lt;/i&gt;. Paris, &lt;i&gt;Deutsch-Französische Jahrbücher, &lt;/i&gt;1844. diterbitkan ulang oleh Marxist Internet Archive http://www.marxists.org/&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;[6] &lt;/b&gt;Jean-Francois Lyotard. &lt;i&gt;The Postmodern Condition: A Report on Knowledge&lt;/i&gt;. 1979.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;[7] &lt;/b&gt;Muhammad Al-Fayyadl. &lt;i&gt;Derrida. &lt;/i&gt;Yogyakarta: LKiS, 2005.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/560609633182921938-1103300548746977680?l=ibnulkhattab.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/feeds/1103300548746977680/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=560609633182921938&amp;postID=1103300548746977680' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/1103300548746977680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/1103300548746977680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/2011/11/metafisika-dan-alienasi.html' title='Metafisika dan Alienasi'/><author><name>Ahmad Rizky Mardhatillah Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01386471685667584378</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_cgbKwDZI1UU/SHWFzmBsWcI/AAAAAAAAAB4/HMlwHe3Uw3s/S220/1_617762489l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-560609633182921938.post-1750379436915037969</id><published>2011-11-08T07:23:00.001+08:00</published><updated>2011-11-08T07:50:59.054+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keislaman'/><title type='text'>"Mengaji"</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;AHMAD RIZKY MARDHATILLAH UMAR [*]&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Dua tahun silam, Aliman Syahrani, Ketua PDPemuda Muhammadiyah HSS, pernah menulis soal dikotomi belajar agama &lt;b&gt;[1]&lt;/b&gt;. Seakan-akan, kalaubelajar agama atau "mengaji" itu harus di tempat tertentu saja (yangbenar). Itu menjadi sebuah titik kritis tentang pemilihan tempat pengajian,yang dianggap atau diklaim sebagai tempat atau organisasi pam-&lt;i&gt;bujur&lt;/i&gt;-nya, pa-&lt;i&gt;harat&lt;/i&gt;-nya, pa-&lt;i&gt;Islam&lt;/i&gt;-nya, pa-&lt;i&gt;alim&lt;/i&gt;-nya,&amp;nbsp; dan lain-lainyang, menurut Aliman Syahrani, melambangkan &lt;i&gt;chauvinisticdoctrine&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Benarkah hal tersebut? Apakah memang"mengaji" itu harus tunduk dan taat pada ustadz atau guru, karenamemang beliau yang punya otoritas tunggal?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;****&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Dalam hidup saya, ada beberapa definisiterhadap istilah "mengaji". Kata ini memang memiliki beberapa artidengan latar belakang massakeagamaan yang berbeda.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Makna "mengaji" pertama munculketika saya masih kecil, yaitu "membaca Al-Qur'an". Sejak TK, sayadisuruh orang tua untuk belajar mengaji di Langgar Al-Fitrah, dekat rumah.Mulai lancar membaca Al-Qur'an ketika SD. Terus hingga wisuda TK Al-Qur'ankelas 5 SD, lantas dilanjutkan belajar mengaji berlagu sampai SMP. Dalam kurunwaktu tersebut, kata "mengaji" didefinisikan sebagai belajar membacaAl-Qur'an, dari soal &lt;i&gt;makharijulhuruf &lt;/i&gt;sampai seni membaca dengan &lt;i&gt;tartil  &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;tilawah &lt;/i&gt;yangdiajarkan guru mengaji.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Makna "mengaji" kedua munculketika saya SMA. Waktu itu, saya mulai aktif di forum "pengajian"agama di mesjid-mesjid. Waktu itu saya mulai ikut pengajian fiqh UstadzFathurrahman Gazali (sekarang jadi penceramah di Kauman) di Mesjid Al-Jihad,tiap malam Senin ba'da Maghrib. Aktivitas itu mulai saya lakukan ketika kelas 3SMP. Istilah mengaji kemudian berubah menjadi "mengikuti ceramahagama". Jadi, kalau ada istilah mengaji di Mesjid, itu artinya sekarangmengikuti pengajian keagamaan di Mesjid. Dan sifatnya umum.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Sementara itu, makna "mengaji"ketiga saya kenal ketika kuliah, ketika saya bersentuhan dengan komunitastarbiyah. "Mengaji" di sini ya forum &lt;i&gt;halaqah &lt;/i&gt;atau sel perkaderan Tarbiyah."Mengaji" fungsinya memisahkan &lt;i&gt;insider  &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;outsider &lt;/i&gt;kader.Jadi, kalau ingin bersua dengan sistem di Tarbiyah yang kompleks itu, jalannyaadalah "mengaji". Sayup-sayup terdengar ada yang mengatakan bahwa"ngaji" itu wajib, tapi toh itu khusus untuk kader Tarbiyah saja, takberlaku bagi saya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Jadi, ada tiga makna kalau kita bicara soal"ngaji". Intinya belajar agama, tapi makna yang dibawa lebih kompleksdari itu. Saya akan berfokus pada makna kedua dan ketiga, yang berbicara agamasecara lebih utuh dan memusingkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;****&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Terlepas dari soal identitas primordial"&lt;i&gt;jama'ah&lt;/i&gt;"atau organisasi, mengaji sesungguhnya punya latar sosiologis, historis, dankultural tersendiri dalam konteks ke-Indonesia-an.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Istilah "mengaji" dikenal luas dikalangan "santri" -dalam makna sosiologis &lt;b&gt;[2]&lt;/b&gt;. Istilah ini bermakna"menuntut ilmu" bagi orang yang mengaji, atau pengabdian masyarakatbagi yang memberi pengajian. Mengaji biasanya dilaksanakan di Masjid ataupondok pesantren. Hubungan antara Ustadz yang memberi pengajian dan pesertapengajian adalah relasi keilmuan, artinya ada "sesuatu" yangdiberikan dalam konteks keilmuan oleh ustadz yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari latar kebahasaan, ada dua kata yang dekat dengan "ngaji". Pertama, &lt;em&gt;aji &lt;/em&gt;yang di zaman pra-Islam berarti kesaktian. Mengaji berarti mendalami kesaktian tertentu sehingga ia punya keahlian tertentu di bidang bela diri atau sejenisnya. Kedua, &lt;em&gt;ngadino &lt;/em&gt;atau belajar agama. &lt;em&gt;Ngadino &lt;/em&gt;asal katanya yaitu &lt;em&gt;diin, &lt;/em&gt;yang memang terjemahannya agama. Istilah ini dikenal dalam masyarakat Jawa. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Dalam konteks masyarakat Indonesia, istilah ini berbedakarakter dalam masing-masing komunitas. Muhammadiyah, NU, Tarbiyah, HTI,Persis, dll. masing-masing punya karakter pengajian tersendiri. Kita bisa ambilcontoh pada Muhammadiyah, NU, dan Tarbiyah yang jelas-jelas berbeda karakterpengajiannya. Setiap level punya karakter tersendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Di kaum &lt;i&gt;nahdhiyyin,  &lt;/i&gt;misalnya, mengaji terasa tak afdhal tanpa membaca kitab, baik kitabklasik ataupun kitab ulama-ulama lokal. Jika pengajiannya di masyarakat,biasanya tema-tema yang sesuai dengan kondisi. Penyampaian biasanya disisipihumor segar. Ciri khas kaum &lt;i&gt;Nahdhiyyin  &lt;/i&gt;adalah melestarikan budaya, yang biasanya terintegrasi dalampenyampaian pengajian agama.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Namun model pengajiannya akan berbeda dikomunitas Muhammadiyah. Ciri khas pengajian di sini adalah adanya sesi tanyajawab dan penekanan yang kuat pada dalil Al-Qur'an serta Hadits. Muhammadiyahmengajarkan untuk kembali pada Al-Qur'an dan Hadits. Purifikasi tersebutkemudian diaplikasikan dalam ijtihad sosial dan pengembangan pendidikan. Olehsebab itu, pengajian Muhammadiyah nuansa ilmiahya lebih kental ketimbang nuansakultural.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Dan di sini jama'ah pengajian memang diberiruang kesempatan untuk bertanya, klarifikasi, bahkan mengoreksi ustadz, karenapenceramah bukanlah orang yang paling tahu, tetapi sama-sama mengkajiberdasarkan ilmu yang dimiliki. Jadi, tak jarang jama'ah banyak menghujaniustadz dengan banyak pertanyaan dalam beberapa kesempatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Di komunitas &lt;i&gt;tarbiyah, &lt;/i&gt;sepengetahuan saya, basis pengajiannyaadalah pada sel, bernama &lt;i&gt;halaqah. &lt;/i&gt;Padamodel pengajian &lt;i&gt;halaqah &lt;/i&gt;ini,nuansa &lt;i&gt;ukhuwah &lt;/i&gt;antar-anggotadan ideologisasi ajaran keagamaan lebih kental. Sehingga, soliditas dansolidaritas kelompok ini kuat.&amp;nbsp; Tak heran jika komunitas ini melahirkanstruktur kelompok yang homogen dan menyamakan basis-basis karakter anggota-kecuali mereka yang "bandel"-dan komunikasi struktural kuat.Pengorganisiran juga tak jarang melalui &lt;i&gt;halaqah.  &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Sementara di kalangan Salafi, pengajianadalah menu rutin. Biasanya, pengajian adalah sarana ideologisasi sebabmenekankan beberapa materi tertentu yang homogen. Modelnya hampir sama denganpengajian Muhammadiyah, hanya saja penekanan ideologisasinya tertentu. Tidakada jama'ah yang melakukan klarifikasi kepada ustadz, karena memang relasimereka adalah antara guru dan murid yang belajar dan mengajarkan ilmu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Susunan materinya kuat di hadits, tapi kerasdalam praktik. &lt;i&gt;Bid'ah &lt;/i&gt;sangatdibenci dan diperangi. Itulah sebabnya, jama'ah Salafi sangat menguasai haditsdan cukup keras dalam bersikap kepada &lt;i&gt;AhlulBid'ah&lt;/i&gt;, sebab penekanan itu memang sering dilakukan di pengajian.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Dengan demikian, tujuan dan jenis pengajiandi masing-masing komunitas berbeda. Ini belum termasuk basis Persis, Al-Irsyad(yang mungkin relatif sama dengan Muhammadiyah), Hizbut Tahrir, Jamaah Tabligh,dan lain sebagainya. Lantas, dengan keberagaman ini, apakah memang kita harusmenspesialisasi diri mengaji hanya di satu komunitas, yang berarti membukakesempatan fanatik, atau seperti apa? Bagaimana menyikapinya?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;*****&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Pemaparan di atas telah memberikan sebuahgambaran bahwa Islam itu sesungguhnya tidak bisa dimaknai tunggal. Selalu adapluralitas penafsiran di dalamnya. Persoalannya, semua yang "plural"itu punya sandaran nash sendiri-sendiri, dan dikesankan satu sama lain terjadifragmentasi. Ini yang repot.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Persoalannya ada pada ummat. Apa yang harusdilakukan? Dalam konteks ini, ummat berada dalam kondisi memilih (ikhtiar).Oleh sebab itu, perlu ada beberapa sikap yang perlu dikembangkan dalammenghadapi pengajian-pengajian yang semakin marak. Ini murni perspektif saya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Pertama, p&lt;/i&gt;enting untuk menumbuhkan sikap diri yangselektif dan klarifikatif terhadap kebenaran ketika mengaji (belajar agama).Sikap "memperbandingkan paham agama" -meminjam istilah KH MasMansyur- perlu dilakukan, yaitu membandingkan kajian agama di satu tempat dantempat lain dalam permasalahan yang sama. Pada gilirannya, nash-lah yang akanmenjawabnya. Dan kita bisa melihat kebenaran bukan pada orangnya (tidakfanatik), melainkan pada maksud dan isi penyampaiannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Kedua, m&lt;/i&gt;enghindari mistifikasi dan kultus individu adalah pentingketika kita belajar agama. Ketika mengikuti forum2 kajian nama, penting untuktidak menganggap bahwa "yang mengajar" adalah paling suci, palingbenar. Tidak. Mereka bukan sumber kebenaran, sebab sumber kebenaran adalahAl-Qur'an dan Hadits. Mistifikasi dan kultus bisa menyebabkan fanatik. Danfanatisme mengarah pada sikap mengklaim kebenaran sendiri padahal ia sendiritak tahu dasar dan dalilnya apa.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Apa yang disampaikan ustadz ketika kajianagama, di manapun tempatnya, tidak semuanya benar. bertanyalah jika mampu.koreksilah jika perlu. Jangan terima mentah-mentah, gunakan akal dan nash untukmencernanya. Ini yang saya sebut sebagai sikap "beragama secarakritis".&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Ketiga, &lt;/i&gt;mengembangkan sikap beragama secara ilmiah, selain kriutis.Belajar agama secara ilmiah berarti mengacu pada sumber kebenaran dan bisamemilah mana "fakta" (nash) dan mana opini dari pernyataan ustadz.Ayat Qur'an itu fakta, tapi penjelasan dari ustadznya adalah opini yang mestisenantiasa kita perbandingkan dengan ceramah di tempat lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Nash Al-Qur'an bernilai mutlak, absolut,tapi opini dari penceramah adalah bersifat relatif. Sehingga, opini danpenjelasan tadi yang perlu diuji, apakah dengan pertanyaan, klarifikasi, atauperbandingan dengan tempat lain. Jama'ah mesti bisa memilah dan memilih, mana yangmerupakan fakta (termasuk kemutlakan &lt;i&gt;nash&lt;/i&gt;)dan mana yang hanya bersifat opini dan interpretasi. Perdebatan tentu dilakukandi ranah yang kedua.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Keempat, &lt;/i&gt;seperti petuah KH Mas Mansyur dulu, senantiasa memperluas pahamagama &lt;b&gt;[3]&lt;/b&gt;. Inijuga merupakan satu bentuk sikap beragama ilmiah. Sebagai pencari ilmu, kitahendaknya terus mencari dan mencari tanpa finalitas, sebab ilmu itu luas, takberujung, dan perlu dipisahkan mana kebenaran dan mana yang tidak, mana yangfakta dan mana yang opini, dan mana yang bisa dipertanggungjawabkan mana yangtidak. Dan melihat dalam multi-perspektif, bukan ketunggalan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Ilmu dan pengetahuan tentu tidak akan datangjika tidak dicari. Dan keduanya juga tidak datang hanya pada satu pintu. Olehsebab itu, sikap terbaik, menurut saya, adalah memperluas pemahaman keagamaankita dengan terus membuka wawasan. Tetapi, perlu ada "filter" yangmenyaring wawasan tersebut. Itulah daya kritis dan pengetahuan dasar keagamaanyang kita miliki.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;*****&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Allah sudah menyediakan Al-Qur'an dan adapula hadits-hadits nabi. Jika masalahnya terjadi pada ranah ibadah &lt;i&gt;mahdhah &lt;/i&gt;atau aqidah, yangmemerlukan legitimasi &lt;i&gt;nash &lt;/i&gt;secaratekstual, pendekatan yang digunakan adalah merujuk pada dua sumber primer tadi.Sebaliknya, jika permasalahannya terjadi pada ranah &lt;i&gt;muamalah, &lt;/i&gt;kita bisa mengupas dengan mengembangkanpendekatan dan teori secara lebih kontekstual.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Sebagaimana kaidah ushul fiqh yang terkenalitu: "&lt;i&gt;Al ashlu fil ibadah alman'u hatta yadullu dalil&amp;nbsp; 'ala fi'lihi';Wal ashlu fil mu'amalah al ibahahhatta yadullu dalil 'ala&amp;nbsp; tahrimihi&lt;/i&gt;". Hukum asal dariIbadah adalah dilarang sampai ada dalil/landasan untuk melakukannya, dan hukumasal dari Mu'amalah adalah boleh sampai ada dalil yang melarangnya. Kitabmasalah limamenjelaskan ini secara lebih detail.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Untuk itulah, berarti sikap dalam"mengaji" bukanlah sikap menunggu, melainkan mencari. Al-Juwainipernah mengatakan, menuntut ilmu itu perlu nalar yang&amp;nbsp; keras danperjuangan yang sulit dan lama (&lt;i&gt;jahdan-nafs wa badzl al-qarihah&lt;/i&gt;) &lt;b&gt;[4]&lt;/b&gt;.Mengaji adalah mencari; dan untuk itu, berpikir kritis dalam pengajian menjadikeharusan. Jika hanya diterima mentah-mentah, tentu akan berpotensi menjatuhkankita pada &lt;i&gt;taqlid &lt;/i&gt;danfanatik buta.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Lantas, bagaimana dengan adab? Kita tidakperlu mempertentangkan &lt;i&gt;adab &lt;/i&gt;menuntutilmu dengan kritisisme dalam mencari ilmu. Hal yang pertama perlu diposisikanadalah bahwa &lt;i&gt;ustadz &lt;/i&gt;yangmemberi ceramah adalah manusia biasa; mereka juga bisa salah. Namun, dalamkonteks keilmuan, posisi mereka adalah guru yang mesti dihormati, namun bukan takmungkin dikoreksi. Menghormati guru adalah dengan melakukan koreksi tetapidengan cara yang baik.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Cara yang baik itulah seni yang harusdipelajari oleh penuntut ilmu. Dalam beberapa kesempatan pengajian di Banjarmasin, justrujama'ah yang melakukan koreksi dengan meng-&lt;i&gt;compare&lt;/i&gt;ceramah dengan hadits dan ayat yang ada. Akhirnya, dengan argumentasi &lt;i&gt;nash &lt;/i&gt;itu, sang ustadz melakukankajian ulang, bahkan ada yang sampai merevisi. Dan itu sah-sah, keduanya tidakmenunjukkan ego ketinggian ilmu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Tanpa adab, ilmu akan sulit masuk. Tapitanpa daya kritis, ilmu hanya akan menjadi "racun", tempat orangmenjadikan opininya sebagai kebenaran tunggal hanya karena mengutip ayatAl-Qur'an. Tentu itu tidak kita inginkan. Adab berjalan sebagai sikap positifmenghargai posisi orang yang berilmu; tetapi kritisisme adalah pendukungnya.Adab yang disertai rasa kritis akan menjadikan pengajian berjalan secara lebihilmiah dan nyaman.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Sebab itu, sikap-sikap positif dalampengajian perlu kembali dikembangkan. "Mengaji" bukan sekadarmenyerahkan diri kita secara total untuk dicuci otaknya, melainkan tempatmenempa kesadaran dan keberpikiran. &lt;i&gt;halaqah  &lt;/i&gt;tarbiyah bisa saja mengideologisasi pikiran kita tentang &lt;i&gt;jamaah, &lt;/i&gt;tapi sebagai penuntutilmu, kita harus kritis dan terus memperluas paham agama agar ideologi tersebuttidak sesat ontologis, terutama dalam penyampaian.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Inilah yang mendasari adanya beberapamajelis seperti &lt;i&gt;Tarjih &lt;/i&gt;diMuhammadiyah atau &lt;i&gt;Hisbah &lt;/i&gt;diPersis: untuk memastikan bahwa pengajian itu jalan, tetap mengacu pada teks,tetapi juga bisa menjadi penopang religius atas sikap-sikap persyarikatanselama ini. Dan basisnya adalah pengajian, yang tentu juga tak boleh dilupakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Hal yang harus dihindari adalah sikapkritis, menganggap ajaran yang dikaji itu yang paling benar. Meminjam istilahAliman Syahrani, menjadi hak setiap orang untuk meyakini bahwa pendapatnyabenar. Namun, dalam waktu bersamaan, seseorang harus menghormati jika oranglain berpikiran serupa. Kebenaran yang mutlak itu hanya kebenaran yangdigariskan Allah, selebihnya bersifat relatif sehingga perlu dialog/komunikasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Fanatisme, rasa pa-Islam-nya, pam-bagus-nyadan lain sebagainya bukan sikap menuntut ilmu, sebab ilmu terbentang tanpafinalitas untuk mencarinya. Fanatisme -sikap mengeksklusi kelompok dan klaimkebenaran sepihak- hanya cermin dari sikap kesombongan diri manusia. Bahkan,jika terjatuh pada sikap &lt;i&gt;chauvinistik,  &lt;/i&gt;bisa mengakibatkan kekerasan massayang sama sekali jauh dari ajaran Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Sudah saatnya sikap fanatik ideologis dibahmenjadi sikap kritis ontologis; kritis, klaririfikatif terhadap kebenaran,tetapi tetap ilmiah dan terbuka. Dan inilah salah satu substansi pengajian:mengajarkan Islam di masyarakat secara benar, bukan provokatif.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;****&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Pengajian adalah penting dalam hidupbermasyarakat &lt;b&gt;[5]&lt;/b&gt;.Menjadi sulit untuk memisahkan pengajaran agama dari hidup bermasyarakat. Makadari itu, sebagai bagian dari masyarakat, juga penuntut ilmu, kita semua perlubersiap diri menghadapi ceramah yang akan diterima waktu pengajian, di manapuntempatnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Salah satu contoh persiapan itu ialahberpikir kritis. Bisakah kita semua berpikir, tidak tercuci otak olehkajian-kajian? Atau justru terbuai dengan "ketaatan" hingga ter-&lt;i&gt;shibghoh &lt;/i&gt;untuk fanatik hanyadengan satu pendekatan? Kiranya hal kedua perlu diantisipasi dengan pikirankritis kita terhadap informasi keagamaan yang diterima.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Semoga, meminjam Aliman Syahrani, kita tidakterjatuh pada dogmatisme yang membuat kita mengklaim kebenaran sendiri. Dansemoga "mengaji" benar-benar membawa kita ke jalan yang diridhaiAllah, bukan jalan proyek uang dan kekuasaan yang semu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Nuun wal qalami wa maa yasthuruun.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;-----&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Catatan Akhir&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;[*]&lt;/b&gt; Penulis adalah peserta tidak tetap pengajian malam selasa diMadrasah Mu'allimin Yogyakarta. masihmahasiswa.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;[1]&lt;/b&gt; Lihat blog penulis,http://kucapa.blogspot.com/2009/08/adakah-dikhotomi-belajar-agama.html&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;[2] &lt;/b&gt;Dalam makna sosiologis, saya merujuk pada tesis Clifford Geertzsoal tipologi masyarakat Jawa, yaitu santri, abangan, dan priyayi."Santri" adalah mereka yang punya semangat keagamaan tinggi dan dalambasis primordial berafiliasi pada komunitas Muslim.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;[3]&lt;/b&gt; Lihat 12 Langkah Muhammadiyah.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;[4] &lt;/b&gt;Dikutip dari Khaled Abou El-Fadl, &lt;i&gt;Musyawarah Buku, &lt;/i&gt;Serambi, 2002 (terjemahan).&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;[5] &lt;/b&gt;Dalam Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, hidupbermasyarakat adalah &lt;i&gt;sunnah &lt;/i&gt;(qudrat-iradat)Allah atas manusia, dan dengan demikian, hidup kita mesti tak jauh darimasyarakat. Hidup bermasyarakat adalah keniscayaan bagi hidup manusia.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/560609633182921938-1750379436915037969?l=ibnulkhattab.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/feeds/1750379436915037969/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=560609633182921938&amp;postID=1750379436915037969' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/1750379436915037969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/1750379436915037969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/2011/11/ahmad-rizky-mardhatillah-umar-dua-tahun.html' title='&quot;Mengaji&quot;'/><author><name>Ahmad Rizky Mardhatillah Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01386471685667584378</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_cgbKwDZI1UU/SHWFzmBsWcI/AAAAAAAAAB4/HMlwHe3Uw3s/S220/1_617762489l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-560609633182921938.post-6540102716253776062</id><published>2011-11-01T16:31:00.000+08:00</published><updated>2011-11-01T16:31:09.297+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Aforisma Senyap Perlawanan</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Perlawanan tak dihasilkan hanya dari tautan kompleks antara analisis dan geraka. Ia diproduksi oleh sebuah aktivitas-tak-berguna yang sering disebut dengan menulis....&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;I&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Seorang mahasiswa datang dari daerahnya yang agak terpencil tapi agak moderen di ujung selatan pulau seberang, membawa sejumlah harap. Tak banyak bekal ia bawa selain kesungguhan, tekad, dan cita-cita. Ia resah dengan lingkungannya, gelisah dengan realitasnya, kritis terhadap kondisi masyarakatnya. Keresahan, kegelisahan, dan kritisisme itu melahirkan idealisme: mengantarkan persinggungannya dengan dunia aktivis yang kadung distigma negatif oleh kawan-kawannya, orang-orang kaya dari ibukota itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;II&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Jauh di sana, seorang petani sedang bernegosiasi dengan para pemodal. Mereka ingin membeli -membebaskan- lahannya guna usaha pertambangan. Izin usaha ada di tangan mereka, yang didapat dengan menyuap kepala daerah. Ganti rugi sudah disiapkan, cukup untuk membeli tanah tempat sang petani mencari hidup dari generasi ke generasi. Tetapi petani itu menolak. Ia tak punya apa-apa lagi untuk mencari uang, kecuali berhuma. Lalu anda tahu lanjutannya: sawah itu dibongkar paksa, dengan kekerasan, tanpa daya-upaya dari petani untuk melawannya. Kuasa.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;III&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Mahasiswa itu tak sekadar kuliah. Ia turut hadir dalam diskusi-diskusi membedah realitas, membongkar fakta dan data. Ia ikuti &lt;em&gt;training &lt;/em&gt;gerakan, mengharap dirinya turut merasakan radikalitas dan militansi bergerak, senafas dengan idealisme yang ia miliki. Materi kuliah ia bawa sebagai alat kritiik, senjata dalam membedah realitas yang timpang. Timbul semangat-baru; belajar tak sekadar kuliah, melainkan juga di-luar-kuliah; mengamalkan ilmu dalam senyap-perlawanan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;IV&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Seorang buruh di kota besar itu sibuk aktif di serikat pekerja, mencoba memperjuangkan nasibnya yang sering-kali ditindas oleh majikannya. Siang hari ia bekerja, malam hari ia hadiri sel-sel pertemuan kawannya, sesama buruh. Hari ini gaji kian mencekik, ia rencanakan pemogokan. Walau ancaman PHK menghadang. Buruh tak takut. Ia teringat Marsinah, mungkin, yang ditindas atas nama relasi-kuasa negara dan modal; tapi justru itu yang jadi pemacu semangatnya untuk mogok. Mengancam perusahaan. Menanti konsesi untuk nasib buruh yang lebih baik.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;V&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Di Bunderan UGM, rupanya hari ini mau diadakan demonstrasi. Isunya agak &lt;em&gt;njlimet: &lt;/em&gt;bongkar kasus Century. Mahasiswa aktif berjejer menentang perampasan uang rakyat yang dituduhkan itu. Spanduk digelar lengkap dengan rontek dan atribut aksinya. Satu jam cukup untuk orasi dan teatrikal. Lalu, massa membubarkan diri dengan tenang. Pimpinan organisasinya tak terlihat. Mungkin, menanti kucuran dana dari mereka yang "bersimpati".&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;VI&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Tapi di desa itu, usahawan tambang tetap dengan gencar mencari cara untuk membebaskan lahan petani. Pemda sudah disuap, apa lagi yang ditunggu? Preman ada di belakang, apa lagi yang ditakutkan? Tak ada yang bisa menghalangi, tentu saja. Walau petani marah sawahnya digusur paksa. Walau perangkat desa mencoba membela. Tapi rupanya persoalan sederhana saja: kalah kuasa.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;VI&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Pemogokan itu segera digelar. Perusahaan marah karena efisiensi produksinya terganggu. Buruh tak mau bekerja. Mitra usaha ribut. Tuntutan buruh sederhana: kenaikan upah. Tentu saja pabrik tak mau rugi. Jika dulu yang didatangkan Kodim -tentara- sekarang yang datang tentara berpakaian sipil. Preman. Atas nama aparat keamanan. Konsesi ditawarkan, tapi tetap gagal. Pemogokan ditindak kekerasan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;VII&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Mahasiswa yang resah itu kian marah setelah melihat pemberitaan koran. Petani ditindas, buruh ditindas. Sementara yang diaksikan justru Century yang tak jelas. Biar beras diimpor, tak ada mahasiswa yang marah. Mungkin karena arahan partainya. Biar buruh protes, tak banyak yang tergerak. Mungkin dibilang kuno atau karena mereka mungkin tak tahu apa-apa soal buruh itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;VIII&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Tapi si mahasiswa itu hanya sendiri. Ia belum sekuasa rekan-rekannya, senior-seniornya, yang pandai mencari uang operasional untuk membiayai aksi. Tak pandai mem&lt;em&gt;broker&lt;/em&gt; untuk sekadar mencari dana gerakan. Yang bisa dilakukannya hanya satu: menulis. Meratap dalam hening. Melampiaskan kekesalan, dalam satu dua paragraf tulisan singkat.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;IX&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Si mahasiswa mencoba meletakkan Islam sebagai alat analisis. Bahwa Islam bukan agama yang hanya digulirkan membela &lt;em&gt;status-quo; &lt;/em&gt;kekuasaan  yang korup. Bukan untuk melegitimasi penindasan. Bukan hanya untuk  mencari-uang. Ia berkenalan dengan teologi pembebasan, Islam Kiri, dan  segala macam lainnya. Ia lahap Ashgar, Hanafi, Arkoun, Ahmad Dahlan,  Kunto, sampai Al-Banna dan Quthb. Ia menemukan varian Islam baru, yang  progresif, tapi tanpa melupakan identitas. Ketika rekan-rekannya masih  bergulat dengan identitas -yang dikonstruksi dalam lingkaran-lingkaran itu, yang sudah berada dalam tahap  pasca-identitas. Substansi. untuk pembebasan: rakyat tertindas.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;X&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Lalu ia tersadar. Inilah zaman baru. Postmodernitas telah menciptakan gen-gen baru pergerakan yag tak lagi "suci"; tertaut relasi-kuasa di luar sana. Maka perlawanan kian senyap. Wacana dicipta dalam hening. Perjuangan tak lagi heroik. Sebab, ada kuasa-kuasa lain di luar sana. Kuasa media, kuasa akademik, kuasa modal. Media mencipta wacana negatif tentang gerakan mahasiswa. Akademik mengkrangkeng kampus dalam aktivitas perkuliahan, yang sebenarnya tak meramu segala macam pengetahuan, tapi hanya melahirkan formalitas-formalitas "ilmiah". Modal membiayai aksi mahasiswa untuk kepentingan gerakan mereka. Politik? Sudah dikuasai pemilik modal, bahkan yang berbaju agama sekalipun.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;XI&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan di malam yang larut, mahasiswa itu masih menulis. Melawan dalam senyap. Memberontak dalam diam. Memahami dunia dalam kesunyian. Karena satu-hal yang ia mengerti: Kuasa dunia hanya bisa dilawan dalam senyap dan diamnya goresan pena, yang menceritakan makna dengan tanpa-prasangka. Karena dunia adalah relasi-kuasa; Siapa yang berkuasa, ia yang akan berjaya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;XII&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Catatan-catatan ringkas tak berhubungan ini: sekadar pengisi kegalauan, pengisi semangat dalam malam yang hening, sunyi, senyap, dan sepi. Dalam cengkeraman studi yang kian suram. &lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Manggung, 31 Oktober 2011.&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sebelum Ujian Tengah Semester&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/560609633182921938-6540102716253776062?l=ibnulkhattab.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/feeds/6540102716253776062/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=560609633182921938&amp;postID=6540102716253776062' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/6540102716253776062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/6540102716253776062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/2011/11/aforisma-senyap-perlawanan.html' title='Aforisma Senyap Perlawanan'/><author><name>Ahmad Rizky Mardhatillah Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01386471685667584378</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_cgbKwDZI1UU/SHWFzmBsWcI/AAAAAAAAAB4/HMlwHe3Uw3s/S220/1_617762489l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-560609633182921938.post-1465268034403237768</id><published>2011-10-30T11:36:00.003+08:00</published><updated>2011-10-30T11:36:41.499+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat'/><title type='text'>"Agama Progresif"</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Agama bukan sekadar ritual. Di baliknya, tersimpan makna untuk pembebasan, kemerdekaan, revolusi, perjuangan. tanpa kelas. tanpa penindasan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;ISLAM&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="photo_left"&gt;&lt;span class="caption"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Islam tak tepat jika disinonimkan hanya sekadar sebagai "agama". Pranatanya jelas lebih luas, melampaui sekadar agama. Islam sekadar agama berarti hanya mendefinisikan Islam dalam skema ritual yang sifatnya individual. Hanya sekadar aturan-aturan yang membebankan individu. Padahal Al-Qur'an juga bicara sistem. Islam adalah sejarah. Praksis historis Islam terbentang dari padang-padang stepa di Mongolia, pesisir laut nusantara, sabana Afrika, gurun pasir Arabia, hingga dataran bersalju di Eropa dan Rusia. Ia adalah juga peradaban, sebuah sistem kemanusiaan yang memandu perjalanan hidup manusia. Ia adalah semangat perubahan sosial, yang menggabungkan praksis material, historis, dan metafisis sekaligus. Bersumber pada tauhid, yang menjadi kerangka berpijak, sandaran transendental manusia kepada "yang di luar", yang punya kekuasaan tunggal. Dan berpraksis pada kemanusiaan dan keadilan, menentang kezaliman, penindasan, melawan kebatilan. Islam adalah sejarah, ideologi, ontologi, agama, ritual, dan tentu saja praktik. Ia melingkupi manusia dalam perjalanan hidupnya.&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;SYAHADATAIN&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Deklarasi, penegasan&lt;em&gt; &lt;/em&gt;bahwa yang bisa disebut sebagai "Tuhan" itu hanya satu: Allah; yang berkuasa itu hanya satu; Allah; dan yang bisa mengatur hidup manusia itu hanya satu; Allah. Dan konsekuensi logisnya, memercayai manusia yang Allah pilih, sebagai pembawa berita, yaitu Rasulullah, Muhammad. Sosok pembebas manusia dari kebatilan, dari ketidakadilan, dari zaman kegelapan. Yang bisa menindas itu hanya satu, yaitu Allah. Berarti, yang mau menindas orang lain, yang ingin menjadi tiran, yang ingin merendahkan orang lain&amp;nbsp; berarti ingin menggantikan Allah sebagai tuhan. Padahal tiada tuhan selain Allah. Dan manusia itu bersaudara, sama derajat, siapapun orangnya, asal bisa menerima sesamanya, sebagai saudara.&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;JILBAB&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Bentuk perlindungan diri terhadap eksploitasi; terhadap penindasan manusia atas manusia lain. Penegasan bahwa manusia itu egaliter, punya hak dan kedudukan sama, haram ditindas oleh manusia lainnya. Jilbab adalah hijab, pelindung dari ketidakadilan, pelindung dari penindasan. Wanita yang berjilbab mengharamkan dirinya ditindas oleh laki-laki, tidak ada superioritas &lt;em&gt;gender&lt;/em&gt;. Jilbab adalah pelindung wanita dari eksploitasi kapitalisme, bukan justru komoditas yang mendukung kapitalisme. Jilbab adalah kehormatan, perlindungan terhadap wanita dari nafsu menindas manusia lainnya. Jilbab bukan sekadar aksesori; Ia adalah wahana perlindungan atas kapitalisme yang tak paham kemanusiaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;SHALAT&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Manifestasi ketundukan hanya pada satu kuasa yang tunggal; persatuan umat di bawah satu ketaatan. Tidak ada ketaatan pada selain Allah. Tidak ada penyembahan pada selain Allah. Shalat adalah penyemangat gerak, pengharaman diri dari kezaliman dan angkara. Pengharaman diri dari segala bentuk penindasan, sok berkuasa, atas manusia lain. Shalat melepas baju-baju selubung diri, kesombongan yang terlihat, di hadapan Allah. Kekhusyukan adalah kesungguhan perjuangan di hadapan Allah. Dimulai dengan Allahu Akbar; mengakui kebesaran Allah, menafikan kebesaran selain-Allah, menafikan kebesaran-diri. Diakhiri dengan salam, sebagai bentuk penghormatan atas egaliterisme, sikap menghargai kemanusiaan. Penegasan atas ke-mahabesar-an Allah, harus dimanifestasikan dalam bentuk penghargaan atas kemanusiaan. Dan implikasi sosialnya, menegasikan &lt;em&gt;fahsya' &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;munkar. &lt;/em&gt;Kejahatan, kezaliman, penindasan, kekerasan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;AL&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;-&lt;em&gt;QUR'AN&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Pedoman hidup manusia. Al-Qur'an mengajarkan kita bahwa revolusi, perjuangan, perubahan sosial, dan semacamnya itu perlu sentuhan intelektualitas. Perlu pedoman. Perlu basis intelektual. Oleh sebab itu, Al-Qur'an menyuruh kita membaca. Sebab membaca adalah kunci. Pembuka. Pembebasan itu perlu pembacaan, perangkat analisis, strategi dan taktik (stratak). Perlu tahu objeknya. Tidak sekadar mengikut orang lain. Itulah sebabnya ada Al-Qur'an untuk memandu jalan kita. Al-Qur'an mengajarkan, mereka yang menolak menerima bantuan, berselingkuh dengan kekuasaan, adalah pendusta agama. Mereka yang bermewah-mewahan bisa celaka. Dan lain sebagainya. Al-Qur'an adalah petunjuk, obat, penuntun manusia ke jalan lurus.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;ZAKAT&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Proposisi perlawanan terhadap kapitalisme. Bahwa hidup itu bukan untuk mencari uang, tetapi membagikan uang untuk rakyat miskin yang tertindas. Bahwa bekerja adalah simbol pengabdian pada Allah. Dan hasil dari bekerja bukan untuk diri sendiri. Ketika mendapatkan uang, kita memupus kesempatan orang lain untuk mendapatkan uang. Konsekuensi logisnya, zakat adalah tanggung jawab sosial. Kemiskinan adalah sumbangsih orang yang punya uang. Mereka harus diberikan haknya yang ada pada kita. Zakat menegasikan individualisme yang dibawa kapitalisme. Uang adalah entitas kolektif, yang dipunya oleh semua orang. Ketidakadilan ekonomi harus dilawan. Zakat adalah simbolnya.&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;PUASA&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Bentuk perlawanan terhadap hawa-nafsu. Perlawanan terhadap nafsu untuk berkuasa, kehendak menindas orang lain. Berpuasa berarti menahan hasrat untuk "makan". Menahan hasrat biologis, kebutuhan hidup. Makan adalah sumber nafsu. Mengendalikan waktu makan, berarti belajar mengendalikan nafsu. Kejahatan dimulai dari nafsu. Kekerasan juga sumbernya nafsu. Mengendalikan semua hasrat itu, berarti belajar mengendalikan diri dalam interaksi sosial. Belajar bahwa tidak hanya kita yang hidup di dunia. Bahwa masih ada yang kelaparan, terpinggirkan, tertindas, tak dapat akses untuk makan, di saat kita sendiri tengah makan. Dan artinya, belajar sederhana.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;HAJI&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Momentum persatuan umat Islam. Sebuah pernyataan sikap akbar umat Islam untuk melawan kezaliman, melawan penindasan, melawan kebatilan. Manusia melepas selubung kebesarannya, Menelanjangi dirinya, melawan kehendak berkuasanya, dengan &lt;em&gt;irham. &lt;/em&gt;Melandaskan niatnya pada ketulusan dan kesungguhan perjuangan, melalui &lt;em&gt;miqat. &lt;/em&gt;Lalu berjalan menuju persatuan, kesadaran kolektif, revolusi terbuka dalam perjuangan kelas bersama, melalui &lt;em&gt;wuquf &lt;/em&gt;di Arafah. Arafah menjadi saksi lautan manusia yang berkumpul untuk menegakkan kalimat tuhan, melawan penindasan iblis di muka bumi. Lalu berjalan mengumpulkan perbekalan, batu-batu tajam di &lt;em&gt;Masy'aril Haram, &lt;/em&gt;Mudzalifah. Berbekal berarti merumuskan strategi dan taktik perjuangan, agar perlawanan siaga, tidak salah arah. Dan mengistirahatkan diri sebelum medan pertempuran. Besoknya, sampai di Mina, dengan bekal batu-batu tajam itu, melempar &lt;em&gt;jumrah. &lt;/em&gt;Melawan penindasan, simbolisasi Iblis, dengan nyata. Selama tiga hari, berjuang bersama dalam sekup perlawanan. Lalu bertolak ke Makkah, selepas perlawanan, untuk meraih kemenangan, melakukan &lt;em&gt;tawaf. &lt;/em&gt;Dan menggapai kemuliaan di &lt;em&gt;sa'i, &lt;/em&gt;menyelesaikannya atas nama Allah dengan &lt;em&gt;tahallul. &lt;/em&gt;Memotong rambut sebagai rasa syukur, sekaligus penanda bahwa perjuangan ini adalah perjuangan bersama. Atas nama Allah. Haji adalah simbol kekuatan umat Islam, yang dibangun di atas fondasi persaudaraan, di atas kerangka tauhid sebagai dasar perjuangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;I'TIKAF&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Simbol pengasingan diri menuju kemerdekaan berpikir. Bahwa hidup ini untuk ibadah pada Allah. Meluruskan niat. Menuju Rumah Allah untuk mengasingkan diri dari hiruk-pikuk dunia&lt;strong&gt;&lt;em&gt;, &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;pragmatisme, kehendak berkuasa. Semuanya harus dilawan. Manusia adalah makhluk bebas, merdeka, hanya tunduk pada Allah. Tak ada yang lain yang bisa menggantikan Allah. Oleh sebab itu, ia harus kembali pada hakikatnya, sebagai makhluk Allah. Dan untuk itulah i'tikaf dilakukan. Untuk mengisi perbekalan sebelum menginisiasi perubahan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;QURBAN&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Kesyukuran atas pembebasan manusia dari hawa nafsu, yang diperankan Ibrahim. Memberikan harta untuk dimakan orang lain. Simbol solidaritas, kolektivisme. Bahwa manusia harus bersyukur dengan kelebihan yang ia miliki. Qurban adalah keikhlasan mengorbankan harta-benda untuk perjuangan. Refleksi kesadaran. Simbol atas kepasrahan pada Allah bahwa perjuangan itu adalah manifestasi pelaksanaan kalimat Allah di muka bumi. Revolusi. Pembebasan.&lt;/div&gt;&lt;blockquote style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Asyhadu an la ilaha illaha allallah&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Barang siapa yang ingin merendahkan orang lain&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;berarti ia ingin menjadi tuhan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;barang siapa ingin menjadi tiran&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;berarti ia ingin menjadi tuhan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;barng siapa ingin menang sendiri&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;berarti ia ingin menjadi tuhan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;padahal tiada Tuhan selain Allah!&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Seorang penguasa yang menindas rakyatnya&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;berarti ia ingin menjadi tuhan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;padahal tiada tuhan selain Allah!&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Kita Menerima siapapun orangnya dan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Dari manapun asalnya&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Asalkan bisa menjadi saudara bagi&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;em&gt; Sesamanya&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Asyhadu an la ilaha illaha allallah&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;SYAHADAT PEMBEBASAN&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/560609633182921938-1465268034403237768?l=ibnulkhattab.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/feeds/1465268034403237768/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=560609633182921938&amp;postID=1465268034403237768' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/1465268034403237768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/1465268034403237768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/2011/10/agama-progresif.html' title='&quot;Agama Progresif&quot;'/><author><name>Ahmad Rizky Mardhatillah Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01386471685667584378</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_cgbKwDZI1UU/SHWFzmBsWcI/AAAAAAAAAB4/HMlwHe3Uw3s/S220/1_617762489l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Yogyakarta, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-7.797224 110.368797</georss:point><georss:box>-7.8601515 110.289833 -7.7342965 110.447761</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-560609633182921938.post-4895858921223773901</id><published>2011-10-29T13:43:00.006+08:00</published><updated>2011-10-29T19:46:46.855+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mahasiswa'/><title type='text'>"Andi Munajat" (Refleksi Hari Sumpah Pemuda)</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;DARAH JUANG&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Di sini negeri kami&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tempat padi terhampar&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Samuderanya kaya raya&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Negeri kami subur tuhan&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Di Negeri Permai ini&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Berjuta rakyat bersimbah luka&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Anak kurus tak sekolah&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pemuda Desa tak kerja&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;*****&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="photo_left"&gt;&lt;span class="caption"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Pada tanggal 27 Maret 2009, dua tahun silam, Harian Banjarmasin Post melansir sebuah berita kecelakaan. Beritanya tak dianggap hangat, "hanya" berada di halaman "Banjarmasin". Waktu itu, saya sudah kuliah di Yogyakarta, di semester kedua.Saya pun baru melihat beritanya beberapa bulan kemudian, ketika saya dengan iseng mencari-cari nama beberapa penggerak gerakan mahasiswa tahun 90-an.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berita itu bagi sebagian orang -apalagi orang Banjar- mungkin tak akan dianggap terlalu penting, sebab ia menceritakan sebuah peristiwa kecelakaan biasa: seorang aktivis LSM dan puteranya yang baru berusia 6 tahun meninggal dunia karena kecelakaan di Jalan Trans-Kalimantan, antara Pelaihari dan Batulicin. Korbannya bernama Andi Munajat (42), seorang aktivis LSM di daerah Sungai Danau, Satui, Tanah Bumbu. Menurut catatan berita, ia aktif di LSM Sampan, sebuah LSM Lokal dan beberapa organisasi sosial.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi para pembaca Banjarmasin Post, mungkin berita itu tak ada yang istimewa. Andi Munajat seakan-akan tidak begitu dikenal, bahkan oleh koran terbesar di Kalimantan Selatan itu. Akan tetapi, ketika berita kecelakaan itu tersebar, para mantan aktivis di Yogyakarta langsung dibuat kaget. Sebuah buku diluncurkan, "Menyulut Api Kering Perlawanan" khusus untuk memberi penghormatan atas kematiannya. Media massa, seperti vhrmedia, mengulas sosoknya dalam satu berita penuh. Berjuta ucapan belasungkawa dihaturkan. Sebuah aksi solidaritas dilangsungkan untuk mengenangnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lantas,&amp;nbsp; siapakah ia sebenarnya?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;****&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Andi Munajat boleh jadi tak dikenal di Kalimantan Selatan. Ia mungkin  hanya disebut oleh Banjarmasin Post sebagai "aktivis LSM Lokal". Tapi  bagi gerakan reformasi, yang memberi perubahan besar bagi struktur  politik Indonesia di penghujung abad ke-20, namanya menjulang tinggi.  Sanad aktivis kiri Yogya, boleh dikatakan, berujung pada dirinya. Sebuah  catatan yang ditulis khusus untuk mengenang Almarhum -ditulis oleh Yul Amrozi- menyebutnya  sebagai "Socrates" di zaman pergerakan mahasiswa saat itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya mencoba mengumpulkan beberapa catatan mengenai Andi Munajat dari dokumentasi media. Beliau adalah mahasiswa Filsafat UGM, angkatan 1986. Ketika beliau meninggal, di milis mahasiswa filsafat ramai membincang belasungkawa. Ia sezaman dengan beberapa aktivis kiri zaman itu, macam Ngarto Februana (sekarang wartawan Tempo), Dadang Juliantara (Mantan Direktur Walhi Yogyakarta), atau Budiman Sujatmiko (Ketua Repdem PDIP).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;VHRMedia menyebut Andi sebagai "seorang tokoh muda tak dikenal yang sebenarnya berjasa besar membangun gerakan demokrasi di kalangan mahasiswa dan generasi muda". Ialah yang disebut-sebut berada di balik pendirian SMID, Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi, sebuah organ mahasiswa yang menjadi cikal-bakal munculnya Partai Rakyat Demokratik (PRD).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari catatan Eka Kurniawan, saya mengetahui bahwa Andi Munajat dikenal sebagai salah satu tokoh PIJAR, majalah mahasiswa Filsafat UGM yang pada era itu menjadi corong kritisisme pers mahasiswa. Gambaran Eka Kurniawan, "&lt;i&gt;Satu-satunya ingatan samar saya hanyalah mengenai seorang lelaki asing  yang tiba-tiba masuk ke kantor Pijar. Itu nama majalah mahasiswa  Fakultas Filsafat, tempat saya berakti[v]itas semasa kuliah. Tiba-tiba,  ada lelaki asing masuk dan tidur di ruangan Pijar. Ia tak bicara, tidak  memperkenalkan diri, dan langsung tidur di pojok&lt;/i&gt;.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejarah PIJAR yang ditulis oleh penggiat pers mahasiswa Filsafat ini juga mencatat bahwa Andi Munajat tercatat sebagai pendiri BPM Pijar, bersama Hari Subagyo -yang kemudian banyak terlibat dalam advokasi petani-, Agus Wahyudi (Dosen Filsafat), Yayan Sopyan (mantan Pemimpin Umum), dan lain sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Catatan lain diperlihatkan VHRMedia, melalui catatan wawancaranya dengan seorang kawan dekat Andi Munajat. “Dia satu-satunya orang yang mau memberikan perspektif untuk melawan rezim yang ingin menghancurkan rakyat", kata Wilson, rekan Andi Munajat tersebut. Khas gerakan mahasiswa 1990-an.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan  tentu saja karya seni monumentalnya, yang hampir menjadi "menu  wajib"  lagu-lagu demonstrasi mahasiswa di Yogyakarta, baik dari  kalangan Islam  maupun kiri. "Darah Juang", yang ditulisnya bersama  Johnsony Tobing  (sekarang di PRD) adalah satu dari sekian buah  karyanya. "Darah Juang" menjadi cerminan ketidakadilan pemerintah dalam karya sastra, dinyanyikan ketika demonstrasi, memberi semangat perjuangan yang kental.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;SMID, yang  menjadi cikal bakal berdirinya Partai Rakyat  Demokratik, juga merupakan  buah gagasannya. SMID segera menjadi organ gerakan kiri dengan aksi-aksinya yang radikal, berpusat di Yogyakarta, dan kemudian dengan cepat menyebar ke daerah-daerah lain, utamanya Jakarta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Syahdan, Andi Munajat-lah yang mengoperatori pendirian SMID melalui  muhibah ke beberapa kota, begitu catatan Yul Amrozi, seorang mantan  aktivis SMID Yogya. Seorang kawan, tokoh Liga Mahasiswa Nasionalis untuk  Demokrasi, bercerita bahwa Andi Munajat-lah yang sesungguhnya menjadi  Ketua Ilegal LMND. &lt;i&gt;Wallahu a'lam.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun, versi lain menyebutkan, namanya tak lagi muncul dalam pentas SMID pada tahun 1994. Memang, dalam sejarah SMID, yang kemudian terpilih sebagai Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal SMID adalah Munif Laredo dan Fernando Manullang. Lalu kemudian muncul PRD yang dikomandoi oleh Budiman Sujatmiko, mahasiswa FE UGM. Nama Andi Munajat kemudian tak lagi disebut-sebut. Ada yang mengatakan ia disingkirkan dengan alasan yang tidak terlalu jelas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak saat itu, nama Andi Munajat hilang dari blantika gerakan mahasiswa. Ia kemudian pergi ke Kalimantan -kemudian saya ketahui Banjarmasin- dan mengorganisir basis di sana. Jelas, ia tak bersentuhan dengan ketenaran dan popularitas. Sehingga, bagi seorang mahasiswa yang aktif dalam gerakan mahasiswa Islam seperti saya, jika tak iseng mencari-cari, mungkin tak kenal siapa orangnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendek kata, nama Andi  Munajat menjadi salah satu  kreator dari pergerakan pro-demokrasi di  penghujung 1990-an. Gerakan prodemokrasi lahir dari tangannya. Namun demikian, ia tak tampil membela panji demokrasi ketika revolusi sosial merembes ke Jakarta, menumbangkan &lt;i&gt;state capitalism &lt;/i&gt;Orde Baru, memberi warna reformasi tahun 1998. Namanya seakan-akan hilang ditelan zaman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika rekan-rekannya dulu, seperti Andi Arief (Mahasiswa FISIPOL), Velix Wanggai (mantan Ketua Jamaah Mushola Fisipol), atau Budiman Sujatmiko (Ketua PRD) tampil dalam panggung politik di medio 2000-an, tidak ada yang mengenal Andi Munajat di koran-koran nasional. Padahal, namanya sangat patut diperhitungkan sebagai ideolog gerakan kiri Yogya 1990-an.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di akhir hayatnya, Andi Munajat lebih memilih "mengasing" di sebuah desa  kecil bernama Sungai Danau, di Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu,  Kalimantan Selatan. Ia memilih mengorganisir massa di wilayah itu.  Sebagai &lt;i&gt;Urang Banjar, &lt;/i&gt;saya tahu persis betapa wilayah di Kabupaten itu kaya tambang, tapi tak jelas pengelolaannya. Hutan-hutannya digundul atas dalih HPH. Almarhum kabarnya sempat terlibat pemogokan kayu di sana.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun, siapa yang tak terkejut ketika mendengar kabar bahwa Andi Munajat meninggal di tahun 2009, dengan tak disangka-sangka. Berita yang memuat kematiannya hanya ditempatkan di bagian dalam, bukan &lt;i&gt;headline. &lt;/i&gt;Media pun tak kenal jasa-jasanya semenjak menjadi mahasiswa dulu. Ia mati layaknya Abu Dzar Al-Ghifari, sahabat Nabi yang zuhud itu, tak dikenal, sendirian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk mengenang namanya, beberapa aktivis gerakan 98 kemudian meluncurkan sebuah buku: "Menyulut Lahan Kering Perlawanan, Gerakan Mahasiswa 1990-an: Tribute to Andi Munajat". Tercatat beberapa nama seperti Nezar Patria (Koordinator AJI), FX Rudy Gunawan, dan lain sebagainya. Buku itu diluncurkan di Goethe Institute, September 2009.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;****&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Itulah Andi Munajat. Namanya mungkin melekat di hati aktivis gerakan kiri, terutama gerakan kiri Yogyakarta, tapi mungkin tidak dikenal di masyarakat banyak. Namanya kalah bersinar dibanding Fahri Hamzah, senior saya yang sering mencuatkan kontroversi tak jelas untuk melindungi kepentingan proyek partainya. Mungkin, namanya tidak banyak bersanding dengan Andi Arief yang kini masuk dalam lingkar kekuasaan SBY. Dan lain-lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya memang bukan seorang aktivis gerakan kiri, walau dalam beberapa kesempatan sering terlibat aksi bersama mereka. Usia akademik saya amat jauh terpaut dengan beliau. Namun, bagi seorang aktivis "kacangan" seperti saya, yang tak punya apa-apa selain tulisan-tulisan jelek ini, beliau menjadi inspirator perjuangan yang kuat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rekam jejak kepahlawanan Andi Munajat -jika boleh saya menggunakan istilah "pahlawan" sebagaimana sering digunakan Anis Matta- bukan terletak pada hebatnya aktivitas pengorganisiran yang mampu menggerakkan mahasiswa tingkat nasional di masa lampau. Kepahlawanan Andi Munajat -bagi saya- terletak pada kesungguhan (&lt;i&gt;mujahadah&lt;/i&gt;) untuk mengorganisir, dari level bawah (akar rumput) hingga mahasiswa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di saat godaan kekuasaan menerpa alumnus gerakan mahasiswa 90an (Fayyadl menyebutnya sebagai "migrasi para aktivis"), Andi Munajat tetap tak dikenal dengan advokasinya di masyarakat Satui yang kaya tambang namun tak banyak kenal pendidikan. Entah karena penyingkiran atau pelarian, tak ada yang tahu mengapa Andi Munajat enggan tampil ke pentas politik nasional. Padahal, saya yakin godaan itu begitu kuat melanda.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Migrasi aktivis mahasiswa ke lajur politik tak dapat disangkal. Fenomena ini terjadi di KAMMI, organisasi yang saya pilih untuk digeluti di masa kuliah. Ada yang dengan cepat menjadi elite di PKS -yang didirikan oleh alumninya- dan menjadi anggota DPR, alias pemain dalam perburuan rente di parlemen. Ada yang kurang sigap, lantas hanya menjadi staf ahli. Ada pula yang memanfaatkan jaringan untuk mem-&lt;i&gt;broker-&lt;/i&gt;i proyek anggaran. Sebagian lagi, yang soleh-soleh itu, menjadi &lt;i&gt;ustadz &lt;/i&gt;di partai, dengan segenap kompartemennya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kendati demikian, ada yang berprofesi berbeda. Menjadi wartawan, aktivis LSM, atau menggeluti dunia usaha "murni", bukan membroker. Ada yang tampil di pentas birokrasi, menjadi penegak hukum, dan lain sebagainya. Namun kekuatan mereka tak sekuat mereka yang di partai politik -dengan segala perangkat sumber dayanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Andi Munajat mengajarkan sesuatu hal pada kita: keikhlasan dalam bergerak. Ia "melawan" logika uang dan kekuasaan yang kini meliputi &lt;i&gt;mainset &lt;/i&gt;kawan-kawan gerakan mahasiswa. Organisasi intrakampus mungkin merapat ke rektorat, lantas bermain dengan anggaran dan proyek-proyek gerakan dari "alumni" atau broker gerakannya. Yang ekstrakampus tak kalah genitnya, mencari proyek atas nama jalinan kuasa tertentu. Dan lain sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keikhlasan dalam bergerak bukan sekadar "apa yang bisa diberikan untuk gerakan", tetapi juga "seberapa besar pengorbanan untuk gerakan". Keikhlasan berarti siap berpeluh-darah mengorganisir di tempat yang tak enak, menggerakkan yang sulit. Bukan sekadar mencari uang. Tapi, tentu saja, hal yang tak enak itu tetap dijalani dengan lapang dada.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam euforia sumpah pemuda, semangat Almarhum Andi Munajat memberi kita inspirasi: Seorang penggerak tak harus melambungkan dirinya untuk kepentingan pribadi. Seorang penggerak bisa jadi berjalan di tempat yang sunyi, dalam keheningan, bekerja dalam diam, namun memberikan kebesaran pada masyarakatnya. Ia tak perlu ketenaran, sebab ketenaran hanya melumpuhkan sumpah. Seorang pemuda mesti menitahkan sumpahnya: bergerak dalam keikhlasan!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan sebab itu, dengan Sumpah Pemuda, yang mendeklarasikan beberapa hal, perlu ada perluasan-perluasan. Sumpah Mahasiswa Indonesia tahun 1998 sudah menegaskan hal ini: Kami, Mahasiswa Indonesia, Mengaku berbangsa satu: Bangsa yang Gandrung Keadilan, berbahasa satu: Bahasa Kebenaran, dan bertanah air satu: Tanah Air Tanpa Penindasan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam semangat Sumpah Pemuda, Andi Munajat mengajarkan pada kita: perubahan itu tidak bermula dari Jakarta. Ia bermula dari desa-desa kecil, jalan-jalan sempit, pedalaman yang tak terjamah. Dan itu artinya, tidak berkelindan dengan kekuasaan. Juga tidak bercengkerama dengan uang yang terlampau banyak&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai aktivis, saya harus malu jika tak punya kehendak untuk hidup bermasyarakat selepas lulus kuliah. Saya harus malu jika hanya berorientasi "mencari uang" ketika lulus kuliah. Dan saya harus malu jika kemudian berselingkuh dengan kekuasaan setelah menyelesaikan studi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan Andi Munajat (almarhum) memesankan satu hal lain yang tak kalah penting: idealisme.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;****&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam syairnya, "Darah Juang", Andi Munajat (Alm) berpesan: "Bunda Relakan Darah Juang Kami, Tuk Membebaskan Rakyat". Pembebasan rakyat dari kemiskinan, kebodohan, dan ketertindasan adalah agenda kolektif gerakan, dari Islam ataupun gerakan kiri. Rakyat sudah terlampau lama dijajah oleh hegemoni modal, oleh tangan-tangan gaib yang menjamah pertambangan kita. Perlu ada semangat pembebasan itu. Dan itu yang mesti kita pupuk selama ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Andi Munajat boleh tak dikenal di daerahnya. Tapi namanya tetap abadi dalam sejarah pergerakan mahasiswa. Sebab sejarah tak berdusta. Ia tahu persis, mana kaum oportunis, dan mana yang bergerak atas dasar keikhlasan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan saya akhiri tulisan ini, sebagai peringatan sumpah pemuda, dengan kata-kata sederhana: Selamat Jalan! Semoga dari rahim sejarah yang baru lahir tunas-tunas penggerak dan pemikir yang baru pula!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Mereka dirampas haknya&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tergusur dan lapar&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bunda relakan darah juang kami&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tuk membebaskan rakyat&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;DARAH JUANG&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Nuun Wal Qalami Wa Maa Yasthuruun. Billahi fii sabilil haq.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;*Penulis adalah Aktivis KAMMI UGM&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/560609633182921938-4895858921223773901?l=ibnulkhattab.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/feeds/4895858921223773901/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=560609633182921938&amp;postID=4895858921223773901' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/4895858921223773901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/4895858921223773901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/2011/10/andi-munajat-refleksi-hari-sumpah.html' title='&quot;Andi Munajat&quot; (Refleksi Hari Sumpah Pemuda)'/><author><name>Ahmad Rizky Mardhatillah Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01386471685667584378</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_cgbKwDZI1UU/SHWFzmBsWcI/AAAAAAAAAB4/HMlwHe3Uw3s/S220/1_617762489l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-560609633182921938.post-88599886081429499</id><published>2011-10-26T08:29:00.001+08:00</published><updated>2011-10-29T19:57:49.532+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keislaman'/><title type='text'>"Nahdhiyyin dan Muhammadiyyin"</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;AHMAD RIZKY MARDHATILLAH UMAR &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Saya baru saja membaca tulisannya Pak HeruPrasetia soal Muhammadiyah di blog beliau. Judulnya "Saya danMuhammadiyah". Tulisannya agak lama. Ditulis kira-kira setahun silam,ketika Jogja sedang menggelar hajatan Muktamar Seabad yang melibatkan pengurusdan penggembira dari seantero penjuru Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Yang menarik, tulisan itu mengupasMuhammadiyah dari perspektif Nahdhatul Ulama, yang selama ini sering dianggapvis-a-vis dengan modernisme Muhammadiyah. Sehingga, lahir sebuah perspektifyang sangat berbeda dari tulisan-tulisan lain tentang Muhammadiyah. Sayamengenal penulisnya, sebagai seorang aktivis PMII tahun 1990an, dan sekarangmengelola sebuah lembaga masyarakat sipil bernama &lt;i&gt;Lafadl Initiatives &lt;/i&gt;di Yogyakarta.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Saya pun menjadi tertarik untuk membahasmasalah ini dari sudut pandang sebaliknya. Tentu saja, dengan perspektif yangsangat subjektif. Saya lebih memilih menceritakan lewat jalur pengalaman, siapatahu ada rekan-rekan yang mungkin pengalamannya mirip. Bagi yang merasa bosan,dipersilakan mengabaikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;****&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Berbeda dengan mas Heru Prasetia, dalamsejarah hidup saya, justru NU yang sering dipersepsikan dalam makna yangpeyoratif. Saya lahir di sebuah lingkungan Muhammadiyah yang kental di KalimantanSelatan -sebuah daerah basis Nahdhatul Ulama di Kalimantan. Sebagai keluarga"Muhammadiyah", tentu saja lingkungan keluarga saya sangat menolaktradisi-tradisi yang "tidak diajarkan dalam Qur'an dan Sunnah", yangartinya jatuh pada TBC -Takhayul, Bid'ah, Churafat.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Dengan konstruksi dan didikan keluarga yangbersemangat keagamaan modernis tersebut, wajar jika kemudian saya tumbuh besarsebagai seorang yang memperjuangkan visi modernisme dalam keagamaan, yaitubersikap kritis terhadap realitas umat.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Saya masih ingat betul, tulisan pertama yangsaya tulis dan dipublikasikan (walau hanya untuk level majalah dindingsekolah)&amp;nbsp; berjudul singkat: &lt;i&gt;Bid'ah;&lt;/i&gt;tulisan tersebut mengupas perilaku yang mengada-ada dalam agama.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Ini adalah keresahan pertama saya terhadaprealitas keagamaan yang dipengaruhi oleh pelbagai tradisi keagamaan yang sayapersepsikan tidak sesuai dengan Qur'an dan Sunah, yang, tentu saja, sangatdipengaruhi oleh doktrin anti-TBC dari Muhammadiyah. Ketika itu, saya masihbersekolah di SD Muhammadiyah di daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Lambat laun, saya masih memegang teguhpemikiran keagamaan modernis tersebut, walau saya kemudian pindah ke SekolahMenengah Pertama. Di sana, semua guru agama berpaham keagamaan tradisionalis,atau sering disebut NU, yang dulu banyak saya kritik ketika SD. Tentu saja sayakemudian menjadi siswa yang cerewet, banyak tanya, baik ketika mata pelajaranAgama Islam atau pengajian agama yang dilakukan oleh sekolah tiap Jumat pagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Waktu itu, issue-issue keagamaan di masyarakatmemang cukup kental mengupas fenomena-fenomena &lt;i&gt;sepele &lt;/i&gt;dalam tajuk &lt;i&gt;ibadahmahdhah. &lt;/i&gt;Masalah seperti Qunut, Tahlilan, Yasinan, Tarawih 23raka'at, dan lain sebagainya sering berserimpung dengan aktivitas ibadah dimasyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Perbincangan biasanya akan semakin"panas" jika bicara soal hari raya. Sudah menjadi kebiasaan bahwametode &lt;i&gt;hisab &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;rukyat &lt;/i&gt;yang dilakukan olehMuhammadiyah dan NU akan berbenturan ketika Idul Fitri atau Idul Adha.Pasalnya, yang menggunakan metode &lt;i&gt;hisab&lt;/i&gt;pasti akan berhari raya terlebih dulu, asalkan hilal sudah lewat 0derajat melalui hisab. Sementara NU mensyaratkan harus terlihat mata. Ini jugasering menjadi masalah yang agak pelik di masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Perdebatan di tengah masyarakat yang munculsederhana: kalangan NU mengatakan bahwa "ini amalan yang sudah dikerjakanoleh orang-orang tua dulu", sementara Muhammadiyah berkata "amalannyatidak ada dalilnya di Qur'an dan Sunnah". Jangan salah. Hal-hal sepertiini justru seringkali membawa riak-riak di tengah masyarakat antara kubu NU danMuhammadiyah.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Di penghujung akhir SMP, saya mulai aktif dipengajian-pengajian Muhammadiyah meski belum terlalu sering, karena kesibukanujian akhir nasional. Muhammadiyah di Banjarmasin identik dengan pengajian;tiap-tiap mesjid mesti punya agenda pengajian, dan itu dikoordinasikan ditingkatan daerah. Jadi, tiap mesjid punya agenda pengajian di hari yangberbeda. Saya mula-mula aktif di Mesjid Hasanuddin Majedie (yang punyapemahaman keagamaan segaris dengan Muhammadiyah) lalu ke Mesjid Al-Jihad, yangmemang merupakan mesjid Muhammadiyah &lt;i&gt;tulen.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Pada forum-forum pengajian itu, saya justrumendapatkan penguatan "ideologi" anti-TBC yang selama ini saya pegangteguh. Akan tetapi, pada forum pengajian itu, pembahasan mengenai hal-halkeagamaan dilakukan secara ilmiah, dengan mengupas dasar dan dalil yang ada,disertai argumentasi rasional. Hal ini membuka pintu masuk bagi saya untukmengkaji masalah-masalah yang dulu saya kritik, secara lebih terbuka, danmembuka pikiran.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Pun ketika di masa SMA, saya masih aktif diforum-forum pengajian itu. Tapi seiring keaktifan, persepsi saya mengenaiaktivitas keagamaan kaum "nahdhiyyin" mulai berubah menjadi lebih"ilmiah", alih-alih fanatik. Apalagi, di masa SMA ini saya jugabersentuhan dengan aktivitas kaum "harakah", dari Hizbut Tahrir,kemudian ke Tarbiyah yang sampai sekarang masih saya "sentuh". Dantentu saja dengan beberapa kawan dan "guru" yang berlatar NU.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Kebetulan salah seorang kawan dekat sayaadalah seorang &lt;i&gt;nahdhiyyin &lt;/i&gt;tulen,pernah &lt;i&gt;nyantri &lt;/i&gt;di pondokpesantren NU terkenal di Jawa Timur ketika SMP. Dengannya, saya banyak terlibatperdebatan, yang kadang-kadang juga &lt;i&gt;geje;&lt;/i&gt;seputar masalah-masalah keagamaan. Dan ini menarik; dua perspektifyang cukup "fanatik" pada waktu itu bertemu, tapi secara &lt;i&gt;fair &lt;/i&gt;terdiskusikan dalam beberapakesempatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Meski demikian, perhatian saya ketika SMA inilebih terfokus pada masalah-masalah organisasi. Saya waktu itu menjadi KetuaMPK di sekolah, yang sedikit-banyaknya tidak lagi berhadapan denganproblem-problem keagamaan, tetapi sosial. Misalnya, anggaran sekolah yang tidaktransparan, dugaan korupsi, sampai pungutan yang tidak jelas -komersialisasi-atas nama biaya pendidikan. Jadi, tidak banyak lagi mengurusi problem di atas.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Di masyarakat saya juga memilih aktif diAngkatan Muda Mesjid Al-Jihad, sebuah organisasi remaja mesjid yang cukupdikenal di level Kota Banjarmasin. Keaktifan tersebut dilanjutkan bahkan ketikaPemuda Muhammadiyah Cabang diaktifkan kembali pada tahun 2007, menjelangMusyawarah Daerah yang juga saya ikuti ketika itu. Jadi, ketika SMA saya sudahmenentukan pilihan keagamaan, walau juga di sisi lain aktif dikegiatan-kegiatan "harakah" yang waktu itu mendominasi SMA.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Di sini, gayapandang saya soal "nahdhiyyin" menjadi lebih berbeda lagi;masalah-masalah paham keagamaan tetap menjadi isu yang krusial, tetapiaktivitas lebih sering sosial. Di masyarakat, NU dan Muhammadiyah berada diaras yang sama. Walau berbeda paham keagamaan, tapi aktivitas sosial menjaditidak lagi berbeda. Hanya basis komunal yang membedakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Dan pemahaman soal &lt;i&gt;nahdhiyyin &lt;/i&gt;sedikit demi sedikit berkembang ketikasaya menjalankan ibadah 'umrah di penghujung masa SMA. Umrah memberi saya &lt;i&gt;insight &lt;/i&gt;baru soal agama, yanglebih terbuka, sebab di sanaaktivitas keagamaan sangat beragam. Orang Indiamelakukan shalat dengan gayamazhab Hanafi mereka, orang-orang Syiah dengan ritual mereka yang khas ketikasa'i, dan lain sebagainya. Ketika umrah, saya seakan-akan dituntut untukmenerima pluralitas paham keagamaan, asal atas nama Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Selepas SMA, saya melanjutkan studi di sebuahuniversitas yang cukup terkenal di Yogyakarta.Di sini, saya menemukan fenomena lain lagi. Di Yogyakarta, rupanya, semuamesjid dalam tatacara shalatnya lebih dekat ke Muhammadiyah. Saya sempat salahmendefinisikan mesjid dekat kontrakan sebagai mesjid Muhammadiyah, ternyatabukan. Jama'ahnya berlatar belakang afiliasi yang beragama. Tapi, tatacarashalatnya tidak berbeda.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Belakangan, saya semakin memahami bahwapersoalan Muhammadiyah-NU tidak menjadi masalah yang terlampau besar di sini. RelasiMuhammadiyah-NU begitu cair; tidak diiringi oleh nuansa-nuansa konflik, apalagikekuasaan, seperti di Kalimantan Selatan. Justru, yang membuat saya agakterkejut, konflik yang terjadi adalah antara Muhammadiyah dan Tarbiyah, duakomunitas yang sebetulnya menjadi tempat persinggahan organisasional sayaketika SMA.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Ketika kuliah, pikiran saya soalMuhammadiyah-NU lambat laun terabaikan, melihat kondisi. Ketika kuliah, sayamemang memilih untuk tidak aktif dalam kegiatan Muhammadiyah, terutama dikampus. Walaupun masih rajin mengikuti pengajian di beberapa tempat. Keaktifansaya justru lebih banyak di komunitas tarbiyah, walau di sana juga tidak jadi siapa-siapa, hanyasekadar menuntut ilmu. Apalagi, ketika kuliah saya semakin banyak"melahap" teks-teks keilmuan, baik dalam ilmu politik hinggafilsafat. Ini semakin mempengaruhi mainset saya soal &lt;i&gt;nahdhiyyin &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;muhammadiyin. &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Namun, dengan keterlibatan di "tempatlain" tersebut, saya justru menemukan banyak hikmah. Pemikiran yangsemakin plural, tidak lagi memonopoli kebenaran hanya pada entitas tertentu,menjadi semakin kuat saya rasakan. Islam tidak lagi ditafsiri hanya dalamperspektif yang "tunggal", tetapi bisa jadi dipersilangkan hinggamuncul pertemuan-pertemuan. Islam tidak lagi dibingkai hanya dalam kerangkaideologis, tetapi juga ontologis, yang mensyaratkan kita untuk berpikir.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Kendati demikian, pergolakan&amp;nbsp; pemikirandan paham keagamaan kerap melahirkan "kegalauan" tersendiri.Menyikapi konflik antara Tarbiyah dan Muhammadiyah, yang dua-duanya adalahkomunitas yang saya ikuti sejak duduk di bangku SMA, kerap membuat galau.Sebab, ada beberapa doktrin Tarbiyah yang secara naluriah saya pertanyakan,bahkan tertolak oleh nalar "Muhammadiyah" yang saya pegang erat-erat.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Namun, harus diakui, kegalauan danketerlibatan di banyak "tempat" itu kemudian menggeser cara pandangsaya terhadap kaum &lt;i&gt;Nahdhiyyin, &lt;/i&gt;yangdulu saya kritik banyak ketika sekolah. Pikiran saya semakin terbuka denganpemikiran kawan-kawan yang berlatar &lt;i&gt;Nahdhiyyin&lt;/i&gt;dan tampil sebagai intelektual kampus terkemuka. Apalagi sayaberkenalan dengan post-tradisionalisme yang dipopulerkan oleh kawan-kawan PMII.Dari mereka saya belajar pemikiran kritis, yang mungkin hanya dapat sayatemukan padanannya ketika kuliah.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Dan artinya, persepsi saya tentang &lt;i&gt;Nahdhiyyin &lt;/i&gt;menjadi berubah secaradrastis. Sikap oposisif dalam pemikiran menjadi mencair dalam beberapa haltertentu. Ini membuktikan sebuah tesis yang sering saya pakai, sebetulnya:segala hal akan mengalami perubahan, kecuali perubahan itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;****&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Dalam interaksi saya dengan kalangan &lt;i&gt;Nahdhiyyin, &lt;/i&gt;sebetulnya adabeberapa figur yang saya anggap sebagai "guru" -dalam makna informal-yang berlatar belakang &lt;i&gt;Nahdhiyyin &lt;/i&gt;yangkental. Mereka tak hanya berperan membentuk karakter saya, kadang-kadang jugamenjadi teman diskusi dan tempat berguru dalam beberapa hal hidup.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Sosok "guru" pertama adalah seorangguru agama di SMA saya. Beliau adalah seorang penganut NU yang kental, lulusansebuah pesantren &lt;i&gt;salafiyah &lt;/i&gt;NUyang cukup terkenal di daerah Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut. Tentu saja jugalulusan IAIN. Pernah menjadi fungsionaris di HMI Cabang Banjarmasin. Dari beliaulah saya pertama kaliberkenalan dengan organisasi, dan tentu saja pergerakan (saya waktu itu sudahmenggandrungi politik).&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Ketika duduk di kelas 1 SMA, atas arahanbeliau dan melibatkan beberapa rekan Tarbiyah , saya sempat mengorganisirkegiatan di malam tahun baru bagi siswa muslim. Dibuka oleh AsistenPemerintahan di Pemprov Kalsel. Acara itu sempat membuat beberapa senior yangberafiliasi dengan &lt;i&gt;Hizbut Tahrir &lt;/i&gt;agaksentimen. Sebab, sekolah saya adalah basis perkaderan Hizbut Tahrir yang sedangberkembang. Sehingga, aksi saya membuka pintu bagi kelompok lain untuk masuk kesekolah.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Dari beliaulah saya mengenal kritisisme. Sayasering mendiskusikan beberapa hal terkait transparansi anggaran sekolah denganbeliau, yang dengan senang hati menjawab keresahan saya soal itu. Ketika sayabermasalah dengan Wakasek Kesiswaan soal tulisan saya yang cukup"keras" mengkritik kebijakan sekolah di Opini sebuah harian lokal diKota Banjarmasin, beliau-lah salah satu guru yang bersikap objektif pada posisisaya dan memberi beberapa &lt;i&gt;insight &lt;/i&gt;soalapa yang saya lakukan. Dari beliau, saya belajar banyak soal kritisisme.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Dan ada satu cerita lucu berkait denganidentitas &lt;i&gt;Nahdhiyyin &lt;/i&gt;beliau.Suatu ketika, saya datang ke beliau membawa sebuah buku kecil berjudul &lt;i&gt;mujarrobat. &lt;/i&gt;Bagi kalangan NU,tentu kenal dengan buku ini. Dengan logika Muhammadiyah yang saya bawa(anti-TBC), saya mempertanyakan isi buku itu kepada beliau. Tapi, di luarperkiraan saya, beliau justru mengulasnya dari sudut pandang &lt;i&gt;Tasawuf, &lt;/i&gt;yang berlawanan denganlogika Muhammadiyah yang saya bawa tadi. Untung saja, tidak dituding Wahabi, &lt;i&gt;he he. &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Belakangan, saya mendengar bahwa beliauterlibat polemik dengan Kepala Sekolah -yang juga sering sekali saya kritik dimedia massa ketika SMA- dan akhirnya denganseorang pejabat di Kota Banjarmasin. Konsekuensinya, beliau akhirnyapindah, tidak lagi mengajar di SMAN 1 Banjarmasin, tetapi kembali ke &lt;i&gt;habitus &lt;/i&gt;beliau dengan mengajar disebuah pesantren NU.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Sosok guru kedua, adalah seorang aktivis &lt;i&gt;tarbiyah &lt;/i&gt;yang lama kuliah di Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga. Berbeda dengan kebanyakanaktivis &lt;i&gt;Tarbiyah &lt;/i&gt;yangsaya kenal (dengan identitas yang homogen), identitas beliau lebih kuat &lt;i&gt;Nahdhiyyin. &lt;/i&gt;Perkenalan sayapertama kali dengan beliau adalah ketika saya sedang mencari dana di DPRDKalsel untuk keberangkatan ke Jakarta.Dari sana, sayasemakin sering diskusi dengan beliau di banyak kesempatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Di Banjarmasin, beliau lebih memilih profesisebagai wartawan di sebuah harian terbesar di Kalimantan Selatan. Karena sayasering menulis di harian itu, saya justru lebih sering bertemu beliau di kantorredaksi. Keperluan saya adalah mengambil honor tulisan, sementara keperluan beliauadalah &lt;i&gt;ngantor.&lt;/i&gt;Kadang-kadang beliau yang menginformasikan kalau tulisan saya dimuat. Pernahpula meminta saya memberi opini di koran tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Dari beliaulah saya pertama kali mengenalKAMMI, organisasi yang kemudian saya ikuti ketika kuliah. Beliau dulu pernahaktif sebagai pengurus di KAMMI Daerah Yogyakarta dan cukup tajam dalamkapasitas tulisan. Jadi, saya banyak berguru dengan beliau soal kepenulisan.Tentu saja dalam diskusi-diskusi yang sifatnya informal. Belakangan sayaketahui bahwa beliau adalah aktivis yang cukup disegani oleh aktivis-aktivisKAMMI Yogya. Setidaknya oleh beberapa senior ketika saya masih awal-awalkuliah.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Dan beliau pula yang secara terbukamenyampaikan identitas &lt;i&gt;Nadhiyyin &lt;/i&gt;beliau.Berbeda dengan kawan-kawan &lt;i&gt;Tarbiyah &lt;/i&gt;yanglain yang memilih mengabaikan hal itu. Beliau sempat bergabung dengan PMII diUIN Sunan Kalijaga, yang terkenal sebagai basis PMII di Yogyakarta. Sehingga,ketika berada di Tarbiyah, saya merasa tidak perlu untuk menutupi identitas &lt;i&gt;Muhammadiyah &lt;/i&gt;yang memang sudahmembentuk saya sejak kecil. Dari sanasaya belajar keterbukaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Dari beliau, saya belajar mengenaiketerbukaan. Beliau yang pernah aktif di PMII UIN Sunan Kalijaga, secaraterbuka menyatakan diri sebagai warga &lt;i&gt;Nadhiyyin&lt;/i&gt;kepada publik. Dan tidak ada yang keberatan dengan deklarasi itu.Berbeda halnya dengan kawan-kawan Tarbiyah lain yang saya kenal, yang mungkinlebih memilih menyembunyikan -atau mungkin menghilangkan- habitus awalnyaketika bergabung dengan Tarbiyah.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Dari beliau, kemudian saya mencoba untukmemahami &lt;i&gt;Tarbiyah &lt;/i&gt;secarakritis. Bahwa &lt;i&gt;Tarbiyah &lt;/i&gt;bukansekadar ketaatan pada &lt;i&gt;Murabbi, &lt;/i&gt;atau&lt;i&gt;ketaatan terhadap jamaah, &lt;/i&gt;tapilebih luas: kesadaran kritis. &lt;i&gt;Tarbiyah&lt;/i&gt;tidak menghilangkan kritisisme dalam berpikir, yang mungkin sudahjadi karakter bentukan Muhammadiyah yang saya ikuti. Belakangan, saya bahkanmemahami bahwa&lt;i&gt;Tarbiyah &lt;/i&gt;jugatidak menutup kemungkinan bersilangan dengan &lt;i&gt;habitus&lt;/i&gt;lain, terutama NU dan Muhammadiyah. (Baca notes saya tentang"tarbiyah persilangan").&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Sekarang, beliau lebih memilih untuk aktif disebuah NGO terkenal di Jakarta,alih-alih masuk jadi pengurus partai. Tentu saja dengan identitas &lt;i&gt;tarbiyah &lt;/i&gt;yang kental, tapibersilangan dengan identitas NU. Dari beliau, saya berkenalan dengan beberapaaktivis KAMMI Yogyakarta -dan KAMMI UGM- yang kini tersebar dengan berbagaiprofesi di Jakarta.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Sosok ketiga yang saya pandang sebagai"guru" adalah seorang aktivis PMII -gerakan mahasiswa yang berlatarideologi NU dan Aswaja. Saya baru bertemu beliau sekali, ketika beliau menjadipemateri &lt;i&gt;Daurah Siyasi &lt;/i&gt;beberapawaktu lalu. Beliau terkenal sebagai aktivis muda NU, pernah menjadi Ketua PMIIUGM, PMII Sleman, dan Ketua Bidang Kaderisasi PB PMII. Sekarang justru kembalike &lt;i&gt;habitus &lt;/i&gt;beliau,mengelola pesantren.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Dari beliau, saya belajar mengenai kerangkaberpikir kritis dan radikal. Wacana yang saya kembangkan akhir-akhir ini,mengenai Islam Transformatif, sebetulnya banyak saya pelajari dari beliau.Pertemuan dengan beliau yang hanya sekali itu banyak membuka cakrawala berpikirsaya mengenai pemikiran keagamaan. Walau baru sekali, saya merasa"berguru" dengan beliau, terutama untuk hal ketajaman intelektual dankesederhanaan hidup.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Tulisan-tulisan beliau yang tajam kerapmenjadi referensi saya, terutama ketika saya membuat rangkaian tulisan mengenaiIslam, Kekuasaan, dan Postmodernisme yang akhirnya jadi naskah buku. Sayangbelum ada kepastian apakah naskah buku itu layak terbit atau tidak.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Sosok keempat malah lebih misterius lagi:tidak pernah saya temui orangnya, tidak pernah berinteraksi langsung, namunhadir mengubah cakrawala dan cara berpikir saya. Sosok ini baru saja hadirdalam hidup saya, menghantui dengan tulisan-tulisannya yang tajam namun denganabstraksi bahasa sederhana. Sebagai seorang yang ingin menempuh jalan hidupintelektual, saya merasa inferior, belum menjadi apa-apa dibanding beliau.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Beliau adalah aktivis NU tulen, lulusanpesantren NU di Jawa Timur, dan meneruskan kuliah di filsafat UIN SunanKalijaga. Di semester kedua dan ketiga, jika saya tak salah dalam membacalintas perjalanan intelektual beliau, tulisannya sudah akrab dengan koran-korannasional. Di semester keenam, beliau menerbitkan sebuah buku tentang JacquesDerrida, yang sempat saya salahpahami sebagai skripsi atau disertasi, tapiternyata tulisan biasa. Buku yang bahkan hingga saat ini masih saya baca karenaketajaman isi dan analisisnya, plus bahasa yang tak susah dimengerti.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Dari beliau, saya banyak belajar soalfilsafat. Ketertarikan saya dengan filsafat memang sudah lama, tapi tidakseintens sekarang. Dan beliau memberi saya banyak &lt;i&gt;insight &lt;/i&gt;soal ini. Di salah satu tulisannya, beliaumengupas tajam relasi antara "santri" dan "marxisme" yangkita kenal kini sebagai "post-tradisionalisme". Tulisan yang tajam,apik, dan mampu membedah persilangan tradisi pesantren dan Marxisme, sehinggatidak harus dipertentangkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Di Muhammadiyah, ada beberapa aktivis yangmirip beliau, tapi dari segi kepenulisan, saya masih belum menemukan figurintelektual muda yang setara pemikirannya dengan beliau. Apalagi di KAMMI, yangtidak banyak bergulat dalam intelektualitas dan pemikiran, hanya satu-dua orangyang mungkin bisa saya sandingkan namanya dengan beliau.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Belakangan, saya ketahui beliau akanmelanjutkan studi Master di Paris, tentu di bidang filsafat. Beliau salah satu &lt;i&gt;Nahdhiyyin &lt;/i&gt;yang pemikirannya sayajadikan "guru", walau tak pernah bersua sekali jua pun, dalamforum-forum ataupun perjumpaan langsung.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;*****&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Muhammadiyah dan NU memang terbentang dalamsebuah jarak pemikiran yang berbeda. Di saat NU mengampanyekan kembali pada tradisi,Muhammadiyah menantangnya dengan pembaharuan (&lt;i&gt;tajdid&lt;/i&gt;), kembali pada Qur'an dan Sunnah. Di saat NUberkata "tradisi harus dihormati", Muhammadiyah justru menjawab"tradisi yang tak sesuai dengan ajaran Islam, mesti dibersihkan". Danseterusnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Tapi, pada ranah sosial, bentangan pemikiranitu menjadi terasa. Pengalaman saya menyatakan bahwa &lt;i&gt;Nahdhiyyin &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;Muhammadiyin &lt;/i&gt;boleh berbedapendapat dalam hal keagamaan, tapi dalam soal sosial, tak ada alasan untukmemutus tali silaturrahim. Boleh-boleh saja jangkar modernisme Islam dilabuhkanoleh Muhammadiyah, tapi modernisme tersebut mesti berdialog dengan lokalitas;bersentuhan dengan tradisi yang telah lama hadir dalam tubuh umat Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Bagi saya, &lt;i&gt;Nahdhiyyin&lt;/i&gt;tetap menjadi sesuatu "yang lain". Tapi bukan berarti takbisa disentuh. &lt;i&gt;Nahdhiyyin &lt;/i&gt;mengajarkanpada kita untuk memperhatikan kebudayaan; tradisi. Oleh sebab itulah ia lahirmenantang Muhammadiyah. Meski demikian, garis demarkasi antara agama dan budayajuga perlu diperhatikan. Tanpa garis demarkasi, yang terjadi ialah sinkretisme,perpaduan yang saling menenggalamkan antara budaya dan agama.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;NU dan Muhammadiyah bukan sekadar entitas.Mereka adalah kebudayaan. Seseorang yang lahir dari kebudayaan, akan sulitmelepaskan diri dari ikatannya yang kuat. Mungkin itu terjadi pada saya. Ketikabersentuhan dengan &lt;i&gt;harakah, &lt;/i&gt;sepertiTarbiyah, misalnya, ikatan kebudayaan yang dibangun oleh Muhammadiyah dalamkerangka berpikirnya yang saya terima menyebabkan kebudayaan tersebut terbawaketika bersentuhan dengan mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Dan dari seorang warga &lt;i&gt;nahdhiyyin &lt;/i&gt;saya belajar untuktidak menenggelamkan &lt;i&gt;habitus &lt;/i&gt;kebudayaanitu. Sebab, tanpanya, kita akan semakin jauh tereksklusi dari masyarakat.Padahal hidup bermasyarakat itu adalah &lt;i&gt;sunnah&lt;/i&gt;(qudrat-iradat) Allah atas manusia di dunia ini. Dan sebagaikonsekuensi logisnya, saya harus terjun ke masyarakat sebagai bagian darikeberbudayaan saya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Relasi antara Muhammadiyah dan NU kini semakinmencair, terutama di Yogyakarta dan kota-kotabesar yang dilabuhi oleh kapal globalisasi. Meski demikian, di daerah, masihada banyak kegelisahan dan kerawanan sosial. Itulah sebabnya, dialog menjadipenting. Tanpa dialog, yang ada adalah eksklusi, sikap saling-menyalahkan, danujung-ujungnya ketegangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Kita tentu tak mengharapkan adanya konflikhorisontal seperti terjadi di Timur Tengah, antara Sunni dan Syiah. Maka dariitu, warga NU dan Muhammadiyah harus bersikap terbuka satu sama lain. Begitujuga dengan aktivis-aktivis &lt;i&gt;harakah &lt;/i&gt;itu.Jangan sampai kita semua jatuh pada kejumudan hanya karena monopoli kebenaranyang sebenarnya tak perlu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;"&lt;i&gt;Al-Islammahjuubun bil muslimiin&lt;/i&gt;", kata Syaikh Muhammad Abduh. Islamitu tertutup oleh umat Islam itu sendiri. Oleh sebab itu, pemahaman keagamaanyang universal dan transformatif perlu diarusutamakan. Tujuannya sederhana:agar Islam dipahami sebenar-benar sebagai &lt;i&gt;diin,&lt;/i&gt;sebagai Islam, yang menerima pluralitas paham di dalamnya sebagaikonsekuensi keberagaman.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;****&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Membaca NU dari perspektif Muhammadiyah memangterasa sangat subjektif. Apalagi jika hanya berkaca dari pengalaman saya.Tulisan ini tidak bertendensi untuk mengupas pemikiran orang lain, tetapi hanyamenjadi refleksi diri dari pengalaman hidup yang saya temui selama ini. Andamungkin tidak setuju, saya persilakan saja.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Dan karena ini tentang &lt;i&gt;nahdhiyyin&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;muhammadiyyin&lt;/i&gt;, saya akanmengakhiri tulisan ini dengan penutup yang sering sekali digunakan di dua ormasini:&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Wallahu Muwaffiq ila aqwamith thariq.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Nashrun Minallah wa Fathun Qariib.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/560609633182921938-88599886081429499?l=ibnulkhattab.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/feeds/88599886081429499/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=560609633182921938&amp;postID=88599886081429499' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/88599886081429499'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/88599886081429499'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/2011/10/nahdhiyyin-dan-muhammadiyyin.html' title='&quot;Nahdhiyyin dan Muhammadiyyin&quot;'/><author><name>Ahmad Rizky Mardhatillah Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01386471685667584378</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_cgbKwDZI1UU/SHWFzmBsWcI/AAAAAAAAAB4/HMlwHe3Uw3s/S220/1_617762489l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-560609633182921938.post-2999026183369903120</id><published>2011-10-21T11:17:00.002+08:00</published><updated>2011-10-21T18:31:19.011+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mahasiswa'/><title type='text'>"Kepentingan"</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;blockquote style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;"Kau mau ulangi tjerita usang&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;tentang Negro empatlapan&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;tentang Magelang dan Ngalian&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;tau lupa Amir dan Hadji Bakri&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;lupa para petani bagi2 tanah&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; di Wonogiri dan Bojolali"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;-Tembok Granit: "&lt;i&gt;Sajak Pembebasan kepada Partai&lt;/i&gt;"&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;20  Oktober, sepertinya Jakarta kembali akan dipanaskan oleh aksi  demonstrasi. Mahasiswa sudah bergolak. Beberapa kalangan aktivis  mahasiswa Gadjah Mada sudah bersiap hadir ke Jakarta, dengan isu yang  sama digelontorkan: "penggulingan SBY". Di Jakarta lebih lagi.  Rasionalisasi sudah dibuat, untuk memberi dalih bagi aksi yang bakal  dilakukan. Entah artifisial atau tidak. Tapi yang jelas, ribuan massa  kabarnya mau dihadirkan, untuk sebuah gerakan massa.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Terhampir sebuah tanya: atas kepentingan siapa?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;****&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Seringkali,  aksi-aksi demonstrasi mahasiswa dilanda sebuah dilema yang tak  usai-usainya melanda, sejak zaman Soe Hok Gie dan Ahmad Wahib dulu,  hingga saat ini: kepentingan. Aksi mahasiswa boleh berawal dari  keresahan, apapun dalihnya, berawal dari niat yang suci murni (jika itu  masih ada), tapi ketika ia tampil ke panggung politik, ia tak  bebas-kepentingan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Selalu ada relasi-kuasa yang  menggeretnya ke tengah-tengah, untuk melayani kuasa-kuasa tertentu yang  tak terlihat dari balik jendela, tapi ada memainkan pion-pion untuk  mengegolkan "kepentingan" mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Melepaskan diri dari  relasi-kuasa itu, dalam konteks strategi-taktik gerakan yang memerlukan  analisis cepat dan siap-sedia, menjadi sesuatu yang nyaris mustahil.  Gerakan-gerakan yang sudah dirancang mesti bertemu dengan relasi-kuasa  itu. Jika tidak, ia akan menjadi nyaris avonturir, tak tentu tujuan, dan  akan terbentur dengan kepentingan tertentu yang juga sama. Bergerak  atau tidak, mahasiswa pasti bertemu dengan relasi-kuasa itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Bergerak di 20 Oktober, akan bertemu dengan mereka yang berkepentingan atas &lt;i&gt;reshuffle &lt;/i&gt;kabinet.  Kepentingan itu hadir, tidak menampakkan dirinya secara langsung, tapi  bertemu ketika kita turun ke jalan. Bergerak di hari tani, bakal bertemu  dengan kepentingan untuk menggeser menteri. Dan lain sebagainya,&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Tapi  jelas tak mungkin jua tak bergerak. Sebab, mereka yang terancam oleh  gerakan massa musti akan bertepuk tangan. Dilemanya di sini. Bergerak  dianggap maju ke satu kepentingan, tak bergerak, diam saja, juga akan  disambut sorak sorai kepentingan yang lain. Lantas, mesti apa kita?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Kepentingan  itu selalu hadir, membayangi seluruh agenda mahasiswa. Oleh sebab  itulah, mahasiswa -dan mungkin elemen gerakan sosial lain- musti  menajamkan pemihakan &lt;b&gt;kelas&lt;/b&gt;nya. Ini yang dikritik oleh  Ernest Mandel. Gerakan mahasiswa musti menajamkan akar keberpihakan pada  kelas yang dibela. Ia tak musti beraliansi, jika mungkin itu tak bisa  dilakukan, tapi gerakan mahasiswa pada dasarnya adalah gerakan kelas; ia  memihak kelas tertentu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;****&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Lantas, bagaimana berhadapan dengan kepentingan itu?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Meminjam Fayyadl ("Bunuh Diri Kelas"), mahasiswa perlu menganalisis dua relasi yang kompleks di sekelilingnya. &lt;i&gt;Pertama, &lt;/i&gt;relasi kuasa; &lt;i&gt;kedua. &lt;/i&gt;relasi struktural.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Jika bergantung pada premis bahwa &lt;i&gt;tidak mungkin &lt;/i&gt;berlepas  diri dari relasi kuasa yang kompleks di sekelilingnya, maka konsekuensi  logisnya adalah bahwa relasi kuasa itu harus dipetakan, agar pemihakan  yang dilakukan tepat; tidak menghamba pada kekuatan politik, tidak  menghiba pada partai-partai politik, dan dengan demikian, punya relasi  yang dialektis.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Boleh saja ia tak disebut independen, tapi dependensinya kritis dan etis. Mahasiswa punya &lt;i&gt;harga diri; &lt;/i&gt;tidak  dijual oleh kepentingan manapun. Ia bergerak atas kehendak diri, tidak  atas instruksi, "taklimat" dari pihak-pihak yang menginginkan kekuasaan.  Tapi kesucian niat itu saja tidak cukup. Perlu ada analisis, telaahan,  kritik mengenai siapa sesungguhnya yang tertawa dan bertarung darin  aksi-aksi demonstrasi mahasiswa.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Terkadang, analisis itu  yang kerap diabaikan. Kita kerap menganalisis isu, dengan kritis  memperdebatkannya di forum-forum mahasiswa, tapi tak memperhatikan siapa  yang berkepentingan dengan isu itu. Dengan demikian, memetakan  relasi-kuasa berarti memetakan kepentingan, siapa yang tertawa, siapa  yang terancam, siapa yang sesungguhnya sedang marah -sehingga mahasiswa  berdemonstrasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Kepentingan-kepentingan itu tak hadir  dengan sendirinya. Ia dihadirkan. Tentu saja tak terlihat, sebab jika  terlihat, mahasiswa mungkin akan merasa jijik melihatnya. Tapi  kepentingan politik itu secara eksistensial ada, tak terbantah.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Tiap-tiap  momentum pergerakan mahasiswa pasca-kemerdekaan, baik itu '66, '78,  atau '98, saya yakin, tak bebas dari kepentingan. Ada yang cermat  membaca itu, ada pula yang terlena, lantas masuk pada kekuasaan. Kita  ingat betul, sehabis mahasiswa berdemonstrasi besar-besaran tahun 98,  dianggap heroik, sebagai pahlawan reformasi, setelahnya kita menemui  fakta bahwa terjadi migrasi besar-besaran aktivis mahasiswa ke partai  politik.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Mereka yang berdemonstrasi hari ini, seakan-akan  adalah politisi yang berkepentingan di masa depan. Siklusnya bisa jadi  seperti itu terus adanya. Mahasiswa hari ini berdemonstrasi, besoknya  giliran ia yang didemo karena terjerembab pada jurang korupsi dan  nikmatnya kekuasaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Akan tetapi sebetulnya bukan hanya  mahasiswa yang berdemonstrasi yang berpotensi seperti itu. Mereka yang  duduk manis belajar dalam kelas, sesungguhnya juga terjebak pada  relasi-kuasa yang kompleks, dengan wajah bernama depolitisasi mahasiswa,  padahal ia disiapkan untuk memenuhi ambisi dan kepentingan modal di  masa yang akan datang, atau justru berpotensi besar menghamba pada  kekuasaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Oleh sebab itu, kepentingan menjadi tak  terhindarkan. Dan oleh sebab itu pula, kita harus memetakannya.  Kepentingan yang melembagakan dirinya, menjadi struktur-struktur  tertentu. Ia kemudian memainkan isu yang ada untuk kepentingan dirinya.  Dan sebab itulah, perlu ada pemetaan atas relasi-struktural di hadapan  mahasiswa.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Saat ini, kita berada dalam rengkuhan  kolaborasi elite media, partai politik, kepentingan modal, dan lain  sebagainya. Celakanya, elite-elite itu kerap didominasi oleh orang-orang  lama, yang dengan cerdik menghadirkan diri kembali setelah Soeharto  jatuh. Vedi Hadiz dan Richard Robison menyebutnya sebagai "oligarki".  Jalinan kuasa yang oligarkis itu hadir kembali, mereorganisasi diri,  tampil membajak kekuasaan pasca-reformasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Partai politik  kini adalah partai politik citra, berorientasi kekuasaan, tak lagi  merepresentasikan aspirasi ideologi tertentu. Mungkin ini menjadi  pembuktian tesis Daniel Bell, bahwa ideologi itu telah mati. Tapi yang  jelas, ia memainkan relasi-struktural yang cermat dengan kekuatan lain  yang juga haus-kuasa; mengatur jalannya hidup berbangsa dan bernegara.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan  mahasiswa segera masuk pada rengkuhan hegemoni partai-pasar-pewarta  media itu. Secara tak sadar, mahasiswa digeret oleh media untuk masuk  menyikapi isu tertentu, tapi sebenarnya ia masuk pada jaringan kuasa  yang hendak dibentuk oleh relasi struktural itu. Yang bertepuk tangan  adalah partai, karena mereka jadi punya alat untuk mengganggu  pemerintah.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Pasca-reformasi, jaringan kuasa itu semakin kompleks, tak terhindarkan bagi mahasiswa, mau ia bergerak atau tidak.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Lagi-lagi,  jawabnya sederhana: kita perlu memetakan relasi-relasi struktural itu,  suka atau tidak suka. Jika tak mampu menghindarkan diri, minimal  mahasiswa mampu menjawab siapa yang sebenarnya tengah  mengombang-ambingkan gerakan mahasiswa, struktur apa yang saat ini  menjadi &lt;i&gt;goliath &lt;/i&gt;yang mengatur hidup kita.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;*****&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dengan jalan apa mahasiswa memetakan relasi kuasa dan relasi struktural di sekelilingnya itu?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dalam terminologi Marxis, ada sebuah istilah yang cukup populer: kesadaran kelas (&lt;i&gt;class consciousness&lt;/i&gt;).  Istilah ini diperkenalkan oleh Georg Lukacs, salah seorang pemikir  pasca-Marx yang mencoba mengelaborasi konsepsi dasar Materialisme  Sejarah dalam konteks faktor-faktor penggerak proletariat dalam  perjuangan revolusionernya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Pada intinya, kesadaran kelas meniscayakan setidaknya dua hal; &lt;i&gt;pertama, &lt;/i&gt;ketertindasan; &lt;i&gt;kedua, &lt;/i&gt;kesadaran  akan posisinya yang tertindas, sehingga menyulut api pergerakan. Dalam  moda produksi kapitalisme, hubungan antar-manusia tereduksi karena  relasi produksional. Ini disebut oleh Lukacs sebagai reifikasi, dan  menjadi penopang kuat dari kesadaran itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Saya tidak akan  memperpanjang diskusi soal kesadaran kelas Lukacs. Dalam konteks gerakan  mahasiswa, poin pertama yang paling penting untuk memetakan relasi  kuasa dan relasi struktural adalah kesadaran; pada posisi mana mahasiswa  berpihak, pada kelas mana mahasiswa berposisi.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Kesadaran mahasiswa bukan karena posisi mereka yang elit, yang sering didoktrinkan sebagai &lt;i&gt;agent-of-change; iron-stock. &lt;/i&gt;dan  lain sebagainya yang cenderung idealistis dan melangit itu. Kesadaran  mahasiswa adalah kesadaran bahwa ia adalah representasi dari kelas  sosial tertentu yang tidak lepas dari akarnya. Jika pergerakan mahasiswa  konsisten pada upaya memperjuangkan masyarakat, mahasiswa mesti  mengakarkan diri, kembali ke masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Perakaran gerakan  mahasiswa ini setidaknya harus ditopang oleh kesadaran; Mahasiswa sadar  untuk memainkan posisinya dengan berakar pada kelas-kelas sosial yang  termarjinalkan oleh struktur sosial-politik. Fayyadl membahasakannya  dengan "bunuh diri kelas". Hambatan-hambatan elitis perlu segera  dipotong, jika memang gerakan mahasiswa masih konsisten dengan garis  kerakyatan yang ia tempuh.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Tetapi, kesadaran saja tidak cukup; ia harus pula ditopang oleh basis intelektual, analisis atas kondisi &lt;i&gt;real &lt;/i&gt;masyarakat.  Tentu saja, ini mengimplikasikan konteks kedua, yaitu kesadaran untuk  berpikir. Artinya, siapa yang memainkan pion-pion di luar sana, relasi  kuasa apa yang sedang menggeret mahasiswa ke ranah politik, dan relasi  struktural apa yang bergelayutan di luar sana, jangan sampai abai dari  perhatian mahasiswa.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Oleh sebab itu, mahasiswa harus merumuskan basis intelektualnya secara khas. Mahasiswa, tak dipungkiri lagi, adalah &lt;i&gt;the lucky few &lt;/i&gt;yang  berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Kesadaran sosial dan  kemampuan intelektual, tak bisa tidak, mesti bersatu dalam paduan rapi  gerakan mahasiswa. Suka atau tidak suka, posisi sosial dan intelektual  mahasiswa menjalin sebuah relasi yang kuat dalam menghadapi  relasi-relasi kuasa dan struktural di sekelilingnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Mahasiswa  boleh pintar, mendapatkan nilai yang baik dalam setiap ujian yang  diberikan dosennya, dan memperoleh IP yang tinggi di setiap semesternya.  Tetapi, jika ia tak mengerti kondisi masyarakat sejak dini, ilmunya  takkan menghasilkan apa-apa. Ilmu dan prestasi menjadi kebanggaan semu,  yang mungkin menolong mahasiswa dalam mendapatkan pekerjaan, tapi tak  berarti apa-apa dalam wawasannya bermasyarakat. Padahal, adalah sebuah  keniscayaan bagi manusia untuk hidup bermasyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Sebaliknya,  mahasiswa yang terlampau sering turun ke jalan, tapi tak pandai membaca  dan menganalisis siapa yang sebenarnya sedang memainkan proyek politik  untuk kepentingannya pribadi, sebenarnya juga digeret pada jebakan  kepentingan &lt;i&gt;broker-broker &lt;/i&gt;gerakan itu. Dan artinya,  perjuangannya menjadi tidak jelas; fragmen perlawanannya tidak utuh.  Akhirnya, gerakan mahasiswa hanya alat untuk kepentingan tertentu, lepas  dari akar sosial yang diperjuangkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Tentu dua kondisi di  atas tak mau kita hadirkan dalam realitas gerakan kita. Hari ini,  menjelang aksi massa 20 Oktober yang kabarnya sudah mau digelar oleh  kawan-kawan gerakan mahasiswa, baik BEM maupun gerakan ekstrakampus, ada  sebuah tanya yang patut direfleksikan: untuk kepentingan siapa gerakan  ini dihadirkan? Apakah memang untuk kepentingan "rakyat", seperti sering  digaungkan dalam orasi-orasi kita, ataukah hanya untuk melayani  "kepentingan" kuasa tertentu, secara sadar ataupun tidak sadar?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan  jawaban dari pertanyaan itu mesti dikembalikan pada agen-agen aktivis  mahasiswa, yang hingga saat ini masih memainkan perannya dalam  percaturan politik Indonesia. Sudahkah analisis-analisis itu kita  hadirkan, untuk membongkar relasi kuasa di sekeliling kita, untuk  melawan relasi struktural yang menghegemoni budaya bangsa ini?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;****&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Adalah  sebuah keniscayaan jika gerakan mahasiswa akan sangat bersentuhan  dengan politik jalanan, gerakan-gerakan protes. Di Seoul, penolakan  terhadap komersialisasi pendidikan telah membuat mahasiswa berhadapan  vis-a-vis dengan kampus, mendorong mereka menguasai areal kampus sebagai  simbol penolakan terhadap kapitalisme pendidikan itu. Di London,  mahasiswa terdorong untuk turun ke jalan, juga dengan isu yang hampir  sama: melawan kapitalisme.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Tetapi, tentu saja,  ketidakpuasan ini masih ada. Bukan soal gerakan yang mengharu-biru turun  ke jalan, tapi soal kepentingan apa yang sedang dimainkan. Apakah ini  demi kepentingan &lt;i&gt;broker &lt;/i&gt;gerakan yang mencari makan di partai politik dengan menggerakkan demonstrasi mahasiswa, ataukah murni demi kepentingan rakyat.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Anda  boleh saja mengucap pada kita: ini adalah gerakan moral, gerakan yang  lahir dari idealisme mahasiswa. Tapi anda tak bisa mengelabui sejarah:  bahwa relasi-relasi kuasa itu, jika benar ada, telah menggeret gerakan  anda ke jalan yang rawan kecelakaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Semoga kita berada di jalan yang lurus.&amp;nbsp;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;blockquote style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;"aku ingat sepatumu&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;yang usang capalan&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;namun matamu tak terbenam&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;ke sepatu usang yang capalan&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;tapi menelaah buku-buku&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;yang kemudian mengorbankan dirimu&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;karena buku-buku itu&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;menyuburkan cintamu&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;kepada rakyat pekerja&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;dan itu sepatu usang capalan&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;jadi rangkumanmu dalam sajak&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;itu huruf-huruf jadi palu dan bajak&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;menghayati kebangkitan&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; rakyat pekerja"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;-Agam Wispi: "&lt;i&gt;Sekuntum Bunga untuk DNA yang Dibunuh&lt;/i&gt;"&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/560609633182921938-2999026183369903120?l=ibnulkhattab.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.facebook.com/umar.aljihad?sk=notes&amp;s=0#!/note.php?note_id=10150348186489299' title='&quot;Kepentingan&quot;'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/feeds/2999026183369903120/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=560609633182921938&amp;postID=2999026183369903120' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/2999026183369903120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/2999026183369903120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/2011/10/kepentingan.html' title='&quot;Kepentingan&quot;'/><author><name>Ahmad Rizky Mardhatillah Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01386471685667584378</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_cgbKwDZI1UU/SHWFzmBsWcI/AAAAAAAAAB4/HMlwHe3Uw3s/S220/1_617762489l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-560609633182921938.post-6683078099132504874</id><published>2011-10-21T11:09:00.000+08:00</published><updated>2011-10-21T11:09:50.063+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat'/><title type='text'>"Subversi"</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Asyhadu an la ilaha illaha allallah&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Barang siapa yang ingin merendahkan orang lain&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;berarti ia ingin menjadi tuhan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;barang siapa ingin menjadi tiran&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;berarti ia ingin menjadi tuhan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;barng siapa ingin menang sendiri&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;berarti ia ingin menjadi tuhan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;padahal tiada Tuhan selain Allah!&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: right;"&gt;-Syahadat Pembebasan-&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="photo_left"&gt;&lt;span class="caption"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Ketika  seseorang -atau sekelompok orang- mengancam kemapanan, keamanan negara,  ia bisa saja dituduh subversi, dijerat oleh UU anti-subversi berdalih  keamanan negara, dan ditangkap, dipenjara, bahkan ada yang dihukum mati.  Semua karena satu hal: subversi.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Subversi adalah  perlawanan terbuka terhadap kemapanan. Ia biasa dinisbatkan pada  perilaku teror, negativisme. Subversi melawan keamanan yang melindungi  kemapanan. Ia membongkar sesuatu yang sudah dianggap "final", tak butuh  pembaruan, dan perubahan dianggap sebagai ancaman. Subversi mencoba  membongkar finalitas; mendobrak kemapanan kuasa.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Nietzsche  memperkenalkan subversi dengan premise-nya yang terkenal: "Tuhan sudah  mati! Tuhan sudah mati! Kitalah yang membunuhnya". Bagi teolog fanatik&amp;nbsp;  kata-kata Nietzsche bisa dianggap subversi terhadap kemapanan agama.  Sebab, jika ditafsirkan sebagai &lt;em&gt;letterlijk -&lt;/em&gt;tanpa representasi- ia akan memperlihatkan semangat ateisme. Dan implikasinya, ia harus dieksklusi dari agama.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Ibrahim  memperlihatkan subversi juga dengan langkah yang sama dengan Nietzsche:  membunuh tuhan-tuhan. Agama dilindungi oleh kuasa yang kuat oleh Raja  Namrudz -dalam sejarah. Patung-patung itu menjadi "tuhan" karena ia  dilindungi oleh kuasa yang kompleks oleh petinggi kerajaan serta  kekuatan ekonomi yang bergantung pada tuhan-tuhan itu (pembuat patung;  Azar, ayahnya Ibrahim).&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan Ibrahim melakukan subversi: ia  memenggal kepala-kepala "tuhan" itu, membunuhnya, dan menggantinya  dengan Tuhan yang sebenarnya, yang punya kekuasaan mutlak, absolut, yang  melindungi Ibrahim dari panasnya api pembakaran. Ibrahim melakukan  subversi: membunuh tuhan-tuhan, menegakkan agama Tauhid di antara  perpaduan rapi spiritualitas dan rasionalitas, melawan kuasa-kuasa yang  korup.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Musa melakukan subversi melawan oligarki antara  pemodal, penguasa, dan teknokrat: trilogi Fir'aun-Qarun-Haman. Ia  men-subversi kekuasaan absolut Fir'aun, yang dipersonifikasi sebagai  Tuhan oleh kaumnya, dan membunuhnya. Musa membunuh "Tuhan", membebaskan  rakyatnya dari belenggu ketuhanan semu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Muhammad melakukan  subversi atas tuhan-tuhan kaum Quraisy: Latta, Uzza, Mannan, dan lain  sebagainya. Ia men-subversi kekuasaan Quraisy, yang ditopang oleh  "agama" sebagai alat politik, untuk menegaskan kekuasaannya atas Kota  Mekkah. Muhammad, yang terkenal sebagai figur yang adil, pernah menjadi  penengah konflik elite politik Kota Mekkah dalam kasus pemindahan Hajar  Aswad, memperkenalkan Tauhid.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan Muhammad, walau dikenal  dengan gelarnya Al-Amin, tidak dapat mengelak dari tuduhan subversi.  Tauhid yang diperkenalkannya, adalah subversi. Sebab ia mendobrak relasi  kekuasaan yang kompleks, yang menaungi agama yang dianut. Kebenaran  harus berhadapan dengan kekuasaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Para Nabi  memperkenalkan subversi di tengah masyarakatnya -yang korup. Nabi-Nabi  melawan kekuasaan yang korup, yang menindas, yang mengabsolutkan  kekuasaannya dengan perlindungan agama. Islam adalah subversi: atas  penindasan, kekuasaan yang korup. Tauhid adalah subversi, atas  dijadikannya agama sebagai alat politik, sebagai bancakan para elite  politik yang ingin menegaskan kekuasaannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Subversi  adalah perlawanan terhadap kemapanan yang ditopang oleh kekuasaan.  Kemapanan itu menghasilkan orang-orang pinggiran. Marjinalisasi; mereka  yang terpinggirkan karena tidak sampai pada batas kemapanan. Mereka yang  terpinggirkan, mungkin, karena menolak kemapanan. Dan oleh sebab itu,  kemapanan yang ditopang oleh kekuasaan, bisa jadi sebuah penindasan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Fir'aun  menindas orang lain atas nama agama, karena ada subversif pada dirinya  -yang ia nyatakan sendiri sebagai tuhan. Namrudz menindas orang lain  karena men-subversi tuhan-tuhannya. Begitu pula pemuka Quraisy. Dan  artinya, barangsiapa ingin menindas orang lain, berarti ia sedang  mendeklarasikani tuhan-tuhan baru; bahkan mungkin lebih jauh: ia ingin  menjadi tuhan-tuhan itu!&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dalam era yang lebih moderen,  ternyata bentuk tuhan-tuhan "baru" itu masih tetap ada. Dan mewujud  dalam sebuah relasi kekuasaan yang kompleks. Atas nama kekuasaan,  Amerika Serikat menindas Iraq dan Afghanistan, dengan dalih demokrasi  dan Hak Asasi Manusia. Atas nama "agama", orang-orang Israel menindas  Palestina, menjadikan negeri itu bagai kerkap hidup di batu, hidup segan  tapi mati pun tak mau.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Atas nama agama, mereka melakukan  berbagai teror, mengancam orang-orang tak bersalah. Atas nama kekuasaan,  negara merepresi mereka yang melakukan perlawanan terhadap  ketidakadilan, menuding mereka yang mogok makan sebagai solidaritas  terhadap petani Kulon Progo sebagai subversi, menangkap mereka yang  berdemonstrasi menentang rezim yang ada sekarang.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Atas  nama agama, mereka membunuh orang-orang yang berkeyakinan berbeda. Maka  benarlah peringatan Hassan Hanafi: Hubungan langsung antara Islam dan  Kekuasaan harus dicegah, sebab agama hanya dijadikan dalih, instrumen,  alat, untuk menegaskan kekuasaan yang korup!&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Penindasan  atas nama kekuasaan, agama, dakwah -seluruh bentuk sakralitas- adalah  berbahaya. Dan alat perlawanan itu bernama subversi. Subversi pada aras  pemikiran, berarti men-subversi seluruh doktrin yang mencampur-adukkan  agama dan laku kekuasaan. Subversi atas doktrin yang tak perlu, yang  memenjara kemerdekaan pikiran manusia di kerangkeng kekuasaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Subversi  adalah bentuk perlawanan. Dan ia perlu diiringi oleh dekonstruksi,  pembongkaran. Dekonstruksi bukan berarti masuk pada nihilisme, tetapi,  meminjam Nietzsche, menjadi &lt;em&gt;ubermansch; &lt;/em&gt;menjadi orang yang  mampu mengatakan "ya" pada hidup, alih-alih bersikap pesimis pada nasib.  Dekonstruksi adalah upaya pembukaan semua kemungkinan untuk mengatakan  "ya", bahwa keragaman -selama berada pada koridor positif- adalah  sesuatu yang harus diterima.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan artinya, subversi punya  koridor. Etika-lah koridor itu. Dan subversi dalam pemaknaan sebagai  seorang muslim, dalam perspektif Islamis, berarti meletakkan Islam  sebagai etika sosial, alih-alih jadi alat kekuasaan. Islam melampaui  doktrin, simbol, identitas, ia adalah etika sosial. Dan untuk itu, perlu  transformasi dalam pengamalan, sebagaimana diajarkan oleh Kyai Dahlan  dalam teologi Al-Ma'un-nya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Subversi adalah pilihan ketika  menemui kuasa yang korup, menindas. Jika anda menemui sesuatu semacam  itu, pilihan untuk men-subversinya terbuka. Walau bukan tanpa risiko,  mungkin saja berujung kematian dan kekerasan. Dan untuk itulah Islam  dilahirkan: untuk men-subversi kekuasaan yang korup, menjadi rahmat bagi  seluruh alam.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan akhirnya, subversi memang sebuah pilihan sah.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;*****&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;seorang penguasa yang menindas rakyatnya&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;berarti ia ingin menjadi tuhan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;padahal tiada tuhan selain Allah!&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Kita Menerima siapapun orangnya dan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Dari manapun asalnya&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Asalkan bisa menjadi saudara bagi&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt; Sesamanya&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Asyhadu an la ilaha illaha allallah&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: right;"&gt;-Syahadat Pembebasan-&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/560609633182921938-6683078099132504874?l=ibnulkhattab.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/feeds/6683078099132504874/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=560609633182921938&amp;postID=6683078099132504874' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/6683078099132504874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/6683078099132504874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/2011/10/subversi.html' title='&quot;Subversi&quot;'/><author><name>Ahmad Rizky Mardhatillah Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01386471685667584378</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_cgbKwDZI1UU/SHWFzmBsWcI/AAAAAAAAAB4/HMlwHe3Uw3s/S220/1_617762489l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-560609633182921938.post-5683038101468944885</id><published>2011-10-21T11:05:00.000+08:00</published><updated>2011-10-21T11:05:18.742+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keislaman'/><title type='text'>Teologi Al-Ma'un: Refleksi untuk Persyarikatan</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;KH Ahmad Dahlan pernah mengajarkan sebuah surah dalam Al-Qur'an  secara berulang-ulang. Di setiap forum pengajian, beliau tak bosan-bosan  mengulang ayat tersebut untuk dibahas, dikaji bersama murid-muridnya.  Salah satu di antara murid beliau itu adalah KH Syuja', yang kemudian  kita kenal sebagai salah satu pimpinan teras Muhammadiyah pasca-KH.  Ahmad Dahlan. Sudah beberapa pertemuan membahas surah pendek di  penghujung Al-Qur'an itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Karena dilanda rasa penasaran,  KH Syuja' mencoba untuk bertanya, mengapa Kyai Dahlan terus-menerus,  secara berulang-ulang, membahas ayat itu. Tetapi KH Ahmad Dahlan  bertanya balik: "Sudahkah ayat tersebut diamalkan?"&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Jika  ada ayat yang menjadi landasan bagi gerakan-gerakan sosial dalam Islam,  itulah Al-Ma'un. Surah ini pendek, ayatnya tidak banyak, hanya sekitar  tujuh ayat. Tapi maknanya yang menggetarkan dada, tidak sekadar menjadi  bacaan di kala shalat &lt;em&gt;fardhu, &lt;/em&gt;melainkan juga memberikan  inspirasi-inspirasi untuk melahirkan sebuah kesadaran kolektif:  kesadaran atas realitas sosial yang timpang.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Al-Maun  dibuka dengan sebuah pertanyaan -lebih tepatnya sindiran: Tahukah engkau  dengan para pendusta agama? Frase yang digunakan oleh Al-Qur'an terasa  sangat menohok: "pendusta agama". Kita tentu akan penasaran: siapakah  mereka yang dihardik oleh Al-Qur'an dengan ungkapan "pendusta agama"  itu?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Ayat kedua dan ketiga memberikan penjelasan. &lt;em&gt;Pertama, &lt;/em&gt;orang yang menghardik anak yatim (ayat 2). &lt;em&gt;Kedua, &lt;/em&gt;menolak memberi makan orang miskin (ayat 3).&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Buya Hamka memberi tafsir atas ayat ini dengan kata "menolakkan". Di&amp;nbsp; dalam  ayat kedua&amp;nbsp; tertulis &lt;em&gt;yadu'-'u&lt;/em&gt;&amp;nbsp; (dengan &lt;em&gt;tasydid&lt;/em&gt;),   artinya  yang asal ialah menolak. Kata tersebut ditafsirkan orang lain   dengan  "menghardik" atau sejenisnya, tetapi kata Hamka yang lebih  tepat  adalah  "menolakkan". Kata "menolak" itu bermakna&amp;nbsp;  membayangkan   kebencian yang sangat.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Artinya, jika seseorang merasa   benci dengan anak  yatim karena keyatimannya, berarti ia mendustakan   agama. Sebabnya ialah  rasa sombong dan rasa bakhil, menurut Hamka.  Membenci anak yatim berarti membenci keber-asal-an Nabi Muhammad. Sebab,  Nabi adalah anak yatim, yang dipinggirkan oleh keluarganya, hidup  dengan menggembala, berkutat dengan kemiskinan di masa kecilnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Islam  adalah agama yang sangat menghargai kesetaraan; egaliterisme. Islam  menolak stratifikasi sosial-ekonomis; yang berarti meminggirkan orang  miskin dan anak yatim dalam sistem sosial yang bertingkat. Anak yatim  adalah mereka yang malang; tak mampu mengelak dari takdir bahwa  kasih-sayang yang ia terima akan jauh, disebabkan oleh ayah dan ibu  mereka yang telah tiada. Atau, tidak memberi porsi perhatian  kasih-sayang pada kita.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Menghardik anak yatim adalah  refleksi kesombongan-diri. Merasa diri lebih baik. Dan Allah menolak  kesombongan. Oleh sebab itu, mereka yang sombong dan bakhil -seperti  kata Hamka- dengan menghardik anak yatim sebagai simbolisasi, patut  diucap sebagai "pendusta agama".&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Ayat  selanjutnya  menjelaskan mengenai "menolak memberi makan orang  miskin".  Ini juga  penting sebab mengindikasikan adanya distribusi  kekayaan di  antara  umat Islam. Mereka yang menolak menyalurkan  kekayaannya untuk  orang  miskin termasuk yang mendustakan agama.&amp;nbsp; Karena  dia mengaku  menyembah  Tuhan,padahal hamba Tuhan tidak diberinya  pertolongan dan  tidak  dipedulikannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Benar. Implikasi dari tauhid adalah  menegakkan keadilan di segala bidang. Al-Ma'un bicara soal ekonomi.  Mereka yang menolak memberi makan orang miskin, padahal ia memiliki  harta-benda yang bisa meringankan penderitaan orang miskin. Mereka yang  kemudian menolak mendistribusikan kekayaannya dengan tidak mau memberi  makan orang miskin, berarti menolak visi keadilan yang Islam tawarkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Az-Zamakhsyari   menulis dalam  tafsimya, mengapa orang yang menolak memberi makan  orang  miskin dan  menolak anak yatim dikatakan mendustakan agama. Kata   beliau:&amp;nbsp; "Orang  ini nyata mendustakan agama.&amp;nbsp; Karena dalam&amp;nbsp; sikap   dan&amp;nbsp; laku perangainya  dia mempertunjukkan bahwa dia tidak percaya inti   agama yang sejati,  yaitu bahwa orang yang menolongsesamanya yang lemah   akan diberi pahala  dan ganjaran mulia oleh Allah. Sebab itu dia tidak   mau ber­buat &lt;em&gt;ma'ru&lt;/em&gt;f  dan sampai hati menyakiti orang yang lemah".&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Menolak  memberi makan orang miskin adalah cermin dari mereka yang zalim,  menindas orang lain. Al-Qur'an sendiri melarang kezaliman, melarang  penindasan manusia atas manusia. Jelas, pesan dari ayat ini adalah  menentang penindasan dengan perbuatan menolak memberi makan orang  miskin, menghalangi haknya untuk tetap hidup dan mendapatkan makanan  yang layak.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan ini   menunjukkan pula bahwa Islam adalah  bervisi kemanusiaan. Dan visi  kemanusiaan  ini harus diterjemahkan ke  dalam amal nyata. Dengan memberi  makan orang  miskin yang memerlukan,  dan mengutamakan sifat  individualis, berarti  seseorang telah melanggar  visi kemanusiaan. Ialah  "pendusta agama". Agama bukan hanya bersifat  vertikal, terkungkung dan terpenjara di mesjid. Agama ialah kemanusiaan  yang membebaskan dan mencerahkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Itulah potret-potret  pendusta agama. Ayat berikutnya, dengan lebih lantang, mengatakan pada  kita: Maka celakalah orang-orang yang salat! Bagaimana mungkin,  pengabdian transendental seorang muslim, melalui shalatnya kepada Allah,  disebut sebagai perbuatan yang tidak hanya sia-sia, tapi juga  mencelakakan?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Ada tiga parameter celakanya (&lt;em&gt;wail&lt;/em&gt;) orang-orang yang shalat (ayat 4-7). &lt;em&gt;Pertama, &lt;/em&gt;mereka yang lalai dalam shalatnya (ayat 5). &lt;em&gt;Kedua, &lt;/em&gt;mereka yang berbuat riya' (ayat 6). &lt;em&gt;Ketiga, &lt;/em&gt;mereka yang menolak memberi pertolongan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Buya Hamka menafsirkan bahwa  "lalai" berarti shalat tanpa diikuti oleh kesadaran sebagai hamba Allah. Kata Buya Hamka: "&lt;em&gt;Saahuun&lt;/em&gt;;  asal arti katanya ialah lupa. Artinya dilupakannya apa maksud  sembahyang itu, tidak didasarkan atas pengabdian kepada Allah, walau ia  mengerjakan ibadah. Ibadah tanpa kesadaran, adalah sebuah kelalaian,  begitu tafsir Buya Hamka. Kesadaran penting, manakala kita melakukan  purifikasi atas niat beribadah itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Mereka yang berbuat &lt;em&gt;riya' &lt;/em&gt;berarti  menodakan niat ikhlasnya pada sesuatu yang bukan pada Allah;  menisbatkan sesuatu yang seharusnya dipersembahkan pada Allah -shalat,  ibadah- justru kepada benda ciptaan Allah. Shalat dalam kerangka ini  hanya membawa kecelakaan. Kata Buya Hamka, kadang-kadang dia  menganjurkan memberi makan fakir miskin, kadang-kadang kelihatan dia  khusyu' sembahyang; tetapi semuanya itu dikerjakannya karena ingin  dilihat, dijadikan reklame. Dalam bahasa yang lebih moderen, shalat  hanya dijadikan citra; untuk kekuasaan, untuk amal keduniaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Menolak  memberi pertolongan adalah bentuk kezaliman yang lain lagi. Orang-orang  yang mendustakan agama selalu mengelakkan dari menolong. Sebab, kata  Buya Hamka, tidak ada rasa cinta di dalam hatinya. Yang ada ialah rasa  benci! Memberi pertolongan adalah wujud kemanusiaan. Dan menolak memberi  pertolongan, membiarkan orang lain dalam kesusahan, melawan hakikat  kemanusiaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Riya', kata Buya Hamka, adalah simbol  kebohongan dan  kepalsuan,  sementara menolak memberi bantuan adalah  simbol  individualisme dan  kezaliman. Dua-duanya, adalah refleksi  pendusta-pendusta agama. Sehingga, wajar jika Sayyid  Quthb dalam  tafsirnya menyebut bahwa  Al-Ma'un memperlambangkan pertemuan  dimensi  sosial dan ritual agama. Ini  menunjukkan bahwa agama pada  hakikatnya  bersifat transformatif, mewujud  ke seluruh sel-sel kehidupan  nyata.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;*****&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Surah  Al-Ma'un memberikan pesan yang mendalam bagi kita untuk tidak melupakan  realitas kemanusiaan, tidak melupakan orang-orang miskin, anak-anak  yatim, mereka yang perlu pertolongan, mereka yang terpinggirkan. Untuk  itulah KH Ahmad Dahlan memberikan pertanyaan yang sangat reflektif:  sudahkah ayat ini diamalkan?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Mengamalkan surah Al-Ma'un bukan berarti hanya membaca ayat ini berulang-ulang, di shalat-shalat fardhu, ketika sedang ber-&lt;em&gt;tadarrus&lt;/em&gt;  Al-Qur'an. Perilaku ini sesungguhnya disindir tajam oleh KH Ahmad  Dahlan. Mengamalkan Al-Ma'un berarti mendudukkan ayat ini dalam praksis  tindakan. KH Ahmad Dahlan mencontohkan dengan memberi makan fakir  miskin, membuka sekolah-sekolah bagi kaum pribumi, mendirikan penolong  kesengsaraan umum (PKU).&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dengan  ayat ini, Islam menjadi  hidup tidak hanya pada tataran ritual, tetapi  juga pada tataran sosial.  Islam menjadi bersifat dinamis, transformatif. Ia bukan hanya prasasti  yang hanya berisikan tulisan-tulisan yang hanya dibaca oleh  orang-seorang, tetapi juga hidup sebagai etika sosial.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Seperti kata Nabi, "&lt;em&gt;ad-diinu nashihah&lt;/em&gt;".  Agama adalah nasehat! Al-Ma'un memberi sebuah penyemangat untuk terus  mendudukkan Islam dalam posisinya yang dinamis, di aras  intelektual-sosial-kritis. Teologi Kritis Al-Ma'un ingin menghidupkan  kembali semangat agama yang membebaskan dan mencerahkan, dalam realitas  sosial secara nyata.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Hidupnya  Islam dalam tataran  sosial  ini yang mencerminkan modernisasi Islam  sebagaimana dipraktikkan  oleh  Muhammadiyah. Di awal kelahirannya, Islam  dilanda kejumudan, gersang  akan  ijtihad dan dobrakan amal sosial. Syekh  Muhammad Abduh sampai   mengatakan, "&lt;em&gt;Al-Islam mahjuubun bil muslimin&lt;/em&gt;". Islam itu tertutup oleh kaum muslimin itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Gersangnya    intelektualisme Islam itu membuat beberapa orang di tanah air yang   baru  pulang menuntut ilmu di&amp;nbsp; terpanggil untuk membenahi keadaan. Di   antara  kaum muda muslim tersebut ialah Muhammad Darwisy, putera KH   Abubakar,  khatib di Mesjid Kauman Yogyakarta yang menuntut ilmu di   Mekkah. Di sana  ia bersentuhan dengan pemikiran Muhammad ibn Abdul   Wahhab dan Muhammad  Abduh, serta banyak belajar dengan Syekh Ahmad   Khatib Minangkabau,  seorang ulama bermazhab Syafi'i yang menjadi imam   di Mesjidil Haram.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Sekembalinya  beliau ke tanah air,   kenyataan tak seperti yang beliau idealkan di  tempat belajar. Takhayul,   Bid'ah, dan Churafat merajalela. Struktur  sosial menempatkan kaum   pribumi di level terbawah. Kemiskinan di  mana-mana. KH Ahmad Dahlan   terdorong untuk melakukan gebrakan. Bagaimana  caranya? Ia kemudian   menjawabnya dengan surah Al-Ma'un di atas.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan  teologi   Al-Ma'un menginspirasi perkembangan sebuah gerakan sosial Islam  waktu   itu. Muhammadiyah tidak hanya menjelma menjadi sebuah gerakan  keagamaan   yang bervisi dakwah &lt;em&gt;amar ma'ruf nahyi munkar&lt;/em&gt;, tetapi  juga   gerakan sosial yang bervisi kemanusiaan. Perpaduan antara gerakan  Islam   dan gerakan sosial inilah yang menjadi ciri khas gerakan modern  Islam   abad itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Al-Ma'un menjadi panduan praksis gerakan  sosial Islam. Sebuah ayat yang menyindir para kapitalis, yang hanya  mementingkan diri untuk kapital semata. &lt;em&gt;Das ding an sich, &lt;/em&gt;kalau  mengutip Nietzsche. Ayat ini sesungguhnya melakukan kritik tajam atas  kapitalisme yang menindas para pekerja, tanpa memedulikan kemiskinan di  sekitarnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Jauh sebelum Marx melakukan kritik-kritik  tajam atas kapitalisme industrial yang menindas, Al-Qur'an sudah  berbicara: Jika engkau ingin menindas orang lain, dalam praktik-praktik  akumulasi modal dan motif ekonomi, sesungguhnya: engkau adalah pendusta  agama! Sebuah kritik tajam kepada pemodal yang tak memedulikan  lingkungan sosialnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Jika kita geser ke ranah ontologis,  maka Al-Ma'un adalah inspirasi intelektual yang kritis-emansipatoris.  Menjadi intelektual Al-Ma'un berarti menjadi intelektual yang memiliki  keberpihakan kepada kaum tertindas, bukan menjadi mereka yang hanya  melegitimasi sistem korup. Inilah potret intelektual profetik,  intelektual yang punya keberpihakan terhadap anak yatim, orang-orang  miskin, dan mereka yang terpinggirkan dengan alat baca sosial yang  kritis.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Semangat intelektualisme dalam bingkai teologi  Al-Ma'un dapat kita baca dalam kerangka berpikir Prof. Kuntowijoyo:  bahwa Ilmu sosial tidak berhenti hanya pada upaya menjelaskan fenomena  sosial. Ilmu Sosial profetik, Ilmu Sosial Al-Ma'un, berarti juga  setidaknya memiliki dimensi kritis, mampu meletakkan diri dengan  keberpihakan kepada mereka yang terpinggirkan oleh struktur  sosial-politik, serta membongkar realitas secara menyeluruh.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Tujuannya adalah untuk menegaskan pilar kemanusiaan yang diemban, untuk membawa manusia dari &lt;em&gt;zhulumaat &lt;/em&gt;(kegelapan) menuju &lt;em&gt;nuur &lt;/em&gt;(cahaya). Inilah semangat intelektual Al-Ma'un: intelektual yang membawa visi pembebasan kaum miskin dan kesetaraan sosial.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dengan  demikian, jika kita kontekstualisasikan semangat Al-Ma'un dalam  kerangka ilmu sosial, kita perlu menumbuhkan jiwa-jiwa kritis terhadap  realitas sosial. Artinya, kita perlu memaknai kembali riset-riset sosial  yang kita lakukan. Untuk apa riset itu kita lakukan? Apakah riset  sekarang hanya menjadi sebuah "citra" untuk mendapatkan pengakuan  akademis? Ataukah hanya sekadar memenuhi hibah-hibah akademis yang  disajikan di kampus-kampus?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Semoga tidak. Riset sosial,  mengacu pada semangat intelektual Al-Ma'un, adalah jalan untuk  mengetahui realitas sosial secara lebih baik.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;*****&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Jika  dulu KH Ahmad Dahlan mempraksiskan Al-Ma'un dengan mendirikan rumah  sakit untuk kaum pribumi (PKO), sekolah-sekolah rakyat yang  mengimplikasikan kaum pribumi dapat pendidikan yang setara orang  Belanda, atau panti-panti asuhan anak yatim, saat ini mungkin perlu ada  perluasan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Teologi Al-Ma'un juga perlu dimaknai dalam  kerangka struktural, sebab penindasan itu juga bersifat struktural.  Neoliberalisme telah melahirkan kesenjangan antara "yang-kaya" dan  "yang-miskin", hegemoni pasar telah melumpuhkan mereka yang tak  bermodal.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Upaya-upaya pembelaan perlu digalakkan melalui  masyarakat sipil dengan advokasi dan pemberdayaannya. Teologi Al-Ma'un  berarti advokasi; pembelaan atas hak-hak masyarakat yang terlupakan oleh  negara. Muhammadiyah, mengutip Saleh Partaonan Daulay, adalah kekuatan  masyarakat sipil. Peran-peran ini perlu diampu semua elemen, tidak hanya  Muhammadiyah, yang memang independen dari negara, bebas dari  relasi-kuasa yang diciptakan negara.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan sebab itu, kritik  terhadap negara juga adalah kemestian. Partai politik yang tidak  berpihak pada kaum miskin, yang memonopoli proyek anggaran untuk  kepentingan golongan sendiri, yang bertindak kontraproduktif dengan  iklim pemberantasan korupsi, yang justru melakukan korupsi di tengah  kesusahan bangsa, harus diingatkan dengan Surah Al-Ma'un ini: hai para  politisi korup, janganlah engkau menjadi pendusta-pendusta agama!&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Kita  hidup di tengah hegemoni partai-partai, yang bahkan sudah menjamah  media-media massa sebagai juru bicaranya. Partai-partai yang hidup dari  anggaran, menjadikan parlemen dan kementerian sebagai bancakan proyek.  Kepada mereka, perlu kita ingatkan dengan Surah Al-Ma'un: jangan lupakan  orang-orang fakir dan miskin agar tidak jadi pendusta agama. Partai   politik yang terlampau banyak makan dari anggaran rakyat, harus   diingatkan dengan Surah Al-Ma'un agar berhati-hati, jangan menjadi  pendusta agama!&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dalam konteks  gerakan sosial, Al-Ma'un  harus terus direvitalisasi  oleh gerakan-gerakan  Islam sebagai sebuah  fondasi teologis. Inilah yang  membuat agama hidup.  Agama secara  normatif bukan sekadar ritual yang  mengalienasi manusia dari realitas   sosialnya, bukan juga candu bagi  rakyat, melainkan juga semangat juang   dan semangat untuk membebaskan &lt;em&gt;dhu'afa &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;masakin &lt;/em&gt;dari ketertindasan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Pada  8 Dzulhijjah ini, Muhammadiyah akan memperingati miladnya yang  ke-102.  Pertanyaan yang perlu kita refleksikan, sudah sejauh mana  teologi  Al-Ma'un ini direvitalisasi kembali?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;****&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Syahdan,  ketika ditanya oleh muridnya, KH Syuja', mengenai  surah Al-Ma'un yang  diajarkan secara berulang-ulang itu. KH Ahmad  Dahlan bertanya kembali,  “Apakah  sudah mengamalkan?”. KH  Syuja'  menjawab, "ya, sudah kami  amalkan dalam  shalat  sehari-hari". Maksud  Kyai Syuja', sudah  dipraktikkan dalam shalat, dibaca sehari-hari.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Tapi   ternyata maksudnya bukan itu. Akhirnya, KH Ahmad Dahlan menjelaskan   maksud  mengamalkan  surat al-Ma’un. Menurut beliau, mengamalkan bukan   sekadar  menghafal  atau membaca ayat tersebut. Namun, mengamalkan   berarti  mempraktikkan  al-Ma’un dalam bentuk amalan nyata.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;“Oleh    karena itu",  lanjut KH Ahmad Dahlan, “carilah anak-anak yatim, bawa    mereka pulang ke  rumah, berikan sabun untuk mandi, pakaian yang  pantas,   makan dan  minum, serta berikan mereka tempat tinggal yang  layak.  Untuk  itu  pelajaran ini kita tutup, dan laksanakan apa yang  telah saya    perintahkan kepada kalian".&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;KH Ahmad Dahlan  lantas  mengajak   murid-muridnya mencari anak yatim, dan kemudian  melaksanakan  apa yang   sudah difirmankan Allah tersebut. Dari sana,  lahirlah  Muhammadiyah dengan amal usahanya, yang kini telah genap  melampaui satu  abad usianya dengan Muktamar di Yogya tahun lalu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Inilah    teologi Al-Ma'un, landasan bagi gerakan sosial Islam. Dan dimensinya    yang universal menembus batas jama'ah, menembus batas ormas, bahkan    menembus batas-batas agama. &lt;em&gt;Fastabiqul Khairat. &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Artikel ini merupakan reproduksi dan pengayaan dari artikel sebelumnya di bulan Ramadhan. &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/560609633182921938-5683038101468944885?l=ibnulkhattab.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/feeds/5683038101468944885/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=560609633182921938&amp;postID=5683038101468944885' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/5683038101468944885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/5683038101468944885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/2011/10/teologi-al-maun-refleksi-untuk.html' title='Teologi Al-Ma&apos;un: Refleksi untuk Persyarikatan'/><author><name>Ahmad Rizky Mardhatillah Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01386471685667584378</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_cgbKwDZI1UU/SHWFzmBsWcI/AAAAAAAAAB4/HMlwHe3Uw3s/S220/1_617762489l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-560609633182921938.post-1167441127380583334</id><published>2011-10-21T11:01:00.000+08:00</published><updated>2011-10-21T11:01:17.657+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keislaman'/><title type='text'>"Jumud"</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Syahdan, ada perkataan Syekh Muhammad Abduh yang sangat terkenal itu: &lt;em&gt;Al-Islaam mahjuubun bil muslimin. &lt;/em&gt;Islam –&lt;em&gt;Dienul Islam&lt;/em&gt;—  tertutup oleh, untuk kaum muslim itu sendiri. Ia menggambarkan  kejumudan yang akut pada masanya: Sufisme merajalela, kekuasaan korup,  tidak berdaya-nya umat Islam dalam jebak kabut imperialisme, dogmatisme  menimbulkan kebisuan, dan lain sebagainya. Akhirnya, tercetus gagasan:  Gerakan pembaharuan –&lt;em&gt;tajdid&lt;/em&gt;—  harus lahir mendobrak kejumudan itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;*****&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Jika  ada sebuah kata yang menggambarkan nuansa tanpa-perubahan,  konservatisme, kebosanan yang sampai pada titik kulminasinya, itulah &lt;em&gt;jumud. &lt;/em&gt;Kebosanan mendalam, yang menghantam kegairahan, membawa kelesuan, itulah &lt;em&gt;jumud. &lt;/em&gt;Arti maknanya bisa beragam. Ia bisa jadi baik, tapi bisa jadi pula sesuatu yang patut dihindari.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Sejarah  bergerak dinamis. Di setiap fasenya, selalu hadir koreksi. Koreksi  melahirkan perubahan. Maka dari itu, sejarah mengajarkan semangat  perubahan. Antitesisnya jelas adalah kejumudan. Pada setiap kejumudan,  akan terjadi koreksi. Sejarah telah menceritakan betapa kejumudan adalah  sebuah pintu gerbang menuju koreksi besar-besaran; jalan lempang menuju  perubahan, pembaharuan; revolusi; koreksi.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Di setiap  kejumudan, akan muncul koreksi. Akan tetapi, muncul segumpal tanya:  siapa yang menghadirkan koreksi itu? Jumud adalah penanda; ia  menyongsong kedatangan &lt;em&gt;the post- . &lt;/em&gt;Tapi siapa yang  menghadirkan? Bagaimana ia hadir? Dihadirkan, hadir sendiri, dibawa  orang lain? Kiranya, sejarah tak bersepakat dengan keterangan itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Koreksi bisa jadi &lt;em&gt;hadir sendiri, &lt;/em&gt;dari dalam diri, untuk melakukan &lt;em&gt;pembaharuan-diri. &lt;/em&gt;Itulah  yang saya sebut sebagai transformasi. Transformasi tidak menghendaki  perubahan secara total; sebab totalitas hanya meruntuhkan fondasi,  mencerabut akar. Transformasi terjadi pada tubuh; ia memindahkan dimensi  dari A ke B, dari satu dimensi ke dimensi yang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Koreksi yang &lt;em&gt;hadir &lt;/em&gt;dari  dalam diri sendiri, berarti masih mengakui adanya sebuah sistem  intra-diri, yang berjalan dan beroperasi dari dalam tubuh. Dalam konteks  komunitas, masyarakat, transformasi memerlukan kesadaran dari dalam  diri untuk melakukan koreksi, secara mandiri, pada ranah  substansial-massa, bukan elite. Transformasi tidak pernah sepenuh hati  dilakukan elite, kecuali jika elite-elite itu bertaubat. Transformasi  membutuhkan massa.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Agama, di banyak sisi, menghendaki  transformasi itu. Agama bertitik tumpu pada kesadaran. Seseorang  beragama jika ia yakin, sadar. Percaya. Itulah yang kita sebut sebagai &lt;em&gt;iman. &lt;/em&gt;Beriman  itu berkesadaran, dengan sadar kita percaya bahwa Allah itu ada, Nabi  Muhammad itu benar-benar utusan Allah, dan hidup ini adalah untuk ibadah  kepada Allah. Tanpa kesadaran, tidak ada iman. Tidak ada taqwa. Tidak  ada &lt;em&gt;ihsan. &lt;/em&gt;Dan dengan perangkat kesadaran itulah, agama menjadi  bersifat transformatif, menginginkan koreksi-koreksi dari dalam diri  masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Agama ditafsiri dalam sifatnya yang  transformasional, berarti agama menghindari kejumudan. Jumud adalah  pintu gerbang kekuasaan-semu, yang bisa-bisa menggantikan agama karena  ia bisa menciptakan kesadaran yang semu, namun mistis. Agama yang  terlampau berdimensi mistis –tidak rasional— akan dapat jatuh pada  kejumudan. Dan jika agama jatuh pada kejumudan, ia kehilangan dimensi  kesadarannya, yang menghubungkannya dengan massa, dengan manusia, dengan  masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Jika agama jatuh pada kejumudan, ia menjadi rentan dengan &lt;em&gt;ghoshob. &lt;/em&gt;Sebab,  kejumudan hanya menghilangkan kesadaran, menghilangkan rasionalitas,  menghilangkan kritisisme terhadap struktur di luar agama. Agama menjadi  rentan digeret pada relasi-kuasa tertentu; dijadikan tunggangan untuk  kepentingan tertentu; dijadikan dalih untuk melakukan sesuatu yang  merefleksikan kuasa-kuasa semu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Agama tidak boleh jatuh  pada kejumudan. Oleh sebab itu, ia secara alamiah mengalami proses  transformasi; pembaharuan secara terus-menerus. Islam mengistilahkanya  dengan &lt;em&gt;tajdid. &lt;/em&gt;Istilah transformasi sering digunakan oleh kaum post-tradisional; anak-anak muda di &lt;em&gt;Nadhatul Ulama &lt;/em&gt;yang ingin menjauhkan NU dari kemudian, sementera istilah&lt;em&gt; tajdid&lt;/em&gt; kerap dipakai oleh Muhammadiyah juga dengan tujuan yang sama.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Ketika  teologi Islam berada pada fase kejumudan, karena teologi sering jadi  alat kelompok tertentu untuk menegaskan kekuasaannya, muncul &lt;em&gt;Mu’tazilah; &lt;/em&gt;dengan  lima penegasannya yang cukup revolusioner pada waktu itu, menciptakan  friksi dan ketegangan dengan berbagai ulama yang waktu itu kental dengan  tekstualitas dan sufisme&lt;em&gt;. &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Tapi &lt;em&gt;Mu’tazilah &lt;/em&gt;juga dilanda kejumudan, ketika ia menjadi ideologi negara, menindas &lt;em&gt;ahlus-sunah &lt;/em&gt;dengan metode “pengujian”. Dari kejumudan &lt;em&gt;Mu’tazilah, &lt;/em&gt;lahirlah Asy’ariyah, sebagai jalan-tengah &lt;em&gt;ahlus-sunnah &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;mu’tazilah. &lt;/em&gt; Semuanya mengalami transformasi. Al-Ghazali mentransformasikan &lt;em&gt;sufiyah &lt;/em&gt;menjadi dekat ke &lt;em&gt;ahlus-sunnah, &lt;/em&gt;Ibnu Taimiyyah melakukan berbagai koreksi positif terhadap tradisi &lt;em&gt;Ahlus-Sunnah. &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dari segi filsafat juga seperti itu. Tradisi filsafat Islam yang punya kerangka dalam &lt;em&gt;nash, &lt;/em&gt;bertemu dengan filsafat Yunani Kuno yang autentik dan klasik, melahirkan sebuah &lt;em&gt;hybrid &lt;/em&gt;yang  dahsyat dalam tradisi intelektual Islam. Penemuan berbagai macam ilmu  dan pengetahuan, termasuk tradisi sosiologi sejarah Ibnu Khaldun, tak  lepas dari pertemuan ini. Islam lahir sebagai &lt;em&gt;world-view, &lt;/em&gt;salah satunya berkat adanya kolaborasi, dan terutama koreksi, atas tradisi pemikiran yang berkembang sebelumnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Susah  dibayangkan jika Islam masih berkutat dengan kejumudan, mampu menjadi  peradaban yang disegani karena keberaniannya melakukan koreksi dan  transformasi. Dan sebab itu, koreksi dan transformasi menjadi dua ujung  tombak yang perlu diperkuat untuk melawan kejumudan di berbagai bidang  kehidupan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;******&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Di setiap  gerakan ideologis, adanya kehendak untuk melakukan revisi, koreksi, dan  transformasi –dalam maknanya yang positif— tentu akan selalu ada.  Sebab, gerakan ideologis pasti menemui kejumudannya sendiri-sendiri. Dan  ketika kejumudan itu muncul, yang lahir bukan pencerahan, melainkan  penindasan atas nama-kuasa.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Kekuasaaan yang terlembaga  dalam rentang waktu yang sangat lama adalah sebuah potensi lahirnya  kejumudan-kejumudan baru. Gerak-gerak kita menjadi sangat praksis,  melupakan basis intelektualnya. Padahal, intelektualitas itu  anti-kejumudan. Sementara mempertahankan kekuasaan adalah praksis yang  sangat mendorong kejumudan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Jika tidak diprasangkai, dan  dipikirkan sama-sama sejak dini, kejumudan bisa muncul di sebuah  organisasi yang begitu rapi sekalipun. Kejumudan bisa menghasilkan apa  yang disebut oleh Nietzsche sebagai “&lt;em&gt;kehendak-menuju-kuasa&lt;/em&gt;”, yang berarti akan menggeret kita pada sebuah relasi-kuasa yang kompleks.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Agama  adalah sebuah gerakan ideologis. Dan agama tak kebal revisi, tak  menolak koreksi. Tentu saja bukan pada sisi fondasionalnya, yang  bersumber dari Tuhan. Tapi pada praktiknya, tafsir-tafsirnya. Sebab  ketika agama tampil ke masyarakat, sisi idealitas yang dibawa oleh  agama, oleh basis ideologis-fondasionalnya itu, akan dipraktikkan secara  berbeda oleh masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan praktik itu terus-menerus  terjadi. Itulah sebabnya, kejumudan rentan terjadi. Dan jika kejumudan  itu datang, perlu ada koreksi dan transformasi. Di sanalah momentum itu  datang. Artinya, agama memerlukan pembaharuan, &lt;em&gt;tajdid, &lt;/em&gt;koreksi, transformasi. &lt;em&gt;Tajdid &lt;/em&gt;adalah sebuah kemestian. Ia memainkan peran untuk purifikasi (pemurnian), maupun liberasi (pembebasan).&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Agama  saja bisa jumud, apalagi kita. Maka, untuk melawannya, kita perlu dua  macam senjata. Senjata pertama adalah koreksi. Dan senjata kedua adalah  transformasi. Dua senjata tersebut memerlukan kesadaran sebagai bekal.  Tanpa kesadaran, kita akan jatuh pada lubang kejumudan, senjata tak  berarti apa-apa, dan bersiaplah: orang akan menggeret kita pada  tendensinya menuju kekuasaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;****&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Hari  ini, kita seperti dilanda kejumudan-kejumudan baru atas nama kekuasaan.  Ketika agama dijadikan alat untuk mendulang suara. Ketika agama  diperalat untuk tuntutan-tuntutan kekuasaan. Ketika agama dijadikan  hanya sekadar aksesori, instrumen, untuk struktur di luar dirinya,  sementara para pemeluknya terkungkung oleh penjara kebodohan,  kemiskinan, penindasan –meminjam Hassan Hanafi.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan sebab  itu, kejumudan itu harus dilawan dengan koreksi dan transformasi.  Pertanyaannya tinggal satu: siapa yang mau melakukan tugas itu?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Manggung, &lt;/em&gt;sebelum shalat Jumat.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/560609633182921938-1167441127380583334?l=ibnulkhattab.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/feeds/1167441127380583334/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=560609633182921938&amp;postID=1167441127380583334' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/1167441127380583334'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/1167441127380583334'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/2011/10/jumud.html' title='&quot;Jumud&quot;'/><author><name>Ahmad Rizky Mardhatillah Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01386471685667584378</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_cgbKwDZI1UU/SHWFzmBsWcI/AAAAAAAAAB4/HMlwHe3Uw3s/S220/1_617762489l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-560609633182921938.post-8791185441509074446</id><published>2011-10-21T10:57:00.001+08:00</published><updated>2011-10-21T10:58:11.852+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat'/><title type='text'>"Post-"</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Sesuatu yang mapan, akankah tak terkalahkan? Serapi-rapinya sebuah &lt;i&gt;jamaah, jam'iyyah, &lt;/i&gt;perkumpulan,  akankah tak teruntuhkan? Tentu saja tidak. Mitos kebertahanan telah  rapuh. Di setiap masa, akan ada pelbagai koreksi. Sebab, kepastian yang  absolut -dari Allah '&lt;i&gt;Azza wa Jalla&lt;/i&gt;- akan meruntuhkan mereka yang relatif; fana.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;*****&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Selama  bertahun-tahun belakangan ini, kita disajikan oleh berbagai varian  pemikiran baru yang awalnya menggunakan kata “post-“. Postmodernisme,  poststrukturalisme, postkolonialisme, post-tradisionalisme, dan lain  sebagainya. Dalam rentangan pemikiran yang sudah mapan, ia tiba-tiba  menghadirkan diri, ingin membongkar dan mengubah semuanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Istilah  Post- mungkin saja masih tak tuntas kita perdebatan apa maknanya. Tapi  yang jelas, ia kini menjadi sebuah penanda basis pemikiran baru;  jejaring filsafat baru yang tentu saja tak sederhana. “Post-“ menjadi  begitu populer, terlebih ketika teori modernisme, hari ini, sedang  berada di titik kritisnya yang akut dalam peradaban manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;“Post-“  menghadirkan jalinan makna yang rumit, kompleks. Ia jelas bukan sekadar  penanda waktu, yang mengatakan bahwa era “modernisme”,  “strukturalisme”, “marxisme”, dan lain sebagainya itu sudah hampir usai.  Tidak, tidak sedemikian mudahnya kita menafsirkan kata itu. “Post-“  juga bukan sekadar berarti “zaman baru”, karena konsekuensinya kita  harus memberikan makna zaman apakah yang muncul “setelah” zaman baru  itu. “&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Post-“ jauh lebih rumit dari itu semua. “Post-“  terentang melampaui pertalian sejarah, ikatan pemikiran, tatanan  kemanusiaan, dan diaspora peradaban. “Post-“ adalah penanda baru  sekaligus lanjutan lama. Ia menautkan masa lalu, kini, dan masa depan,  dalam terminologi baru. Ia mungkin “barang lama”, tetapi dengan nafas  yang baru.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;*****&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Sejarah manusia  sesungguhnya diawali dengan koreksi. Jika anda mempercayai perspektif  konflik, maka perubahan-perubahan sosial yang diimplikasikan oleh  konflik itu sesungguhnya adalah koreksi. Baik yang sifatnya total  –totalitas— maupun yang parsial. Tidak ada yang tak berubah –mungkin—  kecuali perubahan itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Ibnu Khaldun, Toynbee,  memperingatkan itu. Hegel juga sama. Apalagi Marx. &amp;nbsp;Mungkin hanya  Fukuyama yang aneh –ia percaya pada manifestasi “roh absolut” pada  sejarah— pilihan koreksi itu setidaknya mesti diambil oleh peradaban  manusia. Tak ada yang tetap, unilinear, semuanya dinamis. Berubah,  progresif, menuju relung perubahannya sendiri. Apakah ia siklis; atau  progresif, ini yang jadi perdebatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Koreksi-koreksi itu  selalu hadir dalam berbagai wujudnya. Ia muncul dalam wujud gerakan  protes, komunitas intelektual yang progresif (seperti &lt;i&gt;Ikhwan-ash-shafa&lt;/i&gt;),  gerakan petani, pemberontakan buruh, revolusi kelas menengah, kudeta,  dan lain sebagainya. Ia membentangkan berbagai pilihan: &amp;nbsp;terkoreksi dari  eksternal, karena mekanisme kritik-diri itu tidak berjalan, atau  oligarki di tingkatan pucuk pimpinan itu terkalahkan oleh semangat  mereka yang terpinggirkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Terkoreksi dari luar, berarti  membiarkan kekuatan luar masuk ke dalam dirinya, menguasai kekuatannya.  Dan artinya, terkuasai oleh kekuatan dari luar. Ekspansi. Penguasaan  dari kelompok luar adalah bentuk koreksi. Sejarah pernah mencatat ini  dalam relik-relik Baghdad, Troya, Dravida, atau Cordova.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Penguasaan adalah &lt;i&gt;cost of war &lt;/i&gt;–meminjam Waltz— terpapar dari kekalahan pasukan militer atas &lt;i&gt;orang-orang lain. &lt;/i&gt;Tapi  ia juga bisa menjadi lambang kelemahan. Ciri keruntuhan sebuah rezim.  Ini sudah diperingatkan Ibnu Khaldun sebelumnya. Sebuah peradaban yang  besar, melemah, akan menemui ajalnya di kekuatan luar karena  kelemahannya. Romawi Barat kalah dan hancur karena kelemahan, korupsi di  dalam dirinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Penjaga-penjaga istana kalah tangguh oleh orang-orang &lt;i&gt;Goth &lt;/i&gt;yang menyerang dari lembah dan gunung di Jerman, menaklukkan Italia, lalu Roma. Orang-orang &lt;i&gt;Hun, &lt;/i&gt;yang berlari dengan kuda dari padang rumput Asia Tengah, mengalahkan orang-orang &lt;i&gt;Gaul&lt;/i&gt;&lt;i&gt;, &lt;/i&gt;lalu menaklukkan kekuatan Romawi di perbatasan Perancis-Spanyol-Italia. Itulah cermin penguasaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Atau,  ketika kekuasaan jatuh oleh kekuatan dari dalam kekuasaan itu sendiri.  Tak perlu kekuatan militer bersenjata untuk merapuhkan kekuasaan itu.  Tak perlu ekspansi atau serangan dari luar. Tapi, terkoreksi dari dalam  diri. Itulah masa ketika terjadi &lt;i&gt;revolusi; &lt;/i&gt;perubahan.  Pembangkitnya terletak pada amarah rakyat. Ketika kekuasaan gagal  memenuhi kehendak mereka, atau justru merepresi gejolak itu –karena  korupnya— bersiaplah: kekuasaan akan jatuh, dan kekuatan massa menang!&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Kronik-kronik  semacam itu tergambar di Damaskus, Demak, Moskwa, Paris, atau Tokyo. Di  abad yang lebih kontemporer, kita menemui hal-hal serupa di Kairo,  Jakarta, Tunis, atau Manila. Kronik akan revolusi dari sebuah gerakan  rakyat. Yang walau tak seromantis sejarah sebelumnya, menyiratkan sebuah  asa tentang perlawanan: bahwa perlawanan itu masih mungkin, bahkan  dalam sistem, organisasi yang begitu rapat tertutup sekalipun.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;*****&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Koreksi berada di penghujung fase-fase sejarah. Dan koreksi itu adalah &lt;i&gt;Post. &lt;/i&gt;Ya,  post- adalah simbol koreksi atas sejarah yang terlampau hegemonik,  tidak membawa kecerahan, tergelapkan. Post- &amp;nbsp;terjadi hampir pada semua  hal. Sejarah yang gelap itu, cepat atau lambat, pasti akan terkoreksi.  Dengan susah payah atau dengan mudah. Dengan bayaran cucuran keringat  dan darah, serta pembataian, atau perdamaian sama-sekali.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Yang masih kita perbincangkan adalah caranya: apakah harus cepat atau lambat? Menyeluruh atau parsial? Reformasi, revisi, atau &lt;i&gt;sekadar &lt;/i&gt;reformasi? Apakah melibatkan segenap kekuatan rakyat atau cukup elit intelektual kelas-menengah?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Tapi  post- mengejawantahkan dirinya dengan cepat: Ia mengubah fase sejarah  itu tanpa ada dusta sama sekali, kapan pun ia menampilkan diri ke dunia  ini. Dan Post- memainkannya dengan begitu cantik, rapi: dengan permainan  intelektual. Dengan pembongkaran, &lt;i&gt;differance &lt;/i&gt;–kata Derrida— dengan revisi yang radikal –tak sekadar kompromi politik— Post- menghadirkan dirinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Post-  hadir ketika Marxisme menghadapi hegemoni Leninisme dan Stalinisme,  coba direvisi oleh Trotsky –walau akhirnya ia gagal dengan &lt;i&gt;Internationale Keempat&lt;/i&gt;nya—  namun langkah-langkah itu diteruskan kawan seperjuangannya. Dan  lahirlah Post-Marxisme, sebagai sebuah ruang baru dialektika tak  berkesudahan. Ia boleh dibilang &lt;i&gt;bid’ah, &lt;/i&gt;bagi fanatik Marxisme  dalam tubuh Partai Komunis, tapi ia tetap ada, mempertahankan fondasi  dasar Marxisme dalam ontologi pemikiran khas.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Post- hadir  ketika Islam menghadapi hegemoni sufisme yang begitu kuat –pada masanya.  Hadir Al-Ghazali, menawarkan pencerahannya dalam dunia &lt;i&gt;tasawuf, &lt;/i&gt;melakukan koreksi, tapi tak menghilangkan jati diri &lt;i&gt;tasawuf &lt;/i&gt;itu sendiri. &lt;i&gt;Tasawuf &lt;/i&gt;tetap mencerahkan, tetapi ia kini rasional dan&amp;nbsp; berpadu-padan dengan hukum&lt;i&gt;. &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan itulah yang kini dikenal saudara-saudara kaum &lt;i&gt;Nahdhiyyin &lt;/i&gt;dengan trilogi Aswaja: &lt;i&gt;tauhid-&lt;/i&gt;nya Asy’ari, &lt;i&gt;fiqh-&lt;/i&gt;nya Syafi’i, &lt;i&gt;tasawuf&lt;/i&gt;-nya  seperti Jalan Junaid Al-Baghdadi dengan penyempurnaan Al-Ghazali.  Aswaja lahir dari sebuah proses koreksi demi koreksi Post- demi Post-.  Dan ini yang hasilnya kita amalkan dari sekarang: didapat dari pertautan  sejarah yang tak mudah antara berbagai buah pikir.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Ketika  kekuatan politik Islam menghadapi titik terlemahnya, Islam berada di  bawah bayang-bayang modernisasi Barat, tiba-tiba muncul Al-Afghani,  Abduh, dan Ridha, juga melakukan koreksi; perubahan, atas pola-pikir  yang begitu jumud, kaku. Lahirlah pembaharuan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Di Indonesia, praksisnya menyimbolkan makna &lt;i&gt;tajdid, &lt;/i&gt;sebuah gerak meretas zaman &amp;nbsp;yang tak henti melalui praksis-praksis pembebasan umat, pencerahan, kemanusiaan. &lt;i&gt;Tajdid &lt;/i&gt;adalah koreksi; ia adalah koreksi atas praksis yang tak bersesuaian dengan kondisi umat, yang &lt;i&gt;jumud, kaku, &lt;/i&gt;tak siap menghadapi perubahan. Dan dari rahim koreksi itulah, lahir Muhammadiyah.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Itulah koreksi, sebuah perjalanan sejarah yang panjang, tak henti, dan terus mendinamisasi diri. Sebuah identitas &lt;i&gt;Post-&lt;/i&gt; . Dan di sinilah identitas itu dipertaruhkan: Siapkah kita jika koreksi itu datang, dunia menghadapi &lt;i&gt;Post- &lt;/i&gt;nya masing-masing yang tak sederhana, menghampiri secara tiba-tiba, tanpa kita bisa bersiap atas perubahan yang baru datang itu?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;*****&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Post-  adalah keniscayaan. Ketika teori modernisme sudah berada di titik  kritisnya yang akut, ia akan bergeser, sedikit demi sedikit, menjadi  postmodernisme. Aras filsafatnya sudah ditentukan. Basis  epistemologisnya telah diteguhkan. Kini, pertanyaan yang tak kunjung  bisa dijawab: apakah itu sudah cukup kuat untuk menggantikan?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Setiap  lembaga, organisasi yang ada di dunia ini, mesti mengalami koreksi,  sampai pada titik Post-. Ketika sebuah organisasi besar, kecenderungan  terbelah ke dalam faksi-faksi itu semakin besar pula, maka bersiaplah  menuju titik Post- itu. Jika kekuasaan yang absolut itu semakin terasa  menindas, maka hati-hatilah. Mungkin yang “&lt;i&gt;Post- &lt;/i&gt;“ itu kini sudah hadir di antara kita, siap melakukan tugas sejarahnya: mengoreksi.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Koreksi  pasti ada dalam setiap lembaga ideologis. Hanya saja, pilihan-pilihan  itu masih diambangkan: apakah ingin revisionistik, reformis, ataupun  sekalian revolusioner. Ini dibebankan pada anak-anak muda, yang  terpinggirkan, yang tak punya beban sejarah untuk ditudingkan. Koreksi  itu ada di tangan anak-anak muda. Dan lagi-lagi kita ditanya: apakah  cukup kuat untuk menggantikan?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Jika anak mudanya hanya  gemar berselingkuh dengan kekuasaan alih-alih menjaga diagram alir  intelektualisme agar tak putus di tengah jalan, lebih gemar menghamba  pada keran-keran sumber kekayaan dan kekuasaan agar tak kehausan, dan  lebih suka berpraksis daripada berpikir, tak salah jika &lt;i&gt;status-quo &lt;/i&gt;itu masih tetap tertawa. Sebab, anak mudanya masih bisa diperalat, demi kekuasaan mereka yang tak seberapa itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan  koreksi itu lahir dari pinggiran. Sedikit-demi-sedikit ia membesar,  memberi kesempatan masuk ke tengah. Dan di sanalah muncul kemarahan.  Yang biasa di-tengah tak akan marah pada penindasan. Ia akan marah jika  kekuasaannya diambil. Tapi yang berada di pinggiran, ditindas dan  dipinggirkan sekian lama, akan meledak emosinya ketika bersentuhan  dengan yang-di-tengah. Dan bersiaplah, mungkin koreksi itu tak akan lama  lagi hadir di tengah-tengah kita.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Karena koreksi rakyat  selalu datang dari pinggir jalan, bukan dari tengah-tengah kekuasaan,  maka ingatlah: hormati kaum pinggiran. Jika itu datang dari pusat  kekuasaan, yakinlah, itu bukan suara rakyat, melainkan hanya kompromi  politik untuk membagi-bagi kekuasaan. Dan nantinya, rakyat masih akan  terus ditindas, tanpa mendapatkan apa-apa.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Post- datang  dari pinggiran. Ia merangsek yang mapan, mendekonstruksinya,  menjadikannya tak bermakna. Dan Post- adalah sebuah kemestian sejarah.  Kapanpun ia siap, ia pasti datang untuk melakukannya. Dan kita  bertanya-tanya: Sudahkah kita mempersiapkan diri untuk itu?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;******&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Di  hadapan masyarakat kita terbentang sebuah pilihan: Apakah ingin  mengoreksi diri sendiri, melalui transformasi, ataukah ingin dikoreksi  orang lain, yang mengubahnya secara cepat, drastis, total, melalui  revolusi. Sesungguhnya pilihan-pilihan itu sudah diberikan oleh Allah -&lt;i&gt;Sang Maha Berkehendak&lt;/i&gt;;&amp;nbsp; pada kita. Tanda-tandanya sudah jelas. Persoalannya sederhana: &lt;i&gt;Afalaa tatafakkaruun?&amp;nbsp;&lt;/i&gt; Mengapa kita tidak berpikir&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Nashrun Minallah wa Fathun Qariib.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Wa basy-syiril mu’miniin.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Manggung, masih berjuang melawan sakit cacar.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/560609633182921938-8791185441509074446?l=ibnulkhattab.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/feeds/8791185441509074446/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=560609633182921938&amp;postID=8791185441509074446' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/8791185441509074446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/560609633182921938/posts/default/8791185441509074446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnulkhattab.blogspot.com/2011/10/post.html' title='&quot;Post-&quot;'/><author><name>Ahmad Rizky Mardhatillah Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01386471685667584378</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_cgbKwDZI1UU/SHWFzmBsWcI/AAAAAAAAAB4/HMlwHe3Uw3s/S220/1_617762489l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-560609633182921938.post-106367456657037726</id><published>2011-10-21T10:45:00.002+08:00</published><updated>2011-10-21T10:45:56.823+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keislaman'/><title type='text'>Tarbiyah Persilangan (Catatan Orang Pinggiran)</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Seseorang yang mengecap &lt;em&gt;dakwah tarbiyah &lt;/em&gt;biasanya akan menemui dua pilihan yang sebenarnya susah: tereksklusi dari &lt;em&gt;habitus &lt;/em&gt;awal&lt;em&gt; &lt;/em&gt;tempat ia mengenyam ilmu agama dulu, lantas memilih untuk sama-sekali keluar dari &lt;em&gt;habitus-&lt;/em&gt;nya itu, segera berganti ke &lt;em&gt;habitus tarbiyah &lt;/em&gt;yang penuh kompleksitas.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Atau mungkin ia justru menghampiri &lt;em&gt;tarbiyah-&lt;/em&gt;nya dengan pendekatan yang telah lama ia gunakan, ia terima dari &lt;em&gt;habitus &lt;/em&gt;tempat ia menuntut ilmu agama dulu, sehingga menyebabkan munculnya keterpaduan yang tidak sederhana; antara doktrin-doktrin &lt;em&gt;harakah &lt;/em&gt;yang mengikat, dengan wawasan kultural yang dipersembahkan habitus yang lama ia tempati dulu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;****&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Benturan itu akan terjadi manakala seorang warga &lt;em&gt;Nahdhiyyin &lt;/em&gt;atau &lt;em&gt;Muhammadiyin &lt;/em&gt;–yang notabene punya akar kebudayaan yang kuat dalam khasanah Islam Nusantara— berkenalan dengan komunitas bernama &lt;em&gt;Tarbiyah. &lt;/em&gt;Ia bisa berkenalan dari sekolahnya, dari kampusnya, atau dari interaksi dan persinggungan lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Sebagai &lt;em&gt;jamaah &lt;/em&gt;yang tiba-tiba hadir dan memperkenalkan dirinya dalam seting budaya Islam Indonesia, mengadopsi konsep ideologi &lt;em&gt;Al-Ikhwanul Muslimin &lt;/em&gt;dari Mesir, serta memanfaatkan instrumen yang sifatnya transnasionalistik untuk menyebarkan dakwahnya, &lt;em&gt;Tarbiyah &lt;/em&gt;menjadi sebuah &lt;em&gt;habitus &lt;/em&gt;baru bagi anak-anak muda kelas menengah yang biasanya masih dalam taraf pencarian identitas; belajar.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Tarbiyah, &lt;/em&gt;tak bisa dipungkiri, dibangun di atas fondasi &lt;em&gt;doktrin. &lt;/em&gt;Ia disebarkan melalui sel-sel kaderisasi bernama &lt;em&gt;halaqah; liqo’at. &lt;/em&gt;Sel-sel kaderisasi tersebut kemudian membentuk sebuah &lt;em&gt;frame &lt;/em&gt;pemahaman kader yang homogen. Geraknya struktural. Sistem &lt;em&gt;tanzhim &lt;/em&gt;yang  rapi, rapat menyebabkan pola perkaderannya cukup militeristik.  Akhirnya, budaya yang dibentuk juga khas; berpatokan pada integralitas  antara komunitas dengan sistem-perintah (komunitas adalah partai, partai  adalah komunitas).&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Kendati bergerak pada sistem instruksional, &lt;em&gt;ukhuwah &lt;/em&gt;di  antara kadernya tetap dijaga melalui sebuah kerangka pemahaman yang  agak sufistik. Jadi, fondasi soliditasnya kuat karena dijaga tidak hanya  melalui mekanisme perkaderan yang ketat, tetapi juga asupan &lt;em&gt;ruhaniyah &lt;/em&gt;yang mendalam. &lt;em&gt;Tasawuf &lt;/em&gt;dalam pemaknaan &lt;em&gt;Tarbiyah &lt;/em&gt;adalah &lt;em&gt;tazkiyatun-nafs; &lt;/em&gt;penyucian diri. Ini yang menyebabkan adanya keseimbangan (&lt;em&gt;tawazun&lt;/em&gt;) antara gerak sosial dan penyucian individual.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Di  sisi lain, kelompok yang menggunakan basis kultural justru menampilkan  pembentukan budaya yang berbeda. Kita bisa melihat, katakanlah, pada NU  atau Muhammadiyah. Komunitas &lt;em&gt;nahdhiyyin&lt;/em&gt;, misalnya, melihat apa  yang disebut “tetapan” (doktrin) tidak pada kerangka struktural, tapi  kultural. Fondasinya bertitik tolak dari &lt;em&gt;kyai&lt;/em&gt;. Apa yang disebut &lt;em&gt;Kyai &lt;/em&gt;menjadi sesuatu yang harus diterima.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Tapi penjelasannya bukan karena keharusan “taat” sebagaimana lazim dipahami kaum &lt;em&gt;haraki, &lt;/em&gt;tetapi karena adanya penghormatan pada &lt;em&gt;kyai, &lt;/em&gt;sebagai &lt;em&gt;among &lt;/em&gt;dari  santri-santri, yang dihormati karena keluasan ilmu dan keluwesannya  dalam memahami persoalan. Kyai bukanlah sebuah predikat “struktur”. Ia  adalah cermin &lt;em&gt;maqam &lt;/em&gt;seseorang yang sudah mencapai puncaknya, dan memiliki kewajiban &lt;em&gt;kultural &lt;/em&gt;untuk mengemong santri-santrinya di pesantren. Dan relasi santri-kyai berarti sebuah relasi kultural, bukan perintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Kelompok yang lahir dari modernitas, seperti &lt;em&gt;Muhammadiyah, &lt;/em&gt;punya kerangka pikir lain lagi. Bagi &lt;em&gt;Muhammadiyah, &lt;/em&gt;doktrin  itu ialah tetapan-tetapan yang sebenarnya berasal dari Allah dan  Rasul-Nya. Di luar dari itu, perlu dilakukan penelaahan. Pendapat &lt;em&gt;kyai &lt;/em&gt;mesti dirujuk ke Al-Qur’an dan Sunnah, tidak mesti ditaati sepenuhnya. Ini persoalan pada siapa pemilik kebenaran itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Relasi  sosial yang dikonstruksi Muhammadiyah kemudian lebih berlandaskan  semangat menuntut ilmu. Makanya, di awal-awal kemunculannya, KH Ahmad  Dahlan berfokus pada pendirian sekolah untuk semua kalangan. Mungkin  dipengaruhi oleh persinggungannya dengan pemikiran Abduh dan  perguruannya dengan Chatib Minangkabau di Mekkah. Semangat ini membuat  agama yang tadinya dogmatis, tertutup, dipenuhi oleh mistisisme  sufistik, menjadi rasional, mencerahkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Semangat menuntut ilmu ini kemudian membuat relasi &lt;em&gt;santri-kyai &lt;/em&gt;yang  dipahami karismatis, diruntuhkan menjadi kritisisme. Implikasinya  adalah egaliterisme. Semua orang punya posisi yang sejajar. Di  pengajian-pengajian Muhammadiyah, tanya-jawab adalah menu yang harus  dihadirkan. Adalah lazim kita dapati tanya-jawab menjadi ajang  saling-mengoreksi; Ketika ada hal-hal yang tak lazim keluar dari  penceramah, jamaah tak segan mempertanyakan, mengklarifikasi, atau  bahkan –dalam beberapa kasus— mengoreksinya dengan sandaran Al-Qur’an  dan Hadits.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Ini menunjukkan, ada &lt;em&gt;habitus &lt;/em&gt;yang berbeda yang tersaji di antara &lt;em&gt;harakah &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;organisasi &lt;/em&gt;yang sudah muncul dan mengakarkan diri sejak lama. &lt;em&gt;Tarbiyah &lt;/em&gt;yang  datang secara tiba-tiba, menempatkan diri dalam panggung budaya dan  politik Indonesia, akan secara alamiah mengalami pergesekan karena  persoalan siapa yang menjadi kader.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Pergesekan ini sudah  terbukti di Yogyakarta, sejak 2004 silam, bahkan ketegangannya tak jua  pudar hingga sekarang. Yogyakarta adalah kampung halaman Muhammadiyah,  tak dapat dipungkiri. Pemicu konflik dari dua kubu yang sebenarnya  berakar dari agama yang sama ini sebetulnya sepele: politik klaim dan  tarik-ulur kader.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Berdasarkan sumber yang saya dapatkan, ketegangan &lt;em&gt;Muhammadiyah &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;Tarbiyah &lt;/em&gt;ini  bermula dari selebaran kampanye PKS yang mengikutsertakan beberapa  tokoh Muhammadiyah, yang secara kultural sangat disegani. Wajar jika  kemudian Muhammadiyah merespons. Hal ini diperparah dengan ke-mendua-an  elite PKS yang setengah-hati mendukung Amien Rais sebagai calon Presiden   RI, mungkin karena manuver satu-dua elite mendukung Wiranto.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Akhirnya,  implikasinya panjang dan runyam; Muhammadiyah membentengi-diri; NU  terpanasi, dan akhirnya juga menempuh langkah serupa, membentengi  kadernya dari ekspansi ideologi yang mereka sebut &lt;em&gt;trans-nasional. &lt;/em&gt;Hal ini kemudian memunculkan dilema yang tak berkesudahan dari mereka yang sempat lama terbentuk di &lt;em&gt;habitus nahdhiyyin &lt;/em&gt;atau &lt;em&gt;muhammadiyin; &lt;/em&gt;ke mana mereka akan menggantungkan kesetiaan?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;****&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Lazimnya, ketika seseorang berkenalan, lantas bersentuhan dengan &lt;em&gt;Tarbiyah &lt;/em&gt;dengan segala perangkat ideologi-nya, ia akan terpesona (jika memang cocok), dan segera meninggalkan &lt;em&gt;habitus &lt;/em&gt;lama-nya itu; beralih pada &lt;em&gt;habitus&lt;/em&gt; yang sama-sekali baru, sebagai bagian dari proses pencarian jati-diri, lantas mengolah identitasnya dengan ke-&lt;em&gt;tarbiyah-&lt;/em&gt;an itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Tetapi, tidak semuanya seperti itu. Mereka yang besar di kalangan &lt;em&gt;Muhammadiyin &lt;/em&gt;atau &lt;em&gt;nahdhiyyin &lt;/em&gt;dalam  kurun waktu yang tidak singkat, telah “terbudayakan” dalam interaksi  dan pergaulannya yang dalam, serta mengidentifikasikan &lt;em&gt;habitus-&lt;/em&gt;nya pada organisasi mapan itu, barangkali akan mengalami dilema dan kegalauannya sendiri dalam bersikap.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Tarbiyah &lt;/em&gt;menawarkan doktrin-doktrin baru yang harus diterima dan ditaati oleh setiap kadernya, difasilitasi oleh forum-forum &lt;em&gt;halaqah. &lt;/em&gt;Tentu saja, tidak semua akan langsung menerimanya. Mereka yang berasal dari &lt;em&gt;habitus &lt;/em&gt;Muhammadiyah,  secara refleks mungkin akan mempertanyakannya; Apakah ini memang  dituntunkan? Sudahkah dirasionalisasi Apakah legitimasinya sah dalam  perspektif Qur’an dan Sunnah? Atau, apakah memang bermuatan kepentingan  tertentu?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Mereka yang besar di lingkungan &lt;em&gt;Muhammadiyah &lt;/em&gt;kemudian  bertendensi kritis. Ketika di-instruksikan untuk membela Partai Politik  tertentu, sementara Parpol itu dalam benaknya banyak melakukan  kealpaan, dalam akal-sehat publik tidak bisa diterima, dan berorientasi  kepentingan, haruskah partai itu dibela secara membabi-buta? &lt;em&gt;Habitus &lt;/em&gt;awal-nya  mungkin akan berteriak. Bisa jadi, ia akan bersikap kritis,  mempertanyakan instruksi itu. Dan mungkin beragam instruksi lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Implikasi yang lazim diterima, mereka yang ber-&lt;em&gt;habitus &lt;/em&gt;seperti ini mungkin akan di-eksklusi dari komunitas bernama &lt;em&gt;Tarbiyah &lt;/em&gt;itu; dianggap kader &lt;em&gt;bandel, ngeyel, &lt;/em&gt;dan lain sebagainya. Padahal yang ia lakukan adalah buah dari &lt;em&gt;habitus &lt;/em&gt;yang dulu membentuknya, yang mungkin bersilangan dengan &lt;em&gt;habitus &lt;/em&gt;Tarbiyah yang kini dihuninya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Mereka yang ber-&lt;em&gt;habitus Nahdhiyyin &lt;/em&gt;mungkin akan punya dilema yang berbeda. Ketaatan dinisbatkan pada &lt;em&gt;kyai, &lt;/em&gt;atas dasar relasi yang sifatnya kultural-keagamaan, bukan hierarkis-struktural. Dalam kultur &lt;em&gt;Nahdhiyyin, &lt;/em&gt;ketaatan adalah wujud penghargaan atas tingginya &lt;em&gt;maqam &lt;/em&gt;seseorang, yang menyebabkan seorang &lt;em&gt;santri &lt;/em&gt;harus menghormati &lt;em&gt;kyai-&lt;/em&gt;nya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Namun, ketika disuguhi doktrin, yang mungkin akan berlawanan dengan &lt;em&gt;kitab-kuning &lt;/em&gt;yang ia baca tiap habis subuh dari &lt;em&gt;kyai-&lt;/em&gt;nya, apakah ini serta-merta akan dilakukan? Tentu saja, problema muncul pada “siapa” yang kemudian memberikan instruksi ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Qiyadah &lt;/em&gt;berbeda posisi dan fungsinya dengan &lt;em&gt;Kyai. &lt;/em&gt;Pemimpin tidak harus ditaati karena memang posisinya mengatakan demikian, tetapi &lt;em&gt;Kyai &lt;/em&gt;punya  otoritas itu dengan legitimasi kultural-keilmuan yang ia miliki. Di  sini, mungkin ia akan berontak, dan senasib dengan kasus pertama di  atas, akan mulai mempertanyakan. Tradisi-tradisi yang dianggap baru akan  disanding dengan &lt;em&gt;kitab-kitab &lt;/em&gt;dan tradisi lama. Doktrin mungkin  juga akan ditolak karena menyerimpungi pemahaman lama yang sudah kadung  menjadi sesuatu yang “baku”.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Keduanya mungkin akan mengalami &lt;em&gt;kegalauan &lt;/em&gt;sendiri-sendiri; konflik-batin. Mereka yang &lt;em&gt;habitus &lt;/em&gt;lama-nya hilang, lantas berubah sama sekali menjadi &lt;em&gt;Tarbiyah, &lt;/em&gt;mungkin tidak akan dilanda kegalauan ini. Sebab, ia telah meng-inklusikan dirinya ke dalam sistem &lt;em&gt;jamaah, &lt;/em&gt;yang mungkin diterimanya sebagai keharusan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Tapi, tidak dengan yang punya konstruk pemahaman berbeda. Keberbedaan menjadi dalih eksklusi, karena dinilai tidak satu &lt;em&gt;frame. &lt;/em&gt;Atau,  dengan susah-payah mungkin akan diubah, walau harus dengan menggeretnya  lewat relasi-kuasa atas pikiran, dan akhirnya akan menyebabkan  dialektika itu tak lagi hidup; mematikan keberpikiran, yang selama ini  menjadi ikon Islam (&lt;em&gt;Iqra’&lt;/em&gt;).&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Lantas, apakah memang tak ada kesempatan untuk melahirkan perspektif yang jamak, tidak tunggal, dalam memaknai doktrin &lt;em&gt;Tarbiyah&lt;/em&gt;? Tak adakah jalan lain selain pilihan diametral &lt;em&gt;inklusi &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;eksklusi, &lt;/em&gt;atas doktrin-doktrin itu?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;*****&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Kesempatan  itu sebetulnya selalu ada, selalu terbuka. Pilihan ketiga, keempat, dan  kelima, dan seterusnya itu tak pernah tertutup. Dan ini pasti akan  terjadi dengan segala kemungkinannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Tak semua anggota &lt;em&gt;Tarbiyah &lt;/em&gt;yang berasal dari &lt;em&gt;habitus &lt;/em&gt;berbeda itu harus menjalani pilihan &lt;em&gt;inklusi &lt;/em&gt;dan eksklusi secara diametral. Kemungkinan untuk melihat adanya perkawinan, percampuran antara &lt;em&gt;habitus Nahdhiyyin &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;Muhammadiyin &lt;/em&gt;dengan &lt;em&gt;harakah tarbiyah, &lt;/em&gt;masih ada.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Mereka yang punya &lt;em&gt;habitus &lt;/em&gt;Muhammadiyah, misalnya, mungkin akan menerima &lt;em&gt;Tarbiyah &lt;/em&gt;dalam sudut pandang berbeda. Konsepsi &lt;em&gt;Jamaah &lt;/em&gt;mungkin akan diterjemahkannya sebagai &lt;em&gt;masyarakat&lt;/em&gt;, karena sesuai Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup yang dari dulu diamalkannya, hidup manusia itu &lt;em&gt;bermasyarakat, &lt;/em&gt;yang mengimplikasikannya terlibat dan terjun dalam aktivitas-aktivitas kemasyarakatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Doktrin soal &lt;em&gt;Qiyadah wal Jundiyah&lt;/em&gt;, misalnya,&lt;em&gt; &lt;/em&gt;mungkin tidak dimaknainya dalam kerangka  berpikir militeristik-strukturalistik sebagaimana dipahami orang-orang &lt;em&gt;Tarbiyah &lt;/em&gt;pada umumnya, tetapi adalah relasi soal “&lt;em&gt;Bapak&lt;/em&gt;”&lt;em&gt; &lt;/em&gt;dan “&lt;em&gt;Anak&lt;/em&gt;”&lt;em&gt;. &lt;/em&gt;Instruksi dipahami sebagai &lt;em&gt;nasihat, &lt;/em&gt;sesuatu yang mungkin baik bagi sang “&lt;em&gt;Bapak&lt;/em&gt;” tetapi tidak serta-merta diterapkan oleh sang “anak”, tetapi itu mungkin baik, dan dipertimbangkan sebagai sebuah kebaikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan  doktrin-doktrin itu sendiri mungkin akan bernasib sama: harus  menghadapi filtrasi rasional-tekstual sebelum menjadi sebuah tetapan.  Akhirnya yang namanya doktrin berubah menjadi pengetahuan, ideologi  menjadi ontologi, ketaatan menjadi wawasan, instruksi menjadi nasihat.  Sebab, &lt;em&gt;Tarbiyah &lt;/em&gt;tidak lagi hanya dimaknai “kaku”, melainkan dinamis, karena berjalin dengan rasionalitas di dalamnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Ketika &lt;em&gt;hizb &lt;/em&gt;yang didirikan &lt;em&gt;jamaah&lt;/em&gt;-nya  melakukan sebuah kesalahan, keanehan, atau manuver politik yang terlalu  “laju”, mungkin ia berada di garda terdepan untuk mengkritisinya.  Karena baginya, &lt;em&gt;amar ma’ruf nahyi munkar &lt;/em&gt;itu nomor satu. Yang salah tak mungkin jadi benar hanya karena itu adalah &lt;em&gt;jamaah &lt;/em&gt;yang  menaunginya. Lagi-lagi, ia mengamalkan Matan Keyakinan dan Cita-Cita  Hidup yang dulu pernah diterimanya sebagai pelajaran. Walau mungkin akan  bersinggungan dengan &lt;em&gt;mainstream &lt;/em&gt;kawan-kawannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Tapi ia tetap &lt;em&gt;tarbiyah, &lt;/em&gt;dengan segala ke-&lt;em&gt;kritis-&lt;/em&gt;an dan ke-&lt;em&gt;bandel-&lt;/em&gt;annya. Ia masih mengikuti forum &lt;em&gt;halaqah, &lt;/em&gt;walau harus menggunakan berjuta volt daya kritisnya untuk mencerna apa yang disampaikan &lt;em&gt;murabbi. &lt;/em&gt;Walau ia harus berganti-ganti &lt;em&gt;murabbi, &lt;/em&gt;karena tidak semua &lt;em&gt;murabbi &lt;/em&gt;mengerti gejolak batin-pemikiran-ideologi yang ia derita selama ini. Ia tetap &lt;em&gt;tarbiyah, &lt;/em&gt;mendakwahkan nilai-nilai &lt;em&gt;Tarbiyah &lt;/em&gt;di lingkungannya, dan aktif dalam agenda-agenda &lt;em&gt;jamaah.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Mungkin, mereka yang ber-&lt;em&gt;habitus nahdhiyyin &lt;/em&gt;akan berpikir lain lagi; berbeda. Kegemeraannya membaca &lt;em&gt;kitab kuning &lt;/em&gt;mungkin akan menyebabkan &lt;em&gt;kitab-kitab harakah &lt;/em&gt;itu menjadi judul-judul kitab kuning baru. Pemikiran Hasan Al-Banna, Sayyid Quthb, dan lain-lain adalah &lt;em&gt;format baru &lt;/em&gt;kitab kuning, yang walau tidak sekompleks pemikiran ulama-ulama klasik, tetap tidak mengurangi kenyamanan dan kekhusyukan kaum &lt;em&gt;santri &lt;/em&gt;itu pada aktivitas keagamaannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Ber-&lt;em&gt;tarbiyah &lt;/em&gt;tidak lagi menjadi aktualisas organisasional; komunal. Ia adalah aktivitas pembelajaran. Bagi kaum &lt;em&gt;Nahdhiyyin, &lt;/em&gt;mungkin &lt;em&gt;Tarbiyah &lt;/em&gt;adalah  model pesantren baru, di mana ia punya teman-teman baru, kitab-kitab  baru, ustadz-ustadz baru, dan lain sebagainya. Bedanya, ia meletakkan  kerangka hubungan dengan para &lt;em&gt;qiyadah &lt;/em&gt;itu dalam kerangka  hubungan kultural; hubungan-hubungan yang tak terjelaskan oleh sekadar  struktur organisasi, melainkan pada karisma.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Bisa jadi ia akan &lt;em&gt;mbalelo &lt;/em&gt;manakala kharisma itu tidak nampak, &lt;em&gt;qiyadah &lt;/em&gt;terasa &lt;em&gt;incapable, &lt;/em&gt;tapi  ia memilih untuk tidak menyuarakan kritik itu keras-keras. Nampak tidak  sopan, mungkin. Tapi ketika ada kekeliruan, ia akan tetap bersandar  pada &lt;em&gt;nuraninya, kitabnya, &lt;/em&gt;pemahaman yang sudah telah lama diyakininya untuk menjalani kehidupan. Ia tidak sekadar ikut-ikutan dalam &lt;em&gt;Tarbiyah, &lt;/em&gt;tidak mampu didoktrin macam-macam, tapi ia mengurai kerangkanya pada lapisan hubungan sosial yang terdalam.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan dengan demikian, mungkin akan tercipta formulasi &lt;em&gt;Tarbiyah &lt;/em&gt;baru, yang semakin menampakkan nafas ke-indonesia-annya. &lt;em&gt;Tarbiyah &lt;/em&gt;yang dimaknai sebagai persatuan antara “Islam” dan “Indonesia”; bukan lagi “eksportase” dari Timur Tengah. &lt;em&gt;Tarbiyah &lt;/em&gt;mengakomodasi &lt;em&gt;habitus &lt;/em&gt;lain di dalam tubuhnya sendiri, menjadikannya berwarna, penuh makna, penuh pluralitas.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Tarbiyah &lt;/em&gt;tidak lagi tunggal, sangar, penuh dengan instruksi dan perintah. Sebab &lt;em&gt;Tarbiyah &lt;/em&gt;adalah  sistem nilai, sistem wawasan. Nilai yang menjaga perilaku diri kita  dari penyimpangan maksiat, yang kadang secara tak sadar kita lakukan  karena hawa nafsu. Sistem wawasan yang memberi kita pengertian mengenai  Islam, cara ber-Islam, dan makna ber-Islam itu secara terbuka, tanpa  harus dimonopoli maknanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan mungkin bisa pula dipahami ketika lantas ia tidak begitu aktif-aktif &lt;em&gt;amat &lt;/em&gt;dalam sekup &lt;em&gt;Jamaah. &lt;/em&gt;Mungkin ia memilih untuk mengabdikan dirinya di Muhammadiyah atau NU, kelak ketika ia hidup bermasyarakat. Tapi &lt;em&gt;Tarbiyah &lt;/em&gt;memberinya wawasan: untuk senantiasan mendakwahkan Islam secara paripurna. &lt;em&gt;Tarbiyah &lt;/em&gt;memberinya dasar etika: untuk memandu cara hidup bermasyarakat yang Islami.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dan embrio &lt;em&gt;tarbiyah hybrid &lt;/em&gt;itu,  saya rasa, telah mulai muncul. Berserak di mana-mana. Berseliweran di  berbagai penjuru. Ada yang di KAMMI. Ada yang di LDK. Ada yang di  komunitas. Dan lain sebagainya. Ke-kritis-an yang tak perlu dihalangi  itu telah menjelmakan &lt;em&gt;Tarbiyah &lt;/em&gt;sebagai sebuah entitas sekaligus  ruang, tempat mengkader sekaligus mengekspresi. Tempat melabuhkan kapal  menuju tujuan yang tak berbeda.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;*****&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Tarbiyah &lt;/em&gt;mengakui keberbedaan. Dan &lt;em&gt;Tarbiyah &lt;/em&gt;mengakui &lt;em&gt;liyan. Liyan &lt;/em&gt;tak harus dimusuhi, karena &lt;em&gt;liyan itulah sejatinya &lt;/em&gt;makna tersembunyi dari sebuah &lt;em&gt;j
